SKETCHBOOK

DestinAsian Indonesia - - DEPARTMENTS - —CR

Jakarta oleh Nugraha Pratama.

Gereja Katedral Jakarta bukan rumah ibadah Nasrani yang terbesar di Indonesia, tapi berkat keindahan desain dan nilai sejarahnya, ia merupakan yang paling tersohor. Gereja ini diresmikan pada 1901, sebagai pengganti gereja sebelumnya yang ambruk pada 1890. Arsiteknya, Pastor Antonius Dijkmans, pernah mengikuti kursus rancang bangun di Paris dan Belanda. Untuk Gereja Katedral Jakarta, beliau mengaplikasikan gaya neo-gotik yang populer pada abad ke-19. “Secara teknis bangunan ini sulit digambar. Mungkin sudah lebih dari lima kali saya mencoba membuat sketsanya,” jelas Nugraha Pratama, ilustrator agensi Whatever Workshop (whateverworkshop.co) yang menjabat Wakil Ketua Indonesia’s Sketchers (indonesiasketchers.blogspot.co.id).

Dalam terjemahan bebasnya, neo-gotik merupakan versi modern dan sederhana dari gotik. Ornamennya relatif lebih simpel dan materi bangunannya lebih variatif, mencakup pula beton, kayu, dan baja. Ciri lain struktur neo-gotik adalah posturnya yang cenderung ramping dan jangkung, seperti yang terlihat pula pada Gereja Katedral Jakarta yang dinaungi langit-langit setinggi 17 meter. “Interiornya sangat unik dan mempunyai kesan lebih bagi saya pribadi,” jelas Nugraha tentang sketsanya yang dibuat pada 28 Maret 2017. “Setiap lekukan dipikirkan betul sisi keindahannya.”

Rumah Ibadah Interior Gereja Katedral Jakarta yang dinaungi langit-langit setinggi 17 meter, diisi barisan bangku umat, serta dilengkapi altar dan tabernakel.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.