PONOROGO

DestinAsian Indonesia - - SKETCHBOOK - —CR

Ponorogo konsisten melahirkan cendekiawan Muslim progresif, sebut saja Nurcholish Madjid, Hasyim Muzadi, dan Hidayat Nur Wahid. Tapi di luar pondok-pondok pesantrennya, kabupaten di Jawa Timur ini sejatinya masih menjadi tanah yang subur bagi sinkretisme di mana ajaran samawi dan kebudayaan leluhur bergandengan tangan tanpa saling meniadakan. Larung Sesaji adalah salah satu contohnya.

Bagian dari penyambutan Tahun Baru Hijriah, Larung Sesaji ditujukan sebagai ungkapan syukur atas karunia Tuhan sekaligus harapan akan masa depan yang jauh dari bala. Ajang ini menampilkan acara penyerahan pusaka, pentas musik, serta pelepasan tumpeng berisi hasil bumi, sebagaimana yang ditampilkan dalam karya Herajani Saftiawan (kamikazecomm.co.id).

Herajani, pendiri Kamikaze Communication, menciptakan gambar tersebut untuk kalender perusahaan Wavin Duta Jaya. Sejalan dengan bidang usaha kliennya di bidang pipa air, Herajani mengusung tema “water in culture” dengan niat “menampilkan tradisi di beberapa daerah di Indonesia yang berhubungan dengan air.” Selain Larung Sesaji, dia mengajukan antara lain tradisi Balimau di Sumatera Barat, Snap Mor di Papua, dan Subak di Bali. “Indonesia kaya akan tradisi yang syarat nilai-nilai kebaikan yang seharusnya kita pertahankan,” ujarnya.

Tradisi Larung Sesaji dipusatkan di Telaga Ngebel, sebuah danau elok di Kecamatan Ngebel yang terhampar di kaki Gunung Wilis. Oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo, ajang ini telah dicantumkan dalam kalender pariwisata, bersama dengan Festival Reog Nasional dan Pawai Kirab Pusaka. Ponorogo memang tak mau hanya mencetak alim ulama, tapi juga berniat memikat turis melalui kekayaan budayanya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.