NAPAS MUDA KOTA TUA

MELUNCURKAN SEJUMLAH MUSEUM, GALERI, DAN RUANG KONSER ANYAR, PORTO BERAMBISI MENJADI PUSAT BUDAYA DI TEPI BARAT EROPA. SEMPAT LESU DITERJANG KRISIS, KOTA INI SEKARANG MENULIS LEMBARAN BARU HIDUPNYA DENGAN TINTA YANG KAYA WARNA.

DestinAsian Indonesia - - FEATURES - OLEH CRISTIAN RAHADIANSYAH / FOTO OLEH ULET IFANSASTI ARTWORK OLEH KIKO ARDIANSJAH

Krisis masih membekas, tapi Porto kukuh dalam ikhtiarnya untuk menjadi pusat budaya baru. Di luar semua transformasi itu, magnet klasiknya masih bertahan: warga yang ramah dan biaya hidup yang murah. Oleh Cristian Rahadiansyah

Untuk pertama kalinya, saya terkunci di luar pintu hotel. Saya mengetuk, melongok, lalu kembali mengetuk seperti anak yang dihukum akibat pulang larut, namun tetap tak ada jawaban. Hotel saya sebenarnya tergolong mewah, bahkan tergabung dalam asosiasi Small Luxury Hotels of the World. Bagaimana mungkin hotel semewah ini memberlakukan jam malam? Apalagi saya sedang berada di Porto, kota terbesar kedua di Portugal, salah satu kota paling modern di Eropa.

Di Porto, seperti yang saya temukan kemudian, kata “besar” dan “modern” agaknya punya definisi yang berbeda.

Saya mendarat pada musim dingin, tatkala ombak menggulung tinggi dan peselancar berdatangan. Bagi saya, Portugal adalah tanah yang asing, walau negeri ini sebenarnya memiliki tali riwayat yang panjang dengan Indonesia. Lima abad silam, Portugal menjadi imperium Eropa pertama yang membuka jalur perniagaan rempah dengan Nusantara. Jejaknya tak cuma berupa benteng-benteng tua, tapi merembes ke khazanah bahasa. Banyak term bahasa kita diserap dari bahasa Portugis. Tanjidor berasal dari kata tangedor, kereta dari carreta, Minggu dari Domingo. Portugal adalah tanah asing yang begitu dekat di lidah kita. Tapi, apa sebenarnya alasan turis datang ke Porto? Sebuah kota yang teronggok di perbatasan barat Eropa, sekitar 16 jam penerbangan dari Jakarta.

“Porto adalah kota terhebat,” kata Ricardo, pria flamboyan yang membantu saya menemukan tempat-tempat terbaik di kota ini.

“Lebih hebat dari Lisbon, Paris, atau London?” tanya saya penuh ragu.

“Mungkin lebih hebat dari seluruh kota di jagat raya,” jawabnya yakin.

Apa yang dirasakan Ricardo tengah menggejala. Kepada siapa pun saya bertanya, orang-orang menjawab optimistis tentang kembalinya kejayaan kota penghasil wine ini. Porto, kota industri di utara Portugal, sebenarnya sempat lesu setelah banyak pabriknya gulung tikar. Tapi kota ini punya mental yang tangguh. Berkali-kali jatuh, berkali-kali pula ia bangkit. Kali ini resepnya bernama pariwisata, sektor yang berkembang paling pesat dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya terpaku mengandalkan bisnis wine dan tekstil, Porto kini menatap ke luar, ke dunia. Turisme bagaikan pelumas bagi mesin ekonominya. Turisme membuka lapangan kerja terbanyak. Turisme adalah masa depan kota.

“Saat melakukan survei sekitar tiga tahun lalu, Porto tidak menawarkan banyak hal, tapi kota ini kemudian berubah,” tutur Marco Ferreira, pengusaha asal Póvoa de Varzim, yang baru saja membuka sebuah restoran seafood di Porto. “Awalnya turis datang hanya untuk tur wine. Tapi sekarang Porto menyuguhkan beragam hal baru. Peluang-peluang bisnis pun tercipta,” kata Marco lagi.

Porto yang tadinya ditinggalkan, Porto yang terancam menjadi kota pensiunan, kini menggeliat penuh gairah layaknya seorang remaja yang sedang puber. Kata-kata Ricardo kembali terngiang: Porto kota terhebat. Dia mungkin tidak berbicara tentang lanskap kota yang menawan, melainkan kegigihan warganya untuk kembali bangkit, lagi dan lagi.

Sabtu pagi, saya menyambangi kawasan Kota Tua, mencoba berkenalan dengan masa lalu sebuah negeri yang dulu mengutus kapal-kapalnya ke Nusantara. Kapal kayu yang kemudian melebur dengan kapal Bugis dan melahirkan spesies hibrida bernama pinisi.

Di Kota Tua, pagi dibuka dengan ibadah. Sé do Porto, katedral yang dibangun pada abad ke-12, sedang menggelar misa yang khidmat di sebuah aula yang megah. Altarnya dilapisi emas. Pilarpilarnya jangkung seakan hendak menjangkau langit. Rumah ibadah di masa silam, baik gereja maupun masjid, kerap dicetak gigantik melebihi kebutuhan manusia.

Di samping katedral, sebuah benteng menatap wibawa ke arah Sungai Douro yang mengalir di batas kota. Sosok benteng ini tak lagi utuh. Pada dindingnya, kafe-kafe melekat seperti lumut yang menggerayangi tembok. Di kolongnya, kereta listrik

lalu-lalang. Benteng ini tak lagi curiga mengawasi pendatang, tapi justru memanggil-manggil mereka.

Menjelang tengah hari, turis menguasai jalanjalan. Bus wisata hilir mudik di jalan batu, bersaing dengan bajaj yang gesit, serta trem sepuh yang merayap lambat seolah tak peduli waktu. Kehadiran turis telah memicu kelahiran moda-moda baru. Pemkot mengguyurkan dana $1,4 miliar untuk membenahi transportasi umum. Pada 2002, sistem kereta “Metro” diresmikan. Empat tahun silam, gondola dibentangkan di bantaran sungai.

Di luar semua ornamen modern itu, Kota Tua tetaplah sebuah petilasan. Tempat ini senantiasa memanggil kisah-kisah yang jauh dan telah berlalu. Kita ingat, Ferdinand Magellan, petualang Eropa pertama yang membelah bumi, pernah tinggal di sini. Kita mungkin juga ingat, Gustave Eiffel merancang sebuah jembatan di sini satu dekade sebelum mendirikan menara ikonisnya di Paris. Di Kota Tua, wisata dan ziarah kerap bermakna serupa.

“Pariwisata adalah bisnis yang tumbuh paling subur di Porto,” ujar Maria, wanita yang memandu saya menyelami Kota Tua. Tapi, dengan cara apa turisme berkembang? Kota Tua saja tak pernah cukup untuk memikat dunia, apalagi untuk menyembuhkan krisis.

Beranjak dari Kota Tua yang menyurutkan waktu, saya tiba di museum yang berbicara masa kini—Serralves. Museum ini dirancang oleh putra kebanggaan Porto, Alvaro Siza. Sebagian ruangannya mirip ilusi optikal: menyempit, membentang, penuh jebakan tiga dimensi. Kata penjaga museum, Alvaro hendak merefleksikan bentuk lahan perkebunan yang ditempati museum.

Saya datang di Minggu yang riuh kala museum dibuka gratis. Keluarga-keluarga berdatangan. Anakanak berseliweran. Museum ini lebih mirip mal di akhir pekan. Di sejumlah media, museum yang berdiri di kompleks perumahan ini dipuji karena berhasil memicu demam wisata ke museum.

Hari ini, Serralves tengah memamerkan karyakarya menggugah Monika Sosnowska. Perupa Polandia ini berupaya berkomunikasi dengan tubuh museum. Dia memasang koridor sempit yang dipecah oleh 12 pintu yang dijejerkan rapat, hingga memaksa orang saling bersabar saat melaluinya. Di ruang yang lain, Monika menciptakan retakan di plafon dan menyerak batu di lantai, seakan museum ini baru saja diguncang gempa.

Serralves tak ada rujukannya dalam sejarah kota. Inilah museum pertama dan terbesar di Porto yang didedikasikan bagi seni kontemporer. Tapi, untuk apa sebuah kota penghasil wine mendirikan museum seni kontemporer?

Porto memang berubah. Dalam 15 tahun terakhir, kota ini menggencarkan proyek-proyek kebudayaan dengan mengerek galeri, perpustakaan, museum, juga gedung orkestra. Warganya yakin, itulah solusi terbaik untuk menjawab problem zaman. Porto bukanlah kota yang terpaku menatap

Pesona Kota Dari kiri: False

truffle, menu pembuka di Casa de Chá da Boa Nova; pameran di Serralves, museum seni kontemporer terbesar di Porto. Halaman kiri, dari atas: Pedro dan Daniel, penggawa bengkel modifikasi Ton-Up Garage; barel tua milik produsen port wine Taylor’s di tepi Sungai Douro.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.