Rute

DestinAsian Indonesia - - RETROSPECT -

Penerbangan ke Melbourne dilayani oleh banyak maskapai, salah satunya

Diukur menggunakan banyak parameter, kualitas hidup di sini memang prima. Tingkat harapan hidup tinggi. Angka kriminalitas rendah. Bagi banyak orang tua, termasuk di Indonesia, Melbourne juga merupakan destinasi favorit untuk mengirim anak berkuliah. Dua kampus di sini masuk daftar 100 terbaik dunia, sementara tingkat konsumsi bahan bacaannya paling lebih tinggi dari semua kota di Australia—statistik yang menjadikan Melbourne kota literatur versi UNESCO.

Tapi semua itu sesungguhnya ada harganya. Kualitas hidup di sini harus “dibeli” dengan biaya mahal. Secangkir kopi rerata dibanderol AUD4. Tarif parkir per jam setara harga sepiring masakan di restoran. Sementara rumah tipe sederhana di pinggiran kota dilego mulai dari AUD400.000 (sekitar Rp4 miliar), acap kali dengan sistem lelang, hingga memaksa generasi muda semacam Rose dan kawan-kawannya mengubur mimpi untuk memiliki papan dan halaman.

“Pilihannya hanya dua,” kata seorang wanita asal Singapura yang bekerja untuk biro pariwisata lokal tentang mahalnya hidup di Melbourne, “yakni memiliki gaji minimum AUD3.000 atau punya suami yang ringan tangan dan serbabisa. Dia harus bisa merangkap sebagai tukang kebun, tukang servis AC, tukang gorden, juga tukang jahit. Semua profesi ini tarifnya bisa belasan hingga puluhan dolar per jam.”

Layak huni tapi tidak ramah suami. Menyenangkan namun kelewat mahal. Apa sesungguhnya makna kota layak huni? Dan apa yang bisa kita pelajari dari Melbourne?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.