Dari Blogger Hingga Startup

Chip (Indonesia) - - Tren -

sejak 2010, #Startup Lokal masih konsisten menggelar meetup hingga saat ini. Komunitas Startuplokal sendiri adalah salah satu komunitas penggiat startup yang berbasis di Jakarta. Adalah Nuniek Tirtasari salah satu yang ada di balik terus berdetaknya denyut nadi komunitas ini.

Mengumpulkan dan memang diaku Nuniek menjadi nya sejak lama. Kiprah Nuniek dalam komunitas teknologi dimulai pada 2002. Saat itu blogging tengah jadi tren. Maka Nuniek membuat komunitas BlogBugs untuk kumpul-kumpul para blogger yang sudah saling kenal lewat tulisan masing-masing. Komunitas ini menjadi salah satu komunitas blogger pertama dan terbesar di Indonesia.

Tahun 2010, tak banyak perusahaan teknologi pemula yang muncul di Indonesia. “Natali dan kawan-kawan waktu itu sudah bikin Urbanesia. Tapi kita tahu kalau itu namanya ujarnya seraya tersenyum. Istilah ini didapat setelah mereka banyak mendapat referensi dari Amerika Serikat.

Nuniek Tirtasari, Natali Ardianto, Sanny Gadaffi, dan Rama Mamuaya pun lantas berinisiatif untuk mengumpulkan para penggiat startup teknologi. Disebarkanlah niatan kumpul-kumpul ini lewat Twitter. “Waktu itu nyebarin beritanya kita pakai hashtag (#) StartupLokal. Makanya sampai sekarang ada lambang hashtag di depan nama StartupLokal,” terangnya. “Ternyata yang ikutan cukup banyak, terkumpul sekitar 30 orang waktu itu,” kenangnya.

Pembentukan komunitas ini tentu saja sebagai jejaring untuk menimba ilmu, dan berbagi pengalaman para penggiat startup teknologi. Mereka biasanya mengadakan meetup yang diisi dengan materi tertentu. Meetup ini mengundang mentor yang akan berbagi materi dan pengalaman mereka.

Selama enam tahun berjalan, StartupLokal tetap setia menggelar talkshow dan mengembangkan jejaring anggotanya. Sebab, tak jarang juga para penggiat startup meminta saran dan jejaring agar terhubung dengan mentor dan investor yang sekiranya tepat.

Apprentise

“Membuat komunitas baru lebih mudah, dari mempertahankan kegiatan komunitas yang sudah ada,” aku Nuniek. Belajar dari BlogBugs, Nuniek menyadari bahwa perlu ada regenerasi dalam komunitas. “Sehingga ada yang bisa menjalankan fungsi yang kita lakukan ketika kita tidak ada,” jelasnya. Untuk itu, di #StartupLokal, Nuniek menyiapkan tiga orang untuk turut menggerakkan komunitas ini.

Saat ini #StartupLokal digawangi oleh Nuniek, Natali, dan Aulia “Ollie” Halimatussadiah. Setelah Sanny dan Rama tidak lagi turut aktif di komunitas ini. Tiga orang apprentise inilah yang membantu menjaga fungsi dari tiga orang seniornya, seperti dijelaskan Nuniek.

Buka Kesempatan

Mengurus komunitas ini selama enam tahun terakhir, ternyata membuka kesempatan bagi Nuniek. Tahun awal #StartupLokal berdiri, para founder-nya diundang ke Irlandia. Di sana mereka diperkenalkan dengan inkubator startup. Tidak seperti sekarang, saat itu di Indonesia belum ada inisiatif inkubator. Namun di Irlandia, perusahaan teknologi yang dikembangkan bukan sekadar teknologi TI saja, tapi teknologi terapan lainnya.

Perjalanan lainnya ke Amerika Serikat. Menurut Nuniek, satu hal yang dipelajari dari kunjungannya adalah konsep Pentahelix. Konsep ini butuh kolaborasi lintas sektor. Pemerintah sebagai regulator, akademik sebagai konseptor, bisnis sebagai enabler, media sebagai katalisator, komunitas sebagai akselerator, dan publik sebagai consumer.

Menurutnya yang paling berkesan adalah kunjungannya ke Las Vegas. Di negara bagian yang bebas pajak ini, cukup banyak gedung yang disediakan untuk

space. “Kebanyakan disewakan gratis atau dengan harga sewa yang murah sekali bagi startup,” jelasnya.

Pemerintah di sana juga memudahkan proses pembuatan perusahaan. Proses perizinannya hanya dalam hitungan hari. Sebab, pertimbangan pemerintah AS, ketika perusahaan tersebut berkembang juga akan menyumbang GDP negara.

Baru-baru ini, Nuniek kembali mendapat undangan untuk mengenal industri startup teknologi Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan juga antusias dengan perusahaan teknologi di negaranya. Untuk mengembangkan industri ini, pemerintah Korsel menyiapkan tim kehumasan tersendiri. Di mana hal serupa juga dilakukan untuk memajukan industri film, dan hiburan yang sudah lebih dulu meledak.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.