KISAH DARI KARST

GUA-GUANYA DITABURI LUKISAN PRASEJARAH. HUTANNYA DITINGGALI ORANGUTAN DAN WARGA DAYAK. S ANGKUL IRAN G M ANGKA LIHAT, KANDIDAT SITUS WARISAN DUNIA DARI KALIMANTAN, ADALAH BELANTARA KARST YANG MENCERITAKAN MASA LALU DAN MENGHIDUPI MASA KINI.

DestinAsian Indonesia - - FEATURES - TEKS & FOTO OLEH R. HERU HENDARTO ARTWORK OLEH ASTRID NATASASTRA KISAH DARI KARST

Nama SangkulirangMangkalihat baru bergema saat diusulkan menjadi Situs Warisan Dunia, tapi riwayatnya sebenarnya melintang jauh ke zaman purba. Kawasan pelosok Borneo ini menyimpan kekayaan yang mengagumkan: perbukitan karst yang megah, gua-gua berisi lukisan prasejarah, serta hutan yang ditinggali orangutan dan warga Dayak. Oleh R. Heru Hendarto

Sepeda motor saya mesti naik perahu. Tak ada opsi lain. Usai menyusuri jalan milik perusahaan kayu, sebuah sungai lebar menghadang. Di Borneo, pulau yang dibelahbelah oleh ratusan sungai, termasuk empat dari 10 sungai terpanjang di Indonesia, banyak jalan memang buntu terpotong oleh aliran air.

Saya sedang berada di pelosok Kalimantan Timur. Niat saya mengunjungi S angkul iran g M angka lihat, hamparan karst yang terbentang mahaluas di dua kabupaten yang bertetangga: Berau dan Kutai Timur. Pada 2015, kawasan ini diusulkan menjadi Situs Warisan Dunia, dan saya ingin melihat langsung alasannya.

Perahu mulai meluncur pelan. Bentuknya sebenarnya lebih mirip nampan: persegi panjang, tanpa buritan maupun haluan lancip. Orang di sini menyebutnya ponton. Walau tampak letoi, daya angkutnya impresif: 2.000 kilogram, setara bobot mobil SUV. “Merabu masih jauhkah bang?” tanya saya kepada juru mudi ketika perahu hampir tiba di seberang. “Ada satu jam lebihlah,” jawabnya. Saya menunjuk arah dan sang juru mudi mengangguk. Merabu, desa yang hendak saya gapai, adalah gerbang untuk memasuki Sangkulirang-Mangkalihat.

Turun dari ponton, sepeda motor trail kembali beraksi. Ban dengan tekstur kembangan tahu melibas lincah jalan selebar tiga depa. Jalan ini tak tertera di peta. Kian dalam menembus hutan, peta saya raib sepenuhnya lantaran GPS tak lagi berfungsi. Hutan begitu sepi. Cuma tiga kali saya berpapasan dengan manusia. Kondisi yang mencemaskan sebenarnya. Di sudut terpencil Kalimantan, tak ada solusi bagi problem habis bensin atau mogok mesin.

Setelah hampir sejam, sebuah gapura kayu menjulang di kiri jalan, menandakan arah ke

Desa Merabu. Saya memacu gas di jalan sempit yang diapit belukar, kemudian kembali terhadang oleh sungai. Berhubung tak ada ponton, saya pun terpaksa melabrak sungai. Air hanya sedalam betis, tapi bebatuan di badan sungai membuat roda kerap tergelincir. Tiba di seberang, saya beristirahat dengan sepatu basah kuyup. Matahari bersinar terik di atas kepala. Stamina terkuras. Sudah lebih dari empat jam saya berkendara.

Sangkulirang-Mangkalihat terhampar 1,8 juta hektare, hampir 30 kali luas daratan Jakarta. Kawasan karts ini melintang dari Merabu di barat, melewati Sangkulirang di selatan, lalu berujung di Tanjung Mangkalihat di bagian “hidung” Pulau Borneo. Namanya baru santer bergema saat delegasi Indonesia mengusulkannya ke UNESCO, tapi riwayatnya menjulur jauh ke masa-masa ketika waktu belum dicatat. Perbukitan Sangkulirang-Mangkalihat disusun oleh bebatuan kapur berusia jutaan tahun. Seantero hutannya tercantum dalam sirkuit migrasi manusia rumpun Austronesia.

Mendarat di Merabu, saya rehat beberapa jam guna memulihkan tenaga. Desa ini dihuni oleh Suku Dayak Lebok. Menggali silsilahnya, mereka merupakan cabang dari Dayak Basap, komunitas nomaden yang mendiami gua dan hidup dari berburu, tapi kemudian sebagian warganya berubah menjadi peladang yang menetap di rumah. Evolusi cara hidup itulah yang melahirkan istilah “lebok” (rumah).

Warga Dayak Lebok tersebar di empat desa. Selain Merabu, mereka mendiami Merapun, Panaan, serta Inaran di sisi utara. Kekerabatan di antara mereka masih terjaga. Bahasa yang dipakai juga serupa, walau dengan sedikit perbedaan logat dan intonasi. Satu lagi kesamaan di antara mereka: hidup yang bergantung pada karts dan sungai.

Sangkulirang-Mangkalihat berperan vital dalam ekosistem. Batuan kapur di sini menyerap air hujan, menyalurkannya ke banyak mata air, mengguyur Sungai Lesan, lalu membasahi sungai-sungai lainnya dan memasok kebutuhan air bagi desa-desa yang terletak jauh di hilir. Merujuk data The Nature Conservancy, LSM lingkungan asal Amerika yang beroperasi di sini, sekitar 105.000 manusia di 111 desa menggantungkan hidupnya pada lima sungai besar yang berhulu di SangkulirangMangkalihat. Karts yang cadas ini sejatinya bagian dari denyut kehidupan sehari-hari.

Menjelang magrib, ekspedisi saya berlanjut. Dipandu Ian, pria Dayak dari Merabu, saya menuju ke Puncak Ketepu, memasuki lebih dalam interior kompleks karst. Etape ini dimulai dengan menaiki ketinting, perahu langsing dengan mesin tempel. Mesinnya cuma

bertenaga 20 PK, tapi suaranya meraung cempreng, membuat seantero hutan begitu gaduh.

Ketinting bermanuver lincah di sungai dangkal. Bukan perkara mudah. Matahari sudah tenggelam dan langit berangsur kelam. Setidaknya tiga kali ketinting kandas terantuk gosong. Dalam salah satu kejadian itu, semua penumpang terpaksa mengangkat ketinting.

Di bantaran sungai, juru mudi bergegas kembali ke desa, berpacu dengan serpihan cahaya yang tersisa di angkasa, sementara mata saya berupaya beradaptasi dengan gelapnya belantara. Suara-suara aneh bersahutan di kejauhan. Gulita mendekap kian erat. Dengan tubuh merinding, saya mulai berjalan, mengandalkan Ian sebagai penunjuk arah.

Kami menyusuri tanah lapukan batu kapur yang basah. Jalur licin sekaligus tajam, kombinasi yang menguji kekuatan pergelangan kaki. Baru satu jam berjalan, sandal gunung saya jebol. Ketika hendak melihat kondisinya, saya malah mendapati problem lain: seekor pacet yang asyik menyedot darah di betis kiri.

Di tepi Danau Nyadeng, kami mendirikan tenda berbentuk kubah, lalu menyulut api unggun dan meracik kopi. Setelah itu, kami meringkuk di dalam tenda. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain berbaring. Saya memaksa mata terpejam, tapi lelap tak kunjung datang. Beberapa kali Ian meracau keras dalam tidurnya. Saya tak bisa membedakan dia sedang mengigau atau kesurupan. Mimpi buruk saya dimulai sebelum tertidur.

Demi menangkap momen terbitnya mentari, pendakian dimulai di waktu subuh. Mulamulanya kami memanjat lereng karst dengan kemiringan 40 derajat. Medan ini cukup membuat saya kewalahan. Berkali-kali saya berhenti mengambil napas. Mulut menganga menyedot udara. Sepatu menganga akibat terkoyak bebatuan runcing.

Setelah 90 menit merayap, akhirnya kami menggapai puncak. Dari ketinggian 400 meter, saya melayangkan pandangan, menyerap panorama yang membuat saya kembali sulit bernapas. Di arah barat terhampar lembah hijau yang digerayangi kabut dan dibelah Sungai Lesan. Di sisi selatan, menara-menara karst bersaing menusuk langit seperti punggung seekor naga yang sedang tengkurap. Konstelasi bukit kapur semacam ini adalah pemandangan yang janggal di bumi Borneo.

Ketepu hanyalah puncak kecil dari Perbukitan Kulat yang menjulang lebih dari 1.000 meter. Rasanya tak sanggup manusia menaklukkan atapnya. Selain Kulat terdapat sekitar 10 perbukitan lain yang mengukir lanskap Sangkulirang-Mangkalihat, termasuk Tabalar yang menjulang jauh di selatan. Medan tempat ini begitu purba, begitu arkais, ibarat prasasti geologis yang tak tersentuh perubahan zaman. Mudah membayangkannya dijadikan lokasi syuting film Jurassic Park atau King Kong.

Berbeda dari karst Gunung Sewu di selatan Jawa, Sangkulirang-Mangkalihat nyaris tak terusik modernisasi. Di sini tidak ada jalan aspal, tidak ada hotel, tidak ada pabrik. Manusia purba yang dulu mendiaminya hanya meninggalkan jejak berupa lukisan gua dan artefak. Alamnya yang lestari kini menjadi habitat bagi 120 spesies burung, 400 spesies flora, juga tentu saja orangutan, satwa ikonis Borneo. Menurut Dita Arif, peneliti dari Badan Geologi Bandung, semua kekayaan itulah yang menjadikan Sangkulirang-Mangkalihat luar biasa unik. Kawasan ini menuturkan masa silam dan menghidupi masa kini.

Saya menghabiskan sekitar 20 menit di Ketepu. Keringat terus mengucur membasahi

tubuh. Badan saya bagaikan cerek yang mendidih. Mungkin inilah yang dulu menginspirasi nama Ketepu. Kata warga, Ketepu berasal dari kata “kentepput” yang artinya “keringat yang menguap dari badan.”

Meninggalkan Ketepu, saya kembali ke tepian Danau Nyadeng. Jika tadi malam suasananya terasa mencekam, pada siang hari danau ini tampil dengan wajah tercantiknya: mangkuk pirus yang dinaungi pepohonan besar. Sekelompok peneliti pernah menyelami Nyadeng dan menemukan sebuah lubang besar yang diduga sebagai saluran keluarnya air.

Melihat sekelompok ikan berseliweran di permukaan danau, Ian bergegas mengambil pancing. Dalam hitungan menit, dia berhasil mengail enam ekor ikan baung dan sele seukuran telapak tangan bermodalkan hanya berhelai-helai mi instan sebagai umpan. Ternyata bukan hanya manusia yang menyukai vetsin. Ian pun pulang dengan membawa oleholeh jatah lauk dua hari untuk keluarganya.

Warga lokal menyandarkan hidupnya pada alam, pada kebaikan sungai dan kesuburan tanah. Selain mencari ikan, mereka mengembangkan pertanian berskala kecil. Satu-satunya usaha yang bisa digolongkan “modern” hanyalah perdagangan sarang walet, bahan

makanan yang diminati di banyak negara di Asia, terutama Singapura dan Hong Kong, karena dipercaya mengandung khasiat kesehatan.

Dalam perjalanan ke kaki bukit, saya bersua dengan empat peternak walet. Imam, salah seorang di antaranya, merupakan perantau asal Tulungagung, Jawa Timur. Dia menggendong keba (tas rotan) berisi ransum kebutuhan hidup satu setengah bulan. Tiba di kaki sarang walet, katanya, mereka akan menggantikan empat orang yang berjaga di sana.

Bisnis sarang walet cukup menjanjikan. Satu kilogram sarang hitam harganya setara sebuah telepon genggam, sementara sarang putih cukup untuk membeli sepeda motor. Kendati begitu, bisnis ini juga sarat risiko. Sarang walet bertengger di tebing-tebing karst di tengah hutan. Rumah sakit terpisah jauh. Belantara sulit ditembus. Kecelakaan dalam pendakian adalah mala yang sulit diampuni.

Saya mendarat di Merabu dengan sepatu somplak dan betis linu. Di rumah kepala desa, saya mengisi waktu dengan berbincang santai tentang kondisi desa. Kata warga, isu pembukaan lahan kelapa sawit dan penambangan batu kapur kini mulai meresahkan. Naiknya pamor Sangkulirang-Mangkalihat rupanya turut mengembuskan ancaman. Kawasan ini tak cuma masuk radar para petualang, tapi juga investor. “Jika hutan kami masih bisa menghidupi, untuk apa?” ujar Benny, pemuda Merabu yang menentang rencana eksploitasi kawasan karst.

Sawit, komoditas yang melahirkan banyak kaum kaya baru, mulai ditanam pada awal 1980-an di Kaltim, dan luas kebunnya kini telah menembus satu juta hektare. Sementara batu kapur, bahan baku semen, baru akan ditambang tahun ini. Salah satu perusahaan yang berniat membuka pabriknya di Kaltim adalah Anhui Conch Cement asal Tiongkok.

Membaca berita, tercantumnya Sangkulirang-Mangkalihat dalam daftar nominasi Situs Warisan Dunia umumnya disambut positif. Banyak orang berharap pariwisata kelak tumbuh di kawasan pedalaman ini. Sayang, tak banyak orang menyadari predikat Situs Warisan Dunia sesungguhnya mengandung implikasi politik: sorotan publik. Kasus hutan hujan tropis Sumatera, satu dari delapan situs di Indonesia, memberi pelajaran penting. Akibat invasi perkebunan dan pembalakan, hutan ini justru menjadi aib internasional dan terancam dicoret dari daftar elite UNESCO.

Kedatangan saya ke Merabu bertepatan dengan musim tanam. Oleh warga, saya diundang

mengikuti prosesi manugal (membuka ladang) dan menih (meletakkan benih). Pekerjaan ini dilakukan bergotong-royong, berpindah dari satu ladang ke ladang lain. Tipikal masyarakat agraris, proses tanam (sebagaimana proses panen) merupakan momen yang dirayakan dengan suka cita. Sepanjang manugal, setiap orang saling menyiramkan air dan mencorengkan arang ke wajah, termasuk ke wajah saya.

Selain menanam sayur-mayur, warga mulai beternak sapi. Inisiatif ini diluncurkan oleh Kerima Puri (“hutan yang cantik”), lembaga desa yang bertekad mewujudkan kemandirian pangan di tengah hutan. “Kami mencoba mengelola hutan desa, agar hutan terlindungi dan dapat dikelola untuk kehidupan masyarakat sampai anak cucu,” ujar Franly, Kepala Desa.

Ekspedisi saya memasuki hari terakhir. Sebelum pulang, saya mengunjungi satu tempat yang menjadikan Sangkulirang-Mangkalihat sorotan arkeolog dunia: Gua Bloyot. Dibandingkan pendakian ke Ketepu, perjalanan ke gua tak menguras banyak energi. Saya meniti jalur landai sepanjang empat kilometer, menembus rimba lebat yang menyaring sinar mentari dan membuat siang layaknya sore. Pohon-pohon di sini begitu gemuk. Sepertinya dibutuhkan lima orang untuk memeluk batangnya. Setelah dua jam trekking, saya tiba di muka sebuah rongga raksasa. Senter dinyalakan dan saya pun menembus sisi gelap dunia.

Interior gua lumayan ramah. Angin kerap berembus. Walet berkeliaran. Melihat morfologinya, Bloyot memang gua yang dibekali ventilasi. Tiba di aula utama, saya menemukan harta terbesar tempat ini: lukisan-lukisan prasejarah yang melapisi dinding. Ada lukisan kura-kura, kadal, juga tumbuhan. Semuanya dibuat memakai pewarna alami seperti sirih dan oker. Dari referensi yang saya baca, Bloyot merupakan wadah transit bagi kaum pemburu nomaden untuk rehat dan mengolah hasil tangkapan. Lukisan satwa pada dinding gua menjelaskan sumber makanan mereka.

Selain lukisan, Bloyot menyimpan belasan cap telapak tangan manusia. Ada beragam tafsir tentang maknanya. Sebagian peneliti mengklaimnya sebagai lambang komunikasi antara dunia manusia dan alam astral. Sebagian yang lain menilai cap tangan purba itu mewakili perasaan berkabung.

Merujuk proposal yang dilayangkan ke UNESCO, Sangkulirang-Mangkalihat mengoleksi 35 situs berisi lukisan gua dan artefak berusia ribuan tahun—statistik mencengangkan yang membuat kawasan ini siap menyaingi Pacitan sebagai destinasi speleologi. Yang lebih menakjubkan, belum semua situs renta di sini tuntas digali dan dikaji.

Catatan komprehensif pertama tentang gua-gua purba di Kaltim ditulis oleh duet petualang Prancis Luc-Henri Fage dan JeanMichel Chazine dalam buku Borneo: Memory of the Caves. Dalam ekspedisi panjang yang dirintis pada 1988 itu, mereka menembus banyak gua, termasuk Gua Masri, Tamrin, Ham, serta Tewet yang menyimpan sekitar 200 cap tangan. Penelitian berikutnya yang digelar oleh arkeolog Francois-Xavier Ricaut berhasil menemukan artefak lain yang menuturkan riwayat manusia pertama di kawasan ini.

Sangkulirang-Mangkalihat dalam banyak hal masihlah sebuah misteri. Ada banyak rahasianya yang belum terungkap. Arkeolog masih giat mengkaji kawasan ini, tapi agenda akademis mereka kini mesti beradu cepat dengan rencana eksploitasi.

Kompleks Karst Perbukitan Kulat dan Tabalar dilihat dari Puncak Ketepu yang bertengger setinggi 400 meter. Seluruhnya merupakan bagian dari kompleks karst SangkulirangMangkalihat, Kaltim.

Bumi Borneo Relung yang terkoneksi ke celah ventilasi di rahim Gua Bloyot, salah satu situs prasejarah di dekat Merabu. Kanan, dari atas: Keba (tas rotan) berisi ransum para penjaga sarang walet; Slamet dengan ketintingnya yang siap mengantarkan pendaki dalam perjalanan menuju Puncak Ketepu.

Warisan Zaman Sejumlah cap tangan manusia purba pada dinding di dalam Gua Bloyot. Kanan: Ransum, sesepuh adat Desa Merabu, permukiman di kawasan karst yang dihuni oleh warga Dayak Lebok.

Warga Wana Orangutan berkeliaran di tepi Sungai Kelay di daerah Kampung Merasa, sekitar 90 menit dari Merabu. Kiri, dari atas: Ekspedisi mengarungi Lesan, sungai besar yang mendapatkan pasokan airnya dari kawasan karst SangkulirangMangkalihat; panorama Danau Nyadeng difoto dari udara.

Hutan Kalimantan Prosesi manugal (membuka ladang) yang dilakoni secara bergotong-royong di awal musim tanam oleh warga Dayak Lebok di Desa Merabu. Kiri: Danau Nyadeng, lokasi transit dan kamping yang fotogenik dalam pendakian ke Ketepu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.