TURN BACK THE TIME

MEMAHAMI KEJAYAAN LAYAR KLASIK TANAH AIR.

Esquire (Indonesia) - - Insight - Teks: RANGGA WISESA

JJIKA BERBICARA TENTANG AKTOR FILM INDONESIA, pastinya akan seperti mesin waktu yang membawa kita ke era 50-an hingga awal 90-an, masa keemasan perfilman Indonesia. Jauh sebelum era Reza Rahadian, Rio Dewanto atau Chico Jerikho, perfilman kita memiliki banyak aktor dengan kualitas akting yang diakui, bahkan sampai ke level internasional. Mari kita tengok, siapa saja aktor-aktor yang memiliki pengaruh sampai saat ini. Aktor berdarah Tionghoa, (Alm) Tang Tjeng Bok (1899-1985) bisa dikatakan salah satu aktor sejati di panggung hiburan. Dedikasinya di dunia sandiwara dan film tak perlu diragukan lagi, dunia hiburan telah digelutinya sejak remaja, dimulai dari film Srigala Item (1941), Si Gomar (1941), kemudian main lagi setelah masa kemerdekaan lewat film Melarat Tapi Sehat (1954), Djudi (1955), Badai Selatan (1960), Si Rano (1973), Syahdu (1975). Tercatat, Tan Tjeng Bok menghabiskan hidupnya di film, dalam kurun 4 dekade (1941-1984).

Di era 50-an, perfilman Indonesia yang makin menggeliat, didukung dengan munculnya PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) sebagai wadah organisasi artis film, dan terselenggaranya FFI (Festival Film Indonesia) yang pertama tahun 1955.

Sejumlah aktor dan aktris muncul di era ini, salah satu yang mencuat adalah (Alm) Bing Slamet (1927-1974). Seniman serba bisa ini telah malang melintang dunia hiburan tanah air. Namanya tercatat sebagai penyanyi dan pelawak handal, unggul di film komedi seperti film Pilihlah Aku (1956), Hari Libur (1958) dan Amor dan Humor (1961). Meskipun mahir dalam genre komedi, Bing

Slamet juga mahir dalam genre drama serius, seperti dalam film Hantjurnja Petualangan (1966), dan 2x24 Djam (1967).

(Alm) Benyamin Sueb (1939-1995). Nama maestro seni Betawi ini tak perlu diragukan lagi kapabilitasnya di dunia perfilman. Banyak film yang telah ia bintangi dan semuanya sukses, dan kebanyakan dalam tiap filmnya, ia menyanyi dan duet dengan artis Ida Royani. Dua kali meraih Piala Citra 2 kali, tahun 1973 untuk Intan Berduri, dan tahun 1977, untuk film Si Doel Anak Modern. Kehadiran Benyamin Sueb dalam kancah perfilman memiliki pengaruh yang besar bagi dunia film, dan juga bagi para generasi penerus. Walaupun Bang Ben (panggilan Alm. Benyamin Sueb) telah tiada 20 tahun lalu, karya-karyanya tidak akan akan pernah terlupa dan akan selalu menjadi inspirasi bagi para seniman muda, hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Benyamin Sueb sebagai penyanyi Indonesia terbaik sepanjang masa, versi majalah Rolling Stones tahun 2010.

Di ranah drama, kita boleh sebut nama (Alm) Bambang Hermanto (1925-1991). Kepiawaian aktingnya telah teruji lewat film-film berkualitas seperti Harimau Tjampa (1953), dan Pedjuang (1960) yang membuatnya menjadi pemain film Indonesia pertama yang meraih penghargaan internasional, yaitu Best Actor pada Moskwa International Film Festival tahun 1961. Bambang Hermanto memang dikenal dengan peran-peran di film-film drama 'serius'. Selain menjadi aktor, suami aktris (almh) Dien Novita (1949-2007) ini juga pernah menjadi sutradara, produser dan penulis cerita. Setelah meraih Citra pertama di tahun 1955, 29 tahun kemudian, Bambang Hermanto kembali meraih Citra lewat film karya Slamet Rahardjo, Ponirah Terpidana (1983).

Maestro (Alm) Teguh Karya juga ‘melahirkan’ beberapa nama aktor yang memiliki kemampuan akting yang mumpuni, seperti (Alm) Alex Komang (1961-2015) dan Slamet Rahardjo Djarot. Alex dan Slamet tampil sebagai seorang aktor, aktor yang benar-benar aktor, bukan selebritis atau aktor populer, melainkan aktor yang berkualitas. Alex di film keduanya, Doea Tanda Mata (1985), meraih Citra untuk pemeran utama pria terbaik. Slamet Rahardjo juga meraih Citra di 1975 lewat film Ranjang Pengantin, di usia 26 tahun. Pada era itu, aktor seangakatannya lebih banyak bermain di film pop dan komersil. Setelah sukses sebagai aktor, Slamet Rahardjo Djarot mendapat nominasi FFI paling banyak, untuk 3 kategori, aktor (utama dan pendukung), sutradara, dan penulis cerita dan skenario.

Di era Slamet, ada nama Deddy Mizwar yang terbilang 'telat' populernya. Deddy mulai dibicarakan setelah main di film Sunan Kalijaga (1983) yang juga memberinya nominasi Citra kedua. Sepanjang era 80-an, nama Deddy Mizwar seakan tak pernah henti menjadi langganan nominasi FFI. Ia bermain di film-film yang berkualitas, ditangan sutradara handal, macam (Alm) Sjuman Djaya (1933-1985) dan (Alm) Chaerul Umam (1943-2013). Peran-perannya juga sukses dan diingat publik, memerankan karakter unik Naga Bonar dalam Naga Bonar (meraih Citra FFI 1987), memerankan karakter nyata dalam Arie Hanggara (meraih Citra FFI 1986), sebagai jenderal dalam film Opera Jakarta (meraih Citra FFI 1986), dan masih banyak lagi. Deddy adalah aktor pertama yang menciptakan rekor untuk meraih dua piala Citra sekaligus untuk 2 kategori di tahun yang sama. Selain aktor, Deddy juga menjadi sutradara dan produser hingga saat ini. Rekor dengan lima Piala Citra, tak dapat dipungkiri, membuatnya namanya takkan tergantikan atau dilupakan.

Seangkatan dengan Deddy Mizwar atau Slamet Rahardjo, kita pasti akan teringat dengan Barry Prima. Spesialis film laga yang juga memiliki kesan bagi pencinta film Indonesia. Muncul di tahun 1978 untuk film Primitif, Barry kemudian menjadi icon untuk film laga. Peran Jaka Sembung mungkin adalah peran yang paling diingat publik. Sampai sekarang, tercatat 76 film telah dibintanginya, dan sebagian besar adalah film laga.

Generasi dibawah Slamet, Deddy, atau Barry Prima, muncul sejumlah nama seperti Herman Felani, Chris Salam, Rico Tampatty, atau Onky Alexander. Mereka menjadi bintang film dan idola di usia terbilang sudah dewasa. Lain hal dengan Rano Karno. Karirnya sudah dimulai sejak kecil. Diwariskan bakat akting dari ayahnya, (Alm) Soekarno M Noor (1931-1986), aktor peraih 3 Piala FFI. Nama Rano Karno semakin melejit saat sukses membintangi Gita Cinta dari SMA (1979) bersama aktris seangkatannya, Membicarakan aktor Indonesia, kita harus sebut trio legendaris Warkop DKI. Siapa tak tahu kelompok lawak ini? Berawal dari (Alm) Dono (1951-2001), (Alm) Kasino (1950-1997), Indro, dan (Alm) Nanu (1952-1983), para mahasiswa ini membentuk kelompok lawak yang mulai bermain film, yaitu Mana Tahan (1979), bersama Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi, dan (Alm) Koesno Sedjarwadi (1932-2008). Ternyata sukses luar biasa, Warkop diterima publik dan film-filmnya setiap tahun ditunggu masyarakat. Film mereka selalu laris manis dan selalu meraih Piala Antemas dalam ajang FFI. Tidak hanya mengocok perut, Warkop juga selalu menyelipkan dialog-dialog khas yang cerdas, dan ada juga nyanyian serta tarian khas Warkop yang terkenang hingga kini.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”,

Film-film klasik Indonesia memang takkan habis untuk dikupas dan dikenang. Semakin dikupas dan didalami, semakin kita tahu betapa kayanya film Indonesia kita.

“PERFILMAN KITA MEMILIKI BANYAK AKTORAKTOR DENGAN KUALITAS AKTING YANG DIAKUI, BAHKAN SAMPAI KE LEVEL INTERNASIONAL.”

ESQUIRE

SEPTEMBER

Barry Prima dalam salah satu film laganya

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.