DILEMA DI SURGA

DestinAsian Indonesia - - FEATURES -

Langkawi, Geopark pertama di Asia Tenggara, masih pusing mencari harmoni antara kepentingan komersial dan agenda konservasi. Kepulauan ini bahkan sempat diganjar kartu kuning oleh UNESCO akibat manajemen kawasannya yang kendur. Kisahnya menyimpan pelajaran penting bagi Batur dan Gunung Sewu. Oleh Yusni Aziz

Sudah tiga abad berlalu, Mahsuri masih saja bergentayangan. Semua orang mengenalnya. Namanya terpatri di banyak tempat, melekat pada dinding hotel, restoran, hingga aula konvensi. Mahsuri bukan pahlawan, bukan pula mantan perdana menteri. Dia cuma pernah mengutuk Langkawi. Kutukan dengan masa kedaluwarsa tujuh generasi.

Kisahnya bermula pada abad ke-18 saat Mahsuri dan keluarganya bermigrasi dari Phuket ke Langkawi. Awalnya mereka disambut nasib mujur. Hidup berlimpah dan Mahsuri dipinang seorang kesatria bernama Wan Darus. Tapi perang kemudian pecah dan nasibnya berbalik. Kerajaan Siam menyerang dan Wan Darus mesti pergi ke medan laga. Wan Mahora, kakak ipar Mahsuri yang pencemburu, memanfaatkan peluang itu guna menjatuhkan kehormatan Mahsuri melalui hoax. Wanita cantik ini difitnah berselingkuh dan divonis mati: diikat pada sebatang pohon, lalu ditusuk memakai sebilah keris. Di ujung hidupnya itulah Mahsuri melontarkan kutukan: “Untuk tindakan biadab ini, Langkawi tidak akan makmur hingga tujuh generasi lamanya!”

Juli silam, saya berkunjung ke Langkawi. Kondisinya tak seperti tanah yang terkutuk. Langkawi, gugusan 104 pulau di mulut Selat Malaka, justru menjadi destinasi wisata andalan Malaysia. Resor mewah bertaburan. Turis berkeliaran. Berkelana ke pulau-pulaunya, saya disambut pemandangan yang menyerupai foto desktop: kubah-kubah batu yang menyeruak dari rahim laut, elang yang membelah langit, sungai yang mengalir hening.

Banyak orang percaya kemakmuran Langkawi adalah buah dari dicabutnya kutukan Mahsuri. Konon, anak Mahsuri pernah didatangkan dari Thailand ke sini guna menghapus tulah tersebut. “Setelah itu Langkawi langsung booming, padahal dulu tanahnya tak laku,” ujar Ridzuan, sopir Uber saya. Akan tetapi, jika kita membaca sejarah lebih cermat, bersinarnya Langkawi sebenarnya tak lepas dari status Geopark yang didapat pada 2007.

Predikat Geopark, yang digarap oleh Global Geoparks Network dan UNESCO, dilekatkan pada wilayah dengan warisan geologis yang fenomenal: sebuah tempat di mana manusia

bisa mempelajari hikayat bumi, lalu memakai pelajaran itu guna menjawab problem kontemporer seperti gempa dan pemanasan global. Hingga kini dunia mengoleksi 127 Geopark yang tersebar di 35 negara, termasuk Batur dan Gunung Sewu di Indonesia.

Langkawi adalah Geopark pertama di Asia Tenggara—prestasi yang tak disia-siakan oleh pemerintah Malaysia. Melalui Lembaga Pembangunan Langkawi (LPL), kepulauan ini gencar dipromosikan sebagai taman batu yang menjanjikan petualangan ke masa silam. Walau lahir dalam kerangka konservasi dan edukasi, Geopark berdampak besar di bidang ekonomi. Status ini senantiasa dijadikan amunisi dalam kampanye pariwisata.

Satu hal yang kerap dilupakan, Geopark bukanlah gelar yang berhenti pada selembar sertifikat. Ia datang dengan seperangkat kaidah yang mengikat. Geopark, berbeda dari titel sarjana, juga tak berlaku abadi. Tiap empat tahun sekali, tim utusan UNESCO datang guna meninjau, mengevaluasi, lalu memutuskan apakah sebuah tempat masih layak menyandangnya. Di poin inilah Langkawi bermasalah.

Dalam hasil evaluasi di 2011, rapor Langkawi dihiasi warna merah. Tim UNESCO menuliskan sejumlah catatan miring tentang manajemen kawasan ini, misalnya soal perburuan liar, pemberian pakan bagi elang, juga degradasi lingkungan akibat pembangunan. Kartu kuning dari UNESCO itu menggemakan alarm yang merisaukan. Pemerintah Malaysia sadar, status Geopark bisa dicopot, seperti yang pernah menimpa Qeshm di Iran.

Pada evaluasi terakhir di 2015, Langkawi memang selamat dari kartu kuning kedua, tapi bukan berarti semua masalah di lapangan sudah diselesaikan. Saya datang untuk menggali penyebabnya dan mencari tahu bagaimana pulau ini mengatasinya.

Tak ada badak di Kubang Badak. Sungai ini justru diramaikan oleh kerik jangkrik dan pekik elang. Menaiki kayak, saya menyusuri perairan yang jernih, menonton hutan bakau yang rapat di bantaran sungai.

Air tak beriak, namun kayak sukar dikendalikan. Lelah melawan arus, saya pasrah pada kehendak sungai. Lagi pula saya ditemani Abdul Fuad, seorang naturalis dari operator JungleWalla. Sepanjang tur, dia mencurahkan pengetahuannya seputar bakau dan satwa. Sesekali dia mengajak saya ke tepian guna merasakan lebih intim ekosistem sungai. Momen yang tidak selalu menyenangkan berhubung Kubang Badak tersohor sebagai sarang buaya.

Suatu kali, tatkala Fuad tengah menceritakan peran bunga bakau, bayangan jingga berkelebat. Seekor burung raja udang sayap cokelat, satwa yang berhabitat di Kubang Badak, terbang persis di depan kami. Kata Fuad, burung itu tergolong spesies langka, dan saya beruntung bisa melihatnya.

Susur sungai adalah aktivitas wisata yang paling populer di Langkawi. Tur ini mengajak pengunjung menyelinap di antara bebatuan dan berkenalan dengan satwa lokal. Tapi tur ini juga menjadi sorotan akibat eksesnya pada lingkungan. Perahu motor pembawa turis kerap melaju terlalu kencang. Gelombang yang diproduksinya menggerus sedimen di kaki hutan bakau. Kita tahu, bakau bukan hanya berperan sebagai habitat satwa. Pada 2004, saat tsunami menjalar ke banyak kawasan di Asia, hutan bakau berjasa besar dalam menyelamatkan Langkawi dari kehancuran parah.

Pariwisata adalah industri yang berjejak panjang di Langkawi. Turis sudah mengalir jauh sebelum gugusan ini ditetapkan sebagai Geopark. Terpikat oleh formasi bebatuannya, kaum geologis rutin menjadikan Langkawi medan riset dan survei. Di Dayang Bunting, mereka menemukan kandungan marmer sepuh berusia 220 juta tahun. Di Machinchang Cambrian, para peneliti mendapati batu kapur berumur 550 juta tahun. Langkawi laksana arsip tua yang mencatat kondisi bumi dari zaman ketika waktu bahkan belum dicatat.

Tak semua orang berkunjung karena tergoda oleh batu dan mineral. Usai Langkawi ditetapkan sebagai kawasan bebas cukai pada 1987, banyak orang datang untuk berbelanja cerutu, parfum, atau penganan seperti cokelat yang dibanderol 40 persen lebih murah dibandingkan harga di Kuala Lumpur. “Ketika kita berbicara status UNESCO, teman-teman saya tidak mengerti. Mereka hanya tahu Langkawi adalah pulau bebas cukai. Hanya tentang cokelat, cokelat, cokelat,” jelas Fuad resah.

Tak bisa dimungkiri, pariwisata berjasa mengubah Langkawi. Tahun lalu, kepulauan yang dijuluki Permata Kedah ini disatroni 3,6 juta turis. Pada 2015, peluang pekerjaan bagi warganya meningkat hingga enam kali lipat dibandingkan empat tahun sebelumnya. Kendati demikian, pariwisata adalah sektor yang tak pernah steril dari masalah. Kehadiran manusia dan bangunan menimbulkan kecemasan akan daya dukung lingkungan, sementara polusi dan limbah mengusik keutuhan ekologi.

Persoalan tersebut mengemuka misalnya di Kilim Karst, kompleks gamping di belahan timur Langkawi. Mengarungi perairannya, saya menyaksikan pilar-pilar batu yang menjulang semampai. Bersama turis asing yang dibalut rompi jingga, saya juga menembus gua yang dihuni ratusan kelelawar. Tak sulit memahami mengapa Kilim Karst digemari wisatawan.

Kilim Karst, kawasan yang mengandung batu kapur berumur 490 juta tahun, menyimpan banyak cerita tentang riwayat bumi. Kelestariannya vital untuk sebuah Geopark. Sayangnya, tempat ini sekarang ternodai oleh sampah. Di bantaran sungai terdapat tempat pembuangan sampah akhir (TPA). “Tahun lalu, air di sekitar hutan bakau menghitam. Dan tentu itu selalu menjadi ancaman kala musim hujan jika TPA tak dipindahkan,” jelas Ulrika Player, pendiri LSM lingkungan Trash Hero.

Sudah 10 tahun berstatus Geopark, Langkawi agaknya masih kesulitan menemukan ekuilibrium antara turisme, kegiatan warga, dan pelestarian alam. Seperti yang terjadi di banyak kawasan konservasi, benturan antara kepentingan konservasi dan komersial adalah dilema klasik. Warga, pemerintah, dan aktivis mengusung agendanya masing-masing yang tak selalu mudah didamaikan.

Kasus yang terjadi di Pulau Singa juga menjelaskan isu pelik tersebut. Tempat ini rutin disatroni turis yang ingin menonton atraksi pemberian pakan elang. Meski populer, aktivitas ini sejatinya mengundang polemik. Akibat sering disuapi, elang kian gemuk dan malas. Kemampuan berburunya menumpul hingga mengusik rantai makanan. Celakanya lagi, banyak juru mudi kapal memberikan

pakan yang salah, yakni kulit ayam. Padahal lemak dari kulit ayam berpotensi merapuhkan kulit telur elang. Alhasil, bayi elang terlahir prematur dan kesulitan bertahan hidup.

“Sebetulnya tidak ada kartu kuning untuk kami,” jawab Azmil Munif Bukhari dari Divisi Turisme LPL, saat saya menanyakan peringatan dari UNESCO. “Tim juri memang mengirimkan rekomendasi peringatan pada dewan Global Geopark. Tapi mereka tidak menyetujui kartu itu, karena masih banyak yang kondisinya lebih parah di negara lain.”

Walau menyanggah peringatan UNESCO, LPL tidak bisa menutup mata dari kenyataan Langkawi didera serangkaian masalah akut. Berita-berita tak sedap juga berkesiur tentang kendurnya manajemen kawasan ini. Barangkali gerah mendengar nada-nada sumbang itu, LPL tergerak berbenah. “Itu adalah tamparan agar kami bisa bangkit,” ujar Azmil diplomatis.

Dalam waktu dekat, LPL akan meresmikan Gunung Raya Park sebagai zona konservasi baru. Untuk isu pemberian pakan elang, lembaga ini mengklaim telah mengurangi frekuensinya menjadi hanya dua kali per hari. Agenda LPL lainnya cukup ambisius. Kelak, pada 2030, Langkawi bakal ditetapkan sebagai pulau rendah karbon pertama di Malaysia.

Inisiatif perbaikan, tentu saja, tidak hanya datang dari LPL. Trash Hero misalnya, turut berkontribusi melalui aksi memungut sampah saban Minggu dan program daur ulang sampah. Inisiatif lainnya datang dari Sahabat Alam Malaysia (SAM) yang mengampanyekan pembatasan kecepatan perahu dengan menyarankan warga mengganti mesin 200DK dengan 60DK. Untuk hutan-hutan bakau yang telanjur rusak, SAM menggelar aksi reboisasi.

Seluruh ikhtiar arif itu kini berpacu dengan waktu. Pelancong terus berdatangan dan Langkawi giat membangun demi memuaskan mereka. Aktivitas wisata di sini terus berkembang. Selain tur perahu dan pemberian pakan elang, turis bisa snorkeling di Pulau Payar, berenang di Danau Dayang Bunting, juga menaiki kereta gantung di Machinchang yang menyuguhkan lanskap Langkawi hingga Taman Nasional Tarutao di Thailand. Dalam versi idealnya, Geopark didesain untuk geowisata, tapi dalam praktiknya aktivitas yang ditawarkan selalu melebar.

Satu isu sensitif yang mengemuka dari pertumbuhan industri pariwisata itu adalah privatisasi lahan. LPL mematok target lima juta turis pada 2020, dan untuk itu Langkawi membutuhkan hotel-hotel baru. Menurut Azmil Munif, mayoritas proyek hotel baru dipusatkan di sekitar Pantai Cenang, Kuah,

dan Ayer Hangat. Dia juga menegaskan semua properti itu wajib mempraktikkan prinsip ramah lingkungan.

Warga tidak anti-investasi, tapi mereka menyayangkan tata kelola lahan oleh pihak hotel. Keinginan hotel memiliki pantai eksklusif telah memblokade akses warga ke area yang sejatinya milik publik. Kasus ini terjadi salah satunya di Pantai Kok. Menurut Rastom Abdul Rahman, anggota Friends of Langkawi Geopark (Flag), Pantai Kok dulu merupakan tempat liburan favorit warga. Pesisirnya yang elok bahkan sempat dijadikan lokasi syuting Anna and the King. Tapi kini, sebagian besar lahannya telah dikuasai sebuah hotel.

Kehadiran bisnis partikelir sebenarnya tak melulu berdampak negatif. Banyak hotel di Langkawi justru mengemban fungsi strategis sebagai wadah edukasi turis. Tak jarang pengelola hotel menyewa naturalis, menawarkan tur ramah lingkungan, bahkan mengundang tamunya terlibat dalam aksi konservasi.

“Kami ingin mengedukasi tamu tentang kekayaan hutan,” ujar Shawn Lim, Marketing Manager The Andaman, resor senior yang bersemayam di jantung hutan Machinchang. Arsitekturnya merangkul alam. Bangunannya melebur dengan lanskap sekitar. Menginap di sini, tamu mesti sudi berbagi tempat dengan makhluk asli. Saat berjalan ke kamar, kita bisa saja bertemu kubung dan lutung.

Demi mengurangi dampaknya pada alam, The Andaman mengaplikasikan sistem panen air hujan, mendirikan instalasi kompos organik, menggelar program penanaman bakau, juga rutin merawat koral. Daya, salah seorang motor kegiatan konservasi koral, mengatakan inisiatifnya sebenarnya merupakan proyek balas budi. Pada 2004, resor ini selamat dari tsunami berkat proteksi dari hamparan koral di Teluk Datai. Tapi akibat bencana itu pula sekitar 60 persen koral rusak parah.

Untuk menakar sejauh mana inisiatif swasta dan pemerintah mengatasi problem yang menggerogoti Langkawi, kita hanya bisa menanti hasil evaluasi tim UNESCO pada 2019. Untuk saat ini, pekerjaan rumah tempat ini adalah merumuskan solusi jalan tengah yang disepakati semua pemangku kepentingan. Permata Kedah belum berkilau sempurna, dan semua orang tahu pangkal masalahnya kali ini bukanlah kutukan Mahsuri.

56

Puak Pulau Atas: Wisatawan meniti Langkawi SkyBridge yang membentang sepanjang 125 meter dan menawarkan panorama pegunungan. Kanan: Rastom Abdul Rahman, anggota Friends of Langkawi Geopark (Flag), lembaga yang aktif merawat alam Langkawi.

Resor Rancak Searah jarum jam, dari kiri: Menu wagyu beef di Kayu Puti, restoran yang dipimpin oleh koki Gaetan Biesuz; panorama kawasan selatan Langkawi dari presidential suite

St. Regis; area bersantai di executive suite The Andaman, resor senior di sisi barat laut.

Magnet Malaysia Kanan: Koral goniopora di klinik koral milik The Andaman, resor yang aktif terlibat dalam upaya konservasi. Bawah: Seorang pemuda membersihkan area memasak di kedainya. Halaman kanan, dari atas: Turis menikmati danau air tawar di Pulau Dayang Bunting; asortimen masakan khas Malaysia di restoran Tepian Laut, The Andaman.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.