SENI BERSERAK

Dari Yogyakarta hingga Majalengka, ruang-ruang seni bermunculan dengan tawaran yang beragam. Kami meminta lima tokoh seni merekomendasikan 18 tempat yang patut Anda kunjungi.

DestinAsian Indonesia - - CONTENTS - TEKS & WAWANCARA CRISTIAN RAHADIANSYAH

Dari Yogyakarta hingga Surabaya, dari Bekasi hingga Majalengka, ruangruang seni bertaburan untuk menyalurkan kreativitas, memanjakan mata, serta menggerakkan perubahan. Kami meminta lima tokoh seni nasional merekomendasikan 18 ruang seni favorit mereka di Indonesia. Oleh Cristian Rahadiansyah

MUSEUM TOETI HERATY Rekomendasi oleh Bambang Bujono.

Museum ini mengoleksi banyak karya seniman besar Indonesia. Tapi bukan itu yang membuatnya spesial sebenarnya. Berbeda dari museum umumnya, karya-karya di sini tidak diperoleh dari perburuan di bursa atau balai lelang. Alih-alih, berkat kedekatan dengan banyak seniman, Toeti Heraty, sang pemilik museum, bisa memesan karya secara langsung dari pembuatnya, kadang mendapatkannya secara cuma-cuma.

Lukisan pertamanya dihadiahkan oleh Mochtar Apin. Keduanya bersua pertama kali di sebuah kapal yang berlayar dari Belanda ke Indonesia. Contoh lain, lukisan hitam-putih dari Kartika Affandi, didapatkan Toeti sebagai “barter” ongkos pulang sang perupa ke Yogyakarta, setelah pamerannya di Jakarta gagal menjual satu karya pun. Karya lain lagi, Mother and Two Children, dilukis Sudjojono pada 1971. Waktu itu, sebelum melanjutkan studi ke Belanda, Toeti ingin memiliki lukisan dirinya bersama kedua anaknya untuk dibawa sebagai penawar kangen.

Kisah-kisah personal semacam itu bertaburan di Museum Toeti Heraty. Di sini, menelusuri karya tak ubahnya menyelami jaringan persahabatan sang pemilik di dunia seni. Berbeda pula dari museum umumnya, Museum Toeti Heraty menempati sebuah rumah yang hingga kini masih berfungsi sebagai rumah. Banyak karya berkelindan dengan barang-barang pribadi dan bertaburan di area privat seperti kamar tidur dan ruang tamu. Dan sebagaimana sebuah rumah, museum ini pun mengalami problem khas rumah, mulai dari atap bocor, serangan rayap, hingga pencurian. Kata staf museum, sebuah lukisan buatan Kartika dan patung dari Dolorosa Sinaga raib digondol maling.

Selain karya yang sarat kisah, harta lain museum ini adalah perpustakaannya yang dijejali ribuan literatur bertema rancang bangun dan perempuan. Mendiang ayahanda Toeti, Roosseno Soerjohadikoesoemo, adalah seorang pakar beton yang pernah terlibat dalam proyek kolosal seperti Monumen Nasional dan Jembatan Semanggi. Sementara Toeti, selain memimpin beragam organisasi seni, adalah seorang feminis yang turut mendirikan Suara Ibu Peduli dan menerbitkan Jurnal Perempuan. Buku-buku di perpustakaan hanya bisa dibaca di tempat. Jika ingin menetap lebih lama, museum ini memiliki lima kamar yang dibanderol Rp350.000 per malam. Jl. HOS. Cokroaminoto 9-11, Menteng, Jakarta; 021/3911-823; cemara6galeri.wordpress.com.

ORBITAL DAGO Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Kehadirannya seakan menegaskan kesimpulan banyak tokoh seni dalam beberapa tahun terakhir: Bandung sedang mengembalikan pamornya sebagai kutub seni Indonesia. Orbital, galeri seni kontemporer yang diresmikan pada Mei 2017, berlokasi di kawasan dataran tinggi Dago. “Bentuknya mirip Kedai Kebun di Yogyakarta,” jelas Ade Darmawan, “tapi pemandangannya lebih bagus.”

Untuk saat ini, Orbital membawahi 17 perupa, di mana sebagian memiliki hubungan genealogis atau akademis dengan Bandung. Yuli Prayitno, Yudi Noor, dan Erika Ernawan misalnya, lahir di Bandung, sementara Aliansyah Caniago dan Dita Gambiro menempuh pendidikan seninya di Institut Teknologi Bandung. Selain area pamer, Orbital memiliki toko, kafe, dan ruang khusus lokakarya.

Hingga Februari 2018, Orbital telah menggelar empat pameran. Dapur seninya diasuh oleh Rifky Effendy, kurator independen yang rajin terlibat di banyak acara seni. Rifky mencetuskan Bandung Biennale perdana, menjabat kurator Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2013, serta mengisi posisi Creative Director Art Jakarta 2017. Jl. Rancakendal Luhur 7, Bandung; 022/8252-2980; orbitaldago.com.

EDWIN’S GALLERY Rekomendasi oleh Mikke Susanto Membaca kisah Edwin’s Gallery seperti mengurai tren pasar seni di Indonesia. Pada tahun-tahun pertamanya, galeri privat yang didirikan pada 1984 ini meletakkan fokusnya pada karya-karya blockbuster dari maestro sekaliber Affandi, Sudjojono, dan Mochtar Apin. Pada 1990-an, Edwin’s Gallery mulai berpaling pada seniman muda semacam Nyoman Masriadi dan Entang Wiharso. Belakangan, Edwin Rahardjo, sang pemilik galeri, aktif mengeksplorasi seni kinetik.

Edwin’s Gallery menempati sebuah rumah di kawasan elite Kemang. Galeri ini terbuka untuk umum. Tiba di serambi galeri, kita mula-mulanya akan disambut sebuah patung buatan Nyoman Nuarta. Mendekati pintu galeri, kita dipaksa merunduk oleh atap genting yang menjulur rendah— sebuah desain yang terinspirasi adab kulonuwun khas Jawa. Masuk ke ruang pamer, jika belum dibeli orang, ada lukisan dari Sunaryo dan Heri Dono, disusul 20-an karya yang ditata apik. Berpindah ke plaza belakang, ada pahatan tali sepatu buatan Yani Mariani dan patung tukang cat dari Dolorosa Sinaga. Bagian plaza ini juga memperlihatkan sisi lain Edwin Rahardjo sebagai seorang arsitek. Jendela, pintu, dan ornamen dindingnya seolah datang dari aliran desain yang berbeda-beda.

Edwin’s Gallery, yang kini menaungi lima seniman asing, juga rutin menanggap pameran. Hingga Desember 2017, total sudah 205 pameran yang digelarnya, sebagian melibatkan kurator independen dan kritikus seni semacam Jim Supangkat, Enin Supriyanto, dan Aminudin T.H. Siregar. Kesediaan melibatkan mereka, juga kepedulian pada wacana dan diskursus, adalah sebagian alasan Edwin’s Gallery dihormati di dunia seni nasional. “Edwin’s Gallery menyajikan pameran yang berkualitas dan memberi pengalaman menelusuri kreativitas para perupa muda hingga maestro,” jelas Mikke Susanto. Jl. Kemang Raya 21, Kemang, Jakarta Selatan; 021/7194721; edwinsgallery.com.

JATIWANGI ART FACTORY Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Di tengah asyiknya dunia seni Indonesia menyaksikan pertumbuhan galeri partikelir yang mewah, perupa yang merangkap jutawan, juga lelang dan bursa seni yang menyilaukan, Jatiwangi art Factory (JaF) seolah kembali mengingatkan: seniman adalah aktor perubahan.

JaF bersarang di Jatiwangi, sebuah kecamatan yang dulu terkenal sebagai sentra penghasil genting, tapi kemudian mengalami transformasi besar karena krisis ekonomi, kepergian banyak wanita lokal ke luar negeri untuk menjadi TKW, serta kehadiran mal dan jalan tol. Melalui aneka programnya, JaF berupaya merespons dan memaknai konteks lokal tersebut. “Semua programnya diadakan di kampung dan melibatkan warga,” ujar Ade Darmawan.

Melalui Ceramic Music Festival, JaF mengubah genting menjadi instrumen musik sekaligus membangun kembali relasi antara warga dan tanahnya. Melalui Residency Festival dan Village Video Festival, mereka mengundang seniman lokal dan asing untuk menyelami kehidupan lokal dan menciptakan karya kolaboratif bersama warga. Mella Jaarsma dan Masha Ru adalah dua contoh seniman prominen yang pernah mondok di Jatiwangi. Kadang, JaF menanggap pula acara hiburan yang tak melulu terkait seni, umpamanya kontes binaraga khusus kuli pabrik genting.

Ketika didirikan pada 2005 oleh seniman Arief Yudi, JaF bermitra dengan hanya beberapa keluarga. Kini, banyak programnya melibatkan warga dari 16 desa, bukan semata sebagai penonton, tapi juga panitia. Pendekatan partisipatorisnya cukup menyedot perhatian dunia seni. Empat tahun

silam, Camat Jatiwangi dan Lurah Desa Jatisura diundang oleh Fukuoka Asian Art Museum untuk menceritakan program-program seni di Jatiwangi dan kontribusinya bagi masyarakat. Jl. Makmur 604, Desa Jatisura, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat; jatiwangiartfactory@gmail.com; jatiwangiartfactory.tumblr.com.

MUSEUM MACAN

Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Bambang Bujono, FX Harsono, dan Mikke Susanto.

”Di museum ini,” jelas Bambang Bujono, “kita bisa melihat suguhan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain: karya-karya seniman Indonesia dan luar negeri bersanding sejajar.” Suguhan itulah yang terlihat dalam ”Seni Berubah. Dunia Berubah,” pameran debut Museum Macan (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) yang berakhir pada 18 Maret silam. Di sini kita bisa melihat, misalnya, lukisan buatan Heri Dono bertetangga dengan lukisan Jean-Michel Basquiat, sementara karya maestro Srihadi Soedarsono bersisian dengan karya Mark Rothko.

Museum garapan pengusaha Haryanto Adikoesoemo ini diresmikan pada 4 November 2017. Dari total 800 karya yang dimilikinya, 90 di antaranya telah dipajang di pameran perdana. Seniman-seniman pembuatnya datang dari beragam mazhab dan era, sebut saja Raden Saleh, Trubus, Wang Guangyi, dan Damien Hirst. Tapi Museum Macan tak akan menampilkan koleksi dari gudangnya semata. Mei 2018, tur pameran Yayoi Kusama akan mampir di sini.

Kehadiran Museum Macan turut menggairahkan demam wisata ke museum di Jakarta. Saban akhir pekan, sekitar 4.000 orang mengarungi interiornya yang didesain oleh MET Studio London. Menurut FX Harsono, satu keunggulan museum ini adalah pengelolaannya yang profesional. Pengurusnya merangkul publik dan korporasi lewat sistem keanggotaan; ruang pamernya terbuka untuk kegiatan organisasi lain; dan program seninya berorientasi pada khalayak luas, termasuk anak-anak. Selain menyediakan ruang khusus pengunjung cilik, Museum Macan membentuk Forum Pendidik yang bertujuan mengasah wawasan seni bagi puluhan guru sekolah di Jakarta. AKR Tower Level MM, Jl. Panjang 5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat; 021/22121888; museummacan.org.

KEDUTAAN BESAR BEKASI Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Dari empat kawasan satelit Jakarta, Bekasi mungkin yang paling sering diolok-olok. Puncaknya pada 2015 saat kota ini distempel “negara lain,” kadang “planet lain.” Tapi segala cacian itu justru menginspirasi Fithor Faris untuk mencetuskan ide brilian: mengganti nama ruang seni miliknya dari Pede Gede Kreatif menjadi Kedutaan Besar Bekasi. Tak hanya itu, dia bahkan mengundang Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu untuk meresmikannya pada 1 November 2015. Strategi self-deprecate (menertawakan diri sendiri) itu sukses. Bekasi masih sering dicibir, tapi nama Kedubes Bekasi viral di media massa.

Kedubes Bekasi, sekitar tiga kilometer dari gerbang tol Jatiasih, adalah kompleks serbaguna yang menyalurkan energi kreatif anakanak muda Bekasi. (Komikus selebriti Aruga Perbawa adalah salah seorang anggotanya.) Tempat ini ajek menggelar acara. Program music gig Main di Kedubes bergulir setidaknya sebulan sekali, begitu pula sesi pemutaran film indie bertajuk Be(kasi) Movie Screening. Selain itu, ada pembacaan puisi, diskusi sastra, pasar seni, serta kelas menggambar. “Tempat ini mirip versi kecil Gudang Sarinah Ekosistem sebenarnya,” jelas Ade Darmawan.

Untuk membiayai kegiatan Kedubes Bekasi, Fithor dan rekanrekannya menjaring dana dari

beragam sumber. Di Art Shop, mereka menjual kaus, pin, serta paspor Bekasi seharga Rp35.000 per buah. Di Kantin Kedubes, mereka menjajakan antara lain singkong goreng, es kopi bir, serta gabus pucung (ikan gabus dengan kuah keluak). Yang terakhir ini diberi embel-embel “makanan khas Bekasi yang terancam.”

Melalui beragam ikhtiarnya, Kedubes Bekasi perlahan menempatkan Bekasi, kota yang tak punya tradisi seni, dalam sirkuit seni Indonesia. Dengan itu, ia sekaligus mengirimkan sebuah pesan: ruang seni bisa muncul di mana saja, termasuk di kota yang marak dicela. Satu kendala tempat ini barangkali hanyalah listrik yang kadang padam. “Pernah saat Endah N Rhesa main di sini,” kenang Fithor, “tiba-tiba mati listrik, padahal baru dua lagu.” Jl. Raya Jatikramat 2A, Kecamatan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.

RUMAH SENI CEMETI Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono dan FX Harsono.

Dunia seni Yogyakarta berutang banyak pada Rumah Seni Cemeti. Melalui beragam programnya, tempat yang dirintis pada 1988 ini berjasa menyemai bakat-bakat lokal, mewartakan karya-karya mereka ke luar negeri, serta menyediakan wacana yang tajam bagi publik untuk memahami skena seni Yogyakarta. Dari rahim Cemeti inilah kita awalnya berkenalan dengan sosok-sosok progresif semacam Heri Dono, Eddie Hara, dan Agus Suwage. “Cemeti,” kata Bambang Toko, “merupakan pionir galeri yang menampilkan seniman-seniman kontemporer.”

Mencermati kiprahnya, Cemeti sebenarnya mirip sebuah kampus. Program utamanya adalah residensi, tak cuma bagi seniman, tapi juga kurator dan penulis. Acara berkalanya antara lain diskusi bersama artis, kuliah publik, serta presentasi proyek seni. Sementara lembaga arsipnya, Indonesian Visual Art Archive, aktif bergerilya mengumpulkan dokumentasi segala peristiwa di jagat seni— infrastruktur yang vital bagi perkembangan dunia seni nasional. Cemeti sebenarnya juga rutin menggelar ekshibisi, tapi sajiannya cenderung lebih konseptual ketimbang komersial. “Bentuk kesenian kontemporer yang eksperimental bisa kita temui di sini,” jelas FX Harsono.

Kini, di usia 30 tahun, Cemeti sebenarnya telah mapan. Tapi tempat yang didirikan oleh duet Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma ini masih setia berperan layaknya kanal alternatif. Merespons fenomena komersialisasi seni di Yogyakarta misalnya, mereka meluncurkan proyek-proyek yang tajam mengkritisi pasar. Dilatari semangat serupa, galerinya mencopot semua label dari karya yang dijual. Kata Nindityo, Cemeti ingin publik kembali membeli karya berdasarkan penghayatan, bukan karena silau akan kebesaran nama senimannya. Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta; 0274/371015; cemetiarthouse.com.

GUDANG SARINAH EKOSISTEM Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono.

Namanya sudah cukup menjelaskan wujudnya: gudang milik pusat perbelanjaan Sarinah yang disulap menjadi ekosistem seni. Dan layaknya ekosistem seni, “makhluk” penghuninya cukup beragam. “Di sini tidak hanya seni rupa yang dipresentasikan,” jelas Bambang Toko, “tapi juga musik, desain, dan subkultur.”

Di Gudang Sarinah Ekosistem (GSE), pengunjung bisa menonton film di Forum Sinema, membaca buku di perpustakaan, atau berbelanja suvenir. Di waktu-waktu tertentu, ada presentasi oleh 69 Performance Club, festival video musik MuVi Party, bazar Tumpah Ruah, juga konser beragam artis dari beragam aliran. Musisi yang pernah mengisi panggungnya antara lain Efek Rumah Kaca, Shaggydog, serta grup kasidah

Nasida Ria. “Cocok untuk anak muda,” tambah Bambang Toko.

GSE dimotori sekaligus dimandori oleh ruangrupa, sebuah organisasi seni yang aktif menggelar pameran, festival, lokakarya, dan penelitian. Awalnya mereka bergerak nomaden, dari daerah Pondok Labu, ke Pasar Minggu, lalu ke Tebet. Usai pendirian GSE pada 2015, ruangrupa bukan hanya memiliki pelabuhan baru yang megah dan representatif, tapi juga mampu menyediakan wadah bagi pergelaran garapan organisasi lain, misalnya Jakarta Biennale dan festival graffiti Street Dealin.

Pada akhir tahun ini, menurut rumor, GSE bakal direlokasi lantaran ruangrupa keberatan dengan tarif sewanya yang mahal—alasan lain bagi Anda untuk segera mengunjunginya. Jl. Pancoran Timur II No.4, Jakarta Selatan; 0856-92170155; gudangsarinah.com.

SELASAR SUNARYO ART SPACE Rekomendasi oleh FX Harsono.

Ruang seni ini hadir di masa ketika mayoritas orang Indonesia tak punya energi untuk menikmati seni—September 1998. Kala itu, Soeharto belum lama lengser, bau amis sisa kerusuhan masih tercium, dan banyak perut terdesak lapar. Tapi Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) terbukti mampu bertahan melewati periode sulit itu. Beberapa tahun kemudian, tempat ini bahkan melampaui khitahnya dengan menjadi salah satu objek wisata terpopuler di Bandung.

Sesuai namanya, tempat ini didirikan oleh Sunaryo, seniman kelahiran Banyumas yang menempuh pendidikan seninya di Institut Teknologi Bandung. Bermula sebagai galeri privat, SSAS kemudian berkembang menjadi ruang seni yang komplet. Fasilitasnya antara lain perpustakaan, kafe, toko suvenir, pondokan untuk residensi, serta amfiteater yang dikepung alam rindang. Terpisah dua menit berjalan kaki dari kompleks ini, ada Wot Batu yang memajang karya-karya unik berbahan batu dari Sunaryo. “Ruang seni yang indah dan asri,” jelas FX Harsono tentang SSAS. “Sebuah tempat yang harus dikunjungi.”

Tahun ini, merayakan ulang tahun ke-20, SSAS akan menanggap serangkaian acara menarik sepanjang tahun. Ajang pembukanya, Sense of Order, berlangsung pada 26 Januari-25 Februari 2018 dengan menampilkan karya-karya dari Nurdian Ichsan, seniman sekaligus dosen Program Studi Seni Keramik ITB. Jl. Bukit Pakar Timur 100, Bandung; 022/2507-939; selasarsunaryo.com.

OHD MUSEUM Rekomendasi oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono.

Nama Dr. Oei Hong Djien sempat terseret skandal lukisan palsu, tapi sang maesenas agaknya tetap dihormati banyak orang sebagai sosok yang berperan besar dalam mengembangkan dunia seni rupa. Dr. Oei pernah menjabat penasihat The National Art Gallery Singapore dan anggota Dewan Pembina Yayasan Biennale Yogyakarta. Dia juga gemar membeli dan mempromosikan karya seniman Indonesia, termasuk ke kolektor berpengaruh seperti Budi Tek, pemilik Yuz Museum di Shanghai. Kontribusi lain Dr. Oei bagi dunia seni tentu saja pendirian OHD Museum, bangunan artistik yang menempatkan Magelang dalam orbit penikmat seni dunia.

Dr. Oei memiliki lebih dari 2.000 karya. Koleksi ekstensif inilah yang dipamerkan di museum secara bertahap dan berkala. Dari 29 November 2017-31 Maret 2018 misalnya, OHD Museum menggelar pameran bertajuk The Modern & The Contemporary yang menyuguhkan kreasi dari nama-nama masyhur sekaliber Affandi, But Mochtar, Nasirun, dan FX Harsono. Museum ini, kata Bambang Toko, “menampilkan karya-karya seniman Indonesia, baik seniman senior maupun seniman kontemporer masa kini.”

Magnet lain OHD Museum terletak pada bangunannya yang notabene juga sebuah “karya seni” —keunggulan yang jarang dimiliki ruang seni lain. Museum yang diresmikan pada 2012 ini menempati bekas gudang tembakau. (Dr. Oei pernah bekerja sebagai grader daun tembakau.) Fasadnya dihiasi relief evokatif buatan Entang Wiharso; ruang tunggunya dipercantik mural dari Eko Nugroho; sementara plaza kecil di jantungnya ditaburi paving block atraktif buatan 40 perupa, termasuk Putu Sutawijaya dan Heri Dono. Jl. Jenggolo 14, Magelang, Jawa Tengah; 0293/363-420; ohdmuseum.com.

GARDU HOUSE Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

“Ini komunitas street art terbesar di Jakarta,” jelas Ade Darmawan. Yang lebih menarik, Gardu House tidak lahir dari rahim Institut Kesenian Jakarta. Alih-alih, komunitas ini dirintis oleh sekelompok alumnus kampus desain InterStudi Jakarta. Nama “Gardu” terinspirasi dari sebuah gardu listrik di mana mereka biasanya bercengkerama sepulang kuliah.

Setelah sebelumnya bersarang di daerah Fatmawati dan Bintaro, Gardu House sejak 2015 mengontrak sebuah rumah di Jalan Ciputat Raya, sekitar satu kilometer dari Pasar Kebayoran Lama. Anggota aktifnya sekitar 20 orang, hampir semuanya pernah berurusan dengan aparat akibat aksi corat-coret. Jumlah seniman jalanan yang dinaungi tak bisa dipastikan karena Gardu House sedari awal merupakan sebuah komunitas cair yang merangkul siapa saja, termasuk para penggemar skateboard dan BMX. “Siapa saja boleh bergabung di sini, asalkan mau berbagi ilmu. Kalau bisa masak, boleh masak. Kalau suka gambar, boleh gambar,” jelas Rizky ‘Jablay’ Nugroho, dedengkot Gardu House.

Sejalan dengan semangat itu, acara-acara garapan Gardu House juga terbuka bagi semua orang, misalnya jamming bulanan, bazar stiker, serta tur City Connection ke kota-kota di Indonesia. Satu hajatannya yang menuntut proses administrasi lebih ketat hanyalah Street Dealin. Tahun lalu, festival grafiti raksasa ini diikuti oleh 27 seniman asal 10 negara, serta dihadiri sekitar 3.500 pengunjung. “Festival ini sangat besar, berskala internasional, mungkin yang terbesar di Asia,” tambah Ade.

Gardu House juga melayani proyek komisi. Hotel Indonesia, Java Jazz, dan Acer adalah beberapa mantan kliennya. Sejumlah anggota komunitas ini juga sempat disewa sebagai artisan oleh Entang Wiharso untuk menghiasi Children’s Art Space di Museum Macan. “Kita sudah punya unit usaha. Uang dari proyek komersial lebih banyak dipakai untuk menghidupi komunitas,” ujar Budi, anggota Gardu House. Jl. Ciputat Raya 324, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan; 0813-8048-3125.

SANGKRING ART SPACE Rekomendasi oleh Mikke Susanto.

Dihuni banyak ruang seni, mulai dari Plataran Djoko Pekik hingga SaRanG Building, Kecamatan Kasihan rutin memikat khalayak seni dari penjuru negeri. Tapi ada satu tempat di sini yang sepertinya melampaui semua tetangganya dalam hal ukuran, variasi acara, serta pamor di panggung dunia— Sangkring Art Space (SAS). “Daya tarik Sangkring terletak pada pameran-pamerannya, serta ruangruang yang ada di dalamnya,” jelas Mikke Susanto.

SAS, galeri milik seniman prolifik Putu Sutawijaya, mulai dikonstruksi pada 2005. Dua tahun berselang, tempat ini diresmikan dan langsung menyita perhatian publik. Kontras dari banyak galeri di Yogyakarta yang bersahaja dan bernuansa rural, SAS tampil sangat modern dengan postur yang gigantik dan interior yang lapang. Majalah Time sempat membuat ulasan khusus tentangnya.

Tak berhenti di situ, SAS berekspansi. Pada 2011, sang pemilik

meluncurkan Sangkring Art Project, sebuah ruang bagi eksperimen dan kolaborasi seni. Terakhir, pada 2016, Putu Sutawijaya melansir sayap baru bernama Bale Banjar melalui ajang Yogya Annual Art. “Meski terletak di desa, Sangkring memberi pengunjung tampilan pameran yang bernuansa internasional,” tambah Mikke. Nitiprayan RT 1/RW 20 No.88, Kasihan, Bantul, Yogyakarta; 0274/381-032; sangkringart.com.

DIA.LO.GUE Rekomendasi oleh FX Harsono.

Namanya lahir dari permainan leksikon yang cerdik: sebuah wadah untuk dia, lo, dan gue berdialog. Memasuki tempat ini, tamu pertama-tama akan singgah di butik yang menjajakan barang artistik seperti kaus buatan komunitas Daging Tumbuh dan radio kayu merek Magno. Setelahnya, ada galeri yang rutin memajang belasan karya. Berpindah ke zona berikutnya, ada restoran lapang yang ditaburi meja dan kursi kayu. Dia.Lo.Gue, menurut FX Harsono, “memberikan wawasan seni rupa dan desain kepada masyarakat.”

Dia.Lo.Gue didirikan pada 2010 oleh trio Hermawan Tanzil, Franky Sadikin, and Windi Salomo. Desainnya mengusung gaya urban tropis: kombinasi antara struktur beton polos, ornamen kayu, serta konsep semi-terbuka—sebuah suguhan apik yang khas Andra Matin, arsitek yang juga menggarap Potato Head Bali. Bermodalkan interior yang trendi itu pula, Dia. Lo.Gue luwes merangkul beragam segmen. Berbeda dari ruang seni yang kerap terkesan intimidatif terhadap publik yang awam seni, tempat yang berlokasi di kawasan elite Kemang ini kerap dijadikan wadah kongko oleh grup wanita ekspatriat, kelompok arisan, juga pelajar. Mereka lazimnya berkerumun di ruang paling belakang yang berlangit-langit tinggi dan terkoneksi ke sepetak taman rindang—sebuah kemewahan di Jakarta. Di ruang belakang ini pula kita bisa melihat patung buku granit kreasi Rizal Kedthes, serta seutas tangga fotogenik yang terkoneksi ke kantor LeBoYe, firma desain milik Hermawan Tanzil. Jl. Kemang Selatan 99A, Jakarta Selatan; 021/7199-671; dialogueartspace.com.

GALERI NASIONAL INDONESIA Rekomendasi oleh Bambang Bujono dan Mikke Susanto.

“Jika ingin mengenal lukisanlukisan Indonesia dari era Raden Saleh hingga masa kini,” jelas Bambang Bujono, “Galeri Nasional tempatnya.” Galeri Nasional Indonesia, institusi milik negara, adalah basis awal yang ideal untuk berkenalan dengan dunia seni Indonesia. Di pameran tetapnya yang disebar di dua galeri, publik bisa menemukan karya-karya dari tiap periode, kutub, dan mazhab seni sepanjang hampir dua abad.

Galeri 1 didedikasikan untuk era perintis 1820-an hingga babak seni modern. Bagaikan tur napak tilas, kita diajak menengok kembali lukisan dramatis buatan maestro Raden Saleh, menikmati pemandangan molek pada kanvas Mooi Indie, mencerna eksperimen para seniman dalam merespons penjajahan, serta mempelajari kelahiran sejumlah sanggar dan akademi seni berpengaruh.

Berpindah ke Galeri 2, jagat seni nasional menikung tajam akibat peristiwa Desember Hitam dan Gerakan Seni Rupa Baru yang dimotori oleh para pemuda kritis semacam FX Harsono, Hardi, dan Jim Supangkat. Mereka pula yang menyediakan landasan bagi babak seni berikutnya, Era Kontemporer, yang diwakili antara lain oleh Heri Dono dan Eddie Hara.

Selain pameran tetap, Galeri Nasional memiliki ruang-ruang yang didedikasikan bagi pameran temporer. Januari silam misalnya, penulis Jean Couteau menggagas sebuah pameran yang memajang karya-karya perupa perempuan Geneviève Couteau. Setelahnya ada pameran bertajuk Meletup

Yoes Rizal, juru sungging kelahiran Palembang. Acara-acara periodik semacam inilah yang membuat Galeri Nasional senantiasa terasa hidup. Tempat ini, menurut Mikke Susanto, “membantu publik memahami perkembangan seni rupa.” Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat; 021/3483-3954; galeri-nasional.or.id.

KEDAI KEBUN FORUM Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Andaikan jalan cupet Tirtodipuran terasa lebih sesak, itu biasanya karena Kedai Kebun Forum (KKF) sedang menanggap acara. Sejak didirikan pada September 1997, tempat ini ajek menggelar aneka kegiatan seni. Tahun lalu misalnya, KKF menggelar pop up market Toko Musik Podomoro, pemutaran film Fitzcarraldo, serta pentas grup Okazaki Art Theatre asal Jepang. “Program-programnya beragam dan merangkul anak muda,” jelas Ade Darmawan.

KKF diniatkan sebagai kuali pelebur bagi beragam gagasan dan kreativitas. Pendirinya, duet Agung Kurniawan dan Yustina Neni, memang dikenal aktif mendorong perkembangan seni. Yustiana ikut mendirikan Koalisi Seni Indonesia, sementara Agung adalah seniman enigmatik yang merangkap aktivis seni. Dari iktikad keduanya memajukan dunia seni pula, lahir Yogyakarta Contemporary Art Map, peta gratis yang memandu turis untuk melacak kantongkantong seni di Yogyakarta.

Berkat popularitasnya, KKF tercantum dalam banyak panduan wisata, termasuk buku terbitan Lonely Planet. Memang, tak semua orang berkunjung untuk menonton acara. Di luar fungsi utamanya sebagai ruang seni serbaguna, KKF menyediakan sarana kongko dan belanja. Bangunan bohemian dua lantai ini menampung sebuah restoran artistik yang didesain oleh arsitek kondang Eko Prawoto, ditambah sebuah toko yang menjajakan buku, kaus, serta aksesori buatan studio-studio lokal. “Saya juga suka ke sini untuk membeli suvenir,” tambah Ade. Jl. Tirtodipuran 3, Yogyakarta; 0274/376-114; kedaikebun.com.

HALIM ART MUSEUM Rekomendasi oleh Bambang Bujono.

Tempat ini memajang karya-karya dari kutub seni yang selama puluhan tahun disikapi penuh curiga—“kiri.” Dari sekitar 1.000 karya yang dikoleksinya, 300 di antaranya dibuat oleh eksponen Sanggar Bumi Tarung, organisasi seni rupa yang dulu berafiliasi ke Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Ini museum dengan koleksi lukisan Lekra terbanyak,” klaim Bambang Bujono.

Halim Art Museum (HAM) bersemayam di daerah Citeureup, Bogor. Jika Anda belum pernah mendengar namanya, itu karena museum ini baru dinamai, setidaknya secara tentatif, pada 20 Januari 2018 ketika DestinAsian Indonesia menanyakannya kepada pihak pemilik. “Saya sempat terpikir menamainya Medici,” jelas EZ Halim, pengusaha kelahiran Pontianak, “tapi untuk saat ini disebut EZ Halim Museum dulu saja.” Sepuluh hari setelahnya, dia merevisi namanya menjadi Halim Art Museum.

Beberapa karya di sini dibuat antara lain oleh Amrus Natalsya, Misbach Tamrin, Djoko Pekik, Tatang Ganar, dan Gambir Anom. EZ Halim menyukai lukisan atau patung kreasi mereka karena mengandung nilai arsip yang penting, misalnya tentang situasi politik Indonesia atau protes terhadap rezim Orde Baru. “Karyakarya mereka seperti catatan zaman,” ujarnya. “Tapi saya sebenarnya seperti pemulung. Saya suka membeli karya yang tidak diminati pasar.”

Akibat keterbatasan ruang, HAM hanya mampu memajang 89 lukisan dan patung yang disebar di dua lantai. Tiga lukisan di antaranya digantung di samping wastafel, sebagian lainnya ditimbun berimpitan di gudang layakdari

nya lembaran-lembaran marmer. Jika ingin singgah, kita harus mengontak pihak pemilik, sebab tempat ini belum dibuka untuk umum. Dan sebenarnya memang tak mungkin berkunjung tanpa dipandu EZ Halim. Seluruh karya tidak dilengkapi label, sementara katalog belum dicetak. Satu-satunya benda yang mendekati katalog adalah sebuah buku Sinar Dunia yang berisi inventori karya dalam tulisan tangan. Jl. Baru Puspa Negara 128, Citeureup, Jawa Barat; ottowilliam.halim@gmail.com.

C2O LIBRARY & COLLABTIVE Rekomendasi oleh Ade Darmawan.

Tempat ini lahir dari keresahan. Surabaya, metropolitan terbesar kedua di Indonesia, ternyata kekurangan ruang komunal untuk berbagi pengetahuan dan gagasan. C2O Library & Collabtive dirintis 10 tahun silam demi mengisi lubang tersebut. “C2O sebenarnya bermula sebagai perpustakaan. Tapi tempat ini sekarang telah memiliki pula area seni untuk pameran, diskusi, dan pertunjukan,” jelas Ade Darmawan.

C2O aktif menggelar penelitian, lokakarya, dan diskusi. Perpustakaannya mengoleksi lebih dari 7.000 literatur dengan fokus desain, seni, sastra, dan sejarah, ditambah sekitar 1.000 film yang mayoritas tidak dilirik bioskop lokal. Pendiri C2O, Kathleen Azali, meraih gelar masternya dari Universitas Airlangga dengan tesis bertema perpustakaan alternatif.

Ruang swadaya ini juga menanggap banyak acara. Januari silam, C2O memutar film Chef of South Polar. Sebulan sebelumnya, ada pameran TANAM! dan diskusi bersama delegasi dari Frontyard Library, Sydney. Pergelaran yang meriah khusus anak muda juga tersedia, contohnya Surabaya Pre-Loved Bazaar Flea Market yang menjajakan barangbarang bekas. Sementara khusus wisatawan, C2O menawarkan tur jalan kaki Manic Street Walkers (gratis) dan Surabaya Johnny Walker (berbayar)—dua inisiatif yang berniat memperlihatkan sisi klandestin Surabaya Jl. Dr. Cipto 22, Surabaya, Jawa Timur; 031/5678250; c2o-library.net.

ROH PROJECTS Rekomendasi oleh FX Harsono.

Bertengger di lantai 40 Equity Tower, ROH Projects merupakan galeri privat dengan alamat termahal di Indonesia. Jaraknya cuma beberapa langkah dari sarang kongko populer semacam Potato Head dan The Goods Diner. Dari jendela galeri ini, kita bisa melihat pencakar langit yang bertaburan di kawasan SCBD.

ROH Projects menempati sepetak ruang cupet yang bertetangga dengan kantor Korea International Trade Association. Interiornya didominasi warna putih dengan plafon telanjang bergaya industrial. Galeri muda ini dirintis pada 2012 oleh seorang pencinta seni yang juga muda, Laksamana Tirtadji Junior, kini berusia 29 tahun.

ROH Projects menaungi enam seniman kontemporer alumni Institut Teknologi Bandung. Di antara mereka, ada nama Arin Dwihartanto Sunaryo, putra seniman senior Sunaryo; serta Bagus Pandega, seniman kelahiran 1985 yang pada tahun lalu berpartisipasi dalam Amsterdam Light Festival. “Karya-karya seniman muda Indonesia yang berkualitas bisa dilihat di sini,” jelas FX Harsono.

Galeri ini cukup aktif berpartisipasi dalam bursa seni, misalnya ArtJog, Art Basel Hong Kong, dan Art Fair Philippines. Kadang, tempat ini juga menggelar pameran temporer. Januari silam, ROH Projects memajang gambar dan instalasi atraktif buatan Uji ‘Hahan’ Handoko, perupa muda Yogyakarta yang sedang bersinar. Equity Tower 40E, SCBD, Jl. Jenderal Sudirman Kav.52-53, Jakarta Selatan; 021/5140-2116; rohprojects.net.

Simfoni Seni Lukisan dan patung karya I Made Palguna dalam pameran solonya yang digelar di Sangkring Art Space, ruang seni milik Putu Sutawijaya di daerah Bantul, Yogyakarta.

Kaleidoskop Karya Dari foto paling atas: Pintu ruang galeri di Museum Toeti Heraty, Jakarta; pameran tunggal Restu Taufik Akbar di Orbital Dago, galeri privat baru di Bandung.

Artistik Eksentrik Searah jarum jam, dari kanan: Interior Museum Macan yang desain oleh MET Studio London; lomba binaraga khusus buruh genting yang diadakan oleh Jatiwangi art Factory, Majalengka; ruang pamer di Edwin's Gallery, galeri privat yang didirikan pada 1984 oleh kolektor Edwin Rahardjo; patung buatan Dolorosa Sinaga di plaza belakang Edwin's Gallery, Jakarta.

Kantong Kreatif Atas: Toko suvenir di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta. Bawah: Beberapa karya tanpa label di Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta. Kiri: Muhammad Khalid (kiri) dan Fithor Faris, dua motor Kedubes Bekasi.

Sarang Seniman Searah jarum jam, dari kiri: Ruang pamer utama OHD Museum, Magelang; salah satu karya Nurdian Ichsan dalam pameran Sense of Order di Selasar Sunaryo, Bandung; fasad Sangkring Art Space; Budi (kiri) dan Aldi Cloze, dua seniman anggota Gardu House, di markas mereka yang bersarang di Jalan Ciputat Raya.

Rumah Rupa Dari foto paling atas: Logo Dia.Lo.Gue, ruang seni di area Kemang; Agung Kurniawan di restoran Kedai Kebun Forum, Yogyakarta. Kanan: Salah satu sudut Galeri Nasional Indonesia.

Galeri Ekspresi Searah jarum jam, dari kanan: Ruang pamer Halim Art Museum yang memajang banyak karya buatan eksponen Sanggar Bumi Tarung; EZ Halim, kolektor seni dan pemilik Halim Art Museum, Bogor; pengunjung C2O Library & Collabtive, Surabaya; instalasi dari Cinanti Astria Johansjah, satu dari enam seniman yang diwakili oleh ROH Projects, Jakarta.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.