HERITAGE

Sempat koyak akibat Perang Dunia II, Normandy justru menyulap sejarah perang menjadi magnet wisata. Surabaya bisa belajar banyak.

DestinAsian Indonesia - - DEPARTMENTS - OLEH CRISTIAN RAHADIANSYAH

Normandy, kawasan yang sempat koyak akibat Perang Dunia II, adalah teladan bagus tentang cara menyulap memori suram menjadi magnet wisata. Menyuguhkan 92 situs, atraksi, dan wahana bertema perang, tempat ini sukses memikat lima juta turis per tahunnya. Surabaya bisa belajar banyak.

Di Normandy, perang seakan belum benar-benar tuntas. Tank masih bertaburan di tepi jalan, meriam masih tertancap di bibir tebing, parasut pasukan terjun payung masih tersangkut di atap gereja—dan Anda diundang untuk menyaksikan semuanya.

Saya melawat Normandy akhir Maret silam, saat musim semi tengah menanti di ambang pintu. Angin dingin kerap berkesiur. Pohon-pohon masih telanjang tanpa daun. Suatu pagi, saya singgah di American Cemetery. Di area parkirnya, bus-bus berdatangan dan menumpahkan siswa dari penjuru Prancis. “Berkunjung ke sini adalah darmawisata yang populer,” ujar pemandu saya, Sophie, wanita kelahiran Normandy.

American Cemetery, kompleks berisi lebih dari 9.000 jenazah serdadu, terlihat sureal. Nisan-nisan putih berbaris begitu panjang

dan rapi. Mayoritas berbentuk salib, beberapa bintang Daud. Sebuah tempat yang mudah memicu pilu, walau dalam kenyataannya ia lebih mirip wahana wisata. Di sela-sela pusara, puluhan siswa bercanda. Di antara mereka, belasan orang Tiongkok dan Korea berkeliaran, sesekali mengambil swafoto. Tak ada air mata yang menetes. Tak ada kuntum bunga yang diletakkan. Para pengunjung itu sedang pelesir. Pelesir yang janggal di kuburan.

Normandy bersemayam di belahan barat laut Prancis, sekitar dua jam dari Paris. Kawasan ini tersohor akan keindahan lanskapnya. Pantai-pantainya membentang lapang. Interiornya ditaburi bukit hijau yang bergulung dan saling bergandengan tangan. Panorama elok itu jugalah yang dulu memikat banyak pelukis. Kita ingat, Monet menghasilkan banyak mahakaryanya di Normandy.

Akan tetapi, pada abad ke-20, keindahan itu ternoda. Perang berkecamuk. Normandy menjadi salah satu medan pertempuran terganas. Dari sinilah pada 1944 Sekutu memulai serangan besar-besaran terhadap Nazi. Bertolak dari selatan Inggris, pasukan koalisi itu menyeberangi English Channel, mendarat di pesisir Normandy, lalu secara keroyokan menyisir Eropa dari barat hingga akhirnya menusuk jantung kekuasaan Hitler di Jerman.

Jejak perang itulah yang hingga kini masih membekas. Berkelana di sini, kita senantiasa diingatkan akan peristiwa berdarah yang berlangsung 73 tahun silam itu. Banyak kota di Normandy berstatus “kota pahlawan.” Banyak pantainya masih menyandang kode buatan tentara, misalnya Omaha, Utah, dan Juno. Hampir tiap jengkal tanahnya menyimpan perih dan rintih, mengisahkan keganasan perang dan para pemuda yang tak pulang.

Meninggalkan kuburan massal pasukan Amerika, saya bertamu ke Airborne Museum, salah satu atraksi wisata bertema perang. Kompleks megah ini didirikan guna mengenang satuan penerjun dalam Operation Neptune. Alkisah, pada malam buta 5 Juni 1944, mereka melompat dari pesawat dengan tugas utama “membuka jalan”: melumpuhkan meriam antipesawat dan radar musuh, lalu menandai titik aman bagi pendaratan ribuan penerjun yang diutus keesokan harinya.

Airborne Museum memamerkan antara lain truk GMC, jip Willys MB, serta pesawat Douglas C-47, lengkap dengan rekaman suara kokpitnya. Koleksinya impresif. Kita juga bisa menemukan seragam paratroopers, ransum mereka, serta aneka bedil dan bayonet. Tak

perlu memahami Perang Dunia II untuk terpukau. Mengunjungi Airborne Museum dalam banyak hal serasa menghadiri ajang Big Boys’ Toys. “Museum ini dibangun bertahap,” kata pemandu. “Bagian yang terakhir diresmikan adalah Ronald Reagan Conference Center.”

Normandy kini mengoleksi setidaknya 92 situs, atraksi, dan wahana bertema Battle of Normandy. Mereka tersebar mulai dari pesisir hingga perbukitan di kawasan yang luasnya setara Jawa Tengah. Tiap aspek pertempuran diabadikan. Tiap episodenya dihidupkan. Kita bisa menemukan, misalnya, museum tank, museum puing bawah laut, serta museum radar. Kita juga bisa menyaksikan hanggar kapal, galeri foto perang, bahkan lomba tarik suara khusus tembang era 1940-an. Tak ada kota yang mengabadikan Perang Dunia II seserius dan selengkap Normandy.

Barangkali terdengar janggal, tapi tragedi yang dulu memakan jutaan korban itu kini justru menghidupi banyak orang. Memori perang menghasilkan uang. Ada 20 operator yang kini menawarkan tur bertema perang. Kita bisa menyambangi bekas medan laga dengan menaiki sepeda, jip, bahkan andong. Seiring itu, lahir bisnis-bisnis turunan, misalnya jasa meletakkan karangan bunga bagi keluarga almarhum yang tak sempat nyekar.

Dalam neraca keuangan Normandy, tank dan kuburan sama pentingnya dengan Menara Eiffel atau Galeries Lafayette bagi Paris. Tempat ini merupakan teladan tentang cara memasarkan sungkawa sebagai magnet wisata. Apa yang bisa kita pelajari darinya?

Wisata perang di Normandy berumur cukup panjang. Usai makam serdadu didirikan, museum mulai menjamur pada 1960-an. Sejak saat itu pula, keinginan mengenang perang beririsan dengan agenda mendulang devisa. Lagi pula, museum-museum di sini tak mungkin bertahan jika hanya mengandalkan kunjungan veteran dan siswa setempat.

Pada 2015, menurut Edouard Valere, Head of Marketing Normandy Tourist Board, situssitus perang di Normandy disatroni sekitar lima juta turis, dengan 44 persennya turis asing. Puncak kunjungan turis terjadi saat festival peringatan D-Day (istilah untuk Hari-H 6 Juni 1944 ketika pasukan Sekutu mendarat) digelar dan membuat banyak hotel panen tamu. “Sekitar 75 persen tamu kami berasal dari Amerika,” ujar manajer hotel Château La Chenevière. “Hotel kami berada di dekat American Cemetery, karena itu selalu penuh tiap kali peringatan perang digelar.”

Tentu saja, wisata perang bukan milik Normandy semata. Kecerdikan menyulap elegi

menjadi gulali telah lama dipraktikkan di sejumlah negara. Di Kamboja misalnya, bekas kekejaman Khmer Merah telah diubah menjadi objek wisata yang mengundang simpati dan donasi. Sementara di Vietnam, cukup membayar sekitar Rp200.000, kita bisa menembus lorong-lorong bawah tanah peninggalan gerilyawan Viet Cong.

Jika Normandy kini terlihat lebih sukses dibandingkan tempat lain, penyebabnya barangkali kemasannya. Situs-situs perangnya tak cuma didesain rapi, tapi juga atraktif. Tiap dioramanya dicetak presisi layaknya patung lilin Madame Tussauds. Seluruh benda-benda warisan perang dirawat resik seperti baru keluar dari pabrik. Sesuai standar Eropa, tiap wahana di sini juga dilengkapi website resmi.

Bahkan bagi turis Jerman sekalipun, Normandy punya magnetnya tersendiri. Di sini terdapat tujuh kompleks makam prajurit leluhur mereka. Tahun lalu, Jerman, negara yang berada di pihak “musuh” dalam Perang Dunia II, merupakan penyumbang turis terbanyak keempat bagi Normandy. “Ketika memandu turis Jerman, kami menghindari kata Nazi, karena konotasinya negatif,” ujar David, salah seorang pemandu tur, tentang taktik simpatiknya. “Perang sudah rampung. Dalam upacara peringatan D-Day, veteran Jerman dan Amerika bahkan bersalaman. Saya rasa banyak orang dulu terlibat perang karena memang tidak ada pilihan.”

Kunci sukses lain Normandy dalam menjala turis terletak pada “barang dagangannya.” Perang Dunia II, pertempuran global terakhir di muka bumi, mudah dicerna dan dipahami, karena itu lebih mudah dipasarkan. Kecuali mungkin laskar Neo-Nazi, mayoritas warga bumi sepakat memersepsikan perang akbar itu sebagai pertarungan antara kebaikan versus kejahatan. Kasusnya berbeda dari perang lain, misalnya Perang Irak, di mana opini publik terbelah soal motifnya, eksekusinya, bahkan tentang kejelasan siapa sebenarnya yang benar dan salah. Mudah dibayangkan peningnya sang kurator jika Museum Perang Irak didirikan.

Mudahnya mencerna Perang Dunia II saya temukan pula di Arromanches 360, bioskop dengan layar yang ditata melingkar. Bersama puluhan turis, saya menonton film dokumenter yang menuturkan operasi pembebasan Eropa dari cengkeraman Nazi (atau “Jerman” menurut pemandu lokal). Film dimulai dengan penampilan wajah Hitler yang dingin, disusul oleh cuplikan adegan pertempuran yang heroik. Suara desing peluru dan letusan bom terdengar silih berganti. Di ujung film, pasukan Jerman bergelimpangan di jalan, sementara rakyat Prancis bersorak-sorai merayakan kemenangan. Sebuah film laga yang berakhir bahagia. Perang besar yang memakan jutaan nyawa itu berhasil diringkas dalam 20 menit. “Tontonan yang menarik,” ujar Guy Hawthorne, pria asal Afrika Selatan, di toko suvenir Arromanches 360. Meski tidak memiliki ikatan sejarah dan emosional dengan Perang Dunia II, dia mengaku “terkesan pada kemampuan Normandy mengemas situssitus perangnya bagi turis asing.”

Hari-hari pertama di Normandy, saya membayangkan wisata perang di sini hanya menarik bagi anak-anak jenderal, penggemar airsoft gun, atau penikmat film laga semacam Saving Private Ryan. Tapi Normandy rupanya berhasil membuat sejarah penuh darah bisa dikenang khalayak luas semudah mengunyah berondong.

PANDUAN

Pelesir Perang Atas: Koleksi pakaian dan kendaraan di Airborne Museum, kompleks yang mengenang satuan penerjun dalam Operation Neptune. Kiri: Turis memotret atap Gereja Sainte-Mère-Église yang dihiasi parasut— instalasi yang bertujuan mengenang jasa...

FOTO-FOTO LAIN DI ARTIKEL INI BISA DILIHAT DI DESTINASIAN.CO.ID

Memori Tragedi Pesisir yang menjadi tempat pendaratan pasukan Sekutu pimpinan Amerika pada 1944 dalam operasi pembebasan Eropa dari Nazi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.