RANAH BATIN AGAMA-AGAMA

MENELUSURI KEMBALI JEJAK KEBENARAN ILAHIAH YANG TELAH TERURAI DALAM BAHASA AGAMA-AGAMA.

Esquire (Indonesia) - - Budaya - Teks: DAMHURI MUHAMMAD

INSIDEN TOLIKARA, PAPUA, 17 JULI 2015 cukup menggemparkan. Umat Islam diserang, tempat ibadah dibakar (atau terbakar?), beredar larangan berjilbab dan shalat Id. Begitu rumor yang berkembang, dan telah menyulut berbagai respon, baik dari elit agama-agama ataupun reaksi keras dari berbagai komunitas umat Islam. Kesimpangsiuran kabar yang terlalu mengejar kecepatan tapi abai pada akurasi gesekan berbau SARA itu mau tak mau kembali mengingatkan kita pada sejumlah konflik agama yang pernah terjadi di Indonesia.

Agama hari ini tidak lagi dipahami seperti orang-orang masa lalu memahaminya. Ia tidak semata-mata tentang kepercayaan, pedoman hidup, dan semacamnya, tapi erat kaitannya dengan persoalan historis-kultural sebagai keniscayaan manusiawi belaka. Agama gampang ditunggangi berbagai kepentingan utamanya kepentingan politik yang menempel di batang tubuhnya. Menurut Amin Abdullah (1997), campur-aduk antara agama dengan ruparupa kepentingan sosial kemasyarakatan merupakan salah satu masalah keagamaan kontemporer yang rumit untuk dipecahkan.

Persoalan yang pertama kali muncul adalah kesulitan memilah antara wilayah normatif-doktrinal suatu agama dengan wilayah historis-empirisnya. Para ulama, pastor, pendeta tampaknya sulit menerima historisitas dalam pemahaman agama, mereka lebih cenderung menomorsatukan normativitas masing-masing agama yang diyakininya. Dari sinilah muncul klaim kebenaran (truth claim) yang eksklusivistik dan berpotensi konflik, bahkan tak jarang memicu pertumpahan darah atas nama Tuhan. Pemikir muslim, Muhammad Arkoun, mengilustrasikan sikap ini sebagai “menyemprotkan minyak ke dalam kobaran api” (sabbu az-zait ‘ala an-nar). Jargon politik tanah air yang mengelompokkan persoalan agama ke dalam SARA, juga cerminan dari cara berpikir terhadap agama yang sarat masalah.

Model-model konflik agama telah banyak terdokumentasikan

dalam sejarah agama-agama. Konflik tidak saja terjadi di wilayah antaragama, tapi juga di ranah internal suatu agama. Daerah paling rawan mengundang konflik internal agama adalah ranah eksoteris, karena masing-masing sekte memiliki tafsir yang saling berbeda terhadap pesan-pesan spritual suatu agama. Spektrum konflik makin menganga ketika ditarik ke wilayah antaragama. Di titik ini, pesan-pesan spritual akan terurai dalam heterogenitas bahasa. Nama Tuhan menjadi beragam. Tuhan terkurung dalam bahasa agamaagama. Tuhan yang bersifat personal bagi penganut Hindu adalah Mahesvara, bagi Yahudi adalah Yahweh, serta bagi Islam dan Kristen adalah Allah. Dengan begitu, keberagaman bahasa terserap ke wilayah sakral dan sangat disakralkan oleh para penganutnya. Membincang agama pada level pemahaman eksoteris, khususnya teologi, memang terasa kering dan panas. Titik tolaknya adalah transendensi Tuhan, sehingga ada jarak antara manusia dan Tuhan. Pemahaman semacam ini hendak memutlakkan Tuhan dalam teks, yang kemudian diperkuat oleh dalil-dalil rasional. Akibatnya, klaim kebenaran semakin kental. Tuhan yang benar adalah yang dijelaskan oleh kitab suci tertentu saja, atau hanya pada argumentasi tertentu yang dianggap paling benar.

Mari kita telusuri agama dari pintu yang lain. James Redfield (1996), dalam sebuah novel spritual berjudul The Ten Insight menulis; “ketika semua manusia telah berhasil mencapai keterjagaan dan proses men-transendensi diri dalam arti sesungguhnya, kita tidak lagi memandang manusia dari sudut rasial atau asal bangsanya dari suatu masa tertentu. Mereka akan dilihat sebagai jiwa-jiwa bersaudara. Begitu juga integrasi politis dunia, bukan lagi dengan memaksa semua bangsa untuk tunduk pada satu badan politik tertentu, tapi melalui pengakuan mendasar terhadap kesamaan spritual kita.” Redfield mewartakan sebuah pesan perenial bahwa doktrin agama-agama di ranah esoterik pada akhirnya akan mengintegrasikan seluruh penganut agama di dunia ke dalam wilayah yang ia sebut the global sprituality, yang terpadu dan paripurna.

Ini senada dengan tesis Fritjof Schuon melalui The Transcendence Unity of Religious (1950), bahwa ditemukan adanya kesatuan transenden di dalam agama-agama, khususnya pada penghayatan esoterik. Wacana Filsafat Perenial (the perennial philosophy) yang kini menjadi diskursus menarik secara umum mengusung gagasan bahwa agama-agama sebenarnya tidak membawa hal baru, tapi mengandung sebuah kebenaran orisinil, namun telah dilupakan. Hal itulah yang seharusnya dibangkitkan kembali. Di ranah batin agama-agama, terdapat the perennial wisdom (kearifan abadi) yang dalam tradisi Islam disebut Al-hikmah Al-khalidah, dalam Kristen disebut Sophia Perennis, dalam hindu Sanata Dharma, dan dalam tradisi Persia disebut Javidan Khirad (Nasr, 1987).

Melalui pengembaraan di ranah esoterisme agama-agama, wacana ketuhanan dapat dipahami secara inklusif, sebab tingkat perbincangan sudah menukik ke ranah direct experience, dan semua penganut agama telah memiliki visi ketuhanan yang sama. Kita mengenal konsep penyatuan Atman dan Brahman pada tradisi Hindu, Buddha dan Nirwana pada tradisi Buddha (Merker, 1989), dan konsep penyatuan diri dengan Alhaqq yang dalam tradisi sufisme Islam diwakili oleh Al-hallaj (Amstrong, 1954)

Mencermati berbagai ketegangan akibat isu SARA, diperlukan upaya untuk memungut kembali jejak kebenaran ilahiah yang telah pecah berkeping-keping dalam bahasa agama-agama, sehingga terintegrasi ke dalam satu kesatuan pemahaman yang utuh. Inilah yang ingin dicapai oleh Radarkrisman dengan An Idealist View of Life, Masao Abe dengan Zen and Western Thought, Stanley Samarta dengan Courage for Dialogue, Raimund Panikkar dengan Intra Religious Dialogue dan S.H. Nasr dengan Knowledge and Sacred.

Berbagai model dialog antaragama sudah cukup banyak dibincangkan hingga kita tidak lagi memperdebatkan perlu atau tidaknya dialog itu. Yang kerap dipertanyakan adalah pendekatan seperti yang paling tepat untuk menjalinnya, dan bagaimana agar dialog itu benar-benar melahirkan kesadaran praksis sampai pada pemahaman akar rumput, bukan di tingkat akademis atau wacana intelektual saja.

Tawaran Redfield adalah menelusuri ranah batin agama-agama, atau yang ia sebut dengan Religious Mistical Experience. Yang perlu digali adalah pengalaman spritual lintas agama sebagai lifestyle manusia modern. Di situlah pusat kearifan abadi itu berada. Di sana, jangankan kejahatan, kosa kata perang dan permusuhan pun tak dikenal. Yang hidup dalam suasana keseharian hanya kebahagiaan dan keharmonisan. Redfield menyebutnya The Place of Place of Tranqullity (Sukidi, Kompas, 2000). Jalan ini telah diapresiasi oleh beberapa kelompok penganut agama, khususnya kalangan mistis-inklusiv, seperti Hasrat Inayat Khan (1882-1927) dan seorang pemikir mistis dari tradisi Kristen, Thomas Merton (1968).

Dialog spritual ini dapat menjadi jalan guna meraih kearifan dalam batin setiap agama, meski sukar diterima oleh penganut agama dari kelompok eksklusif-militan. Namun, kesadaran ini dapat melindungi manusia dari situasi chaos. Segala sesuatu akan bergerak ke arah budaya spritual yang positif, walaupun beberapa situasi yang mengkhawatirkan masih tetap berlangsung. Begitu optimisme Redfield. Lalu, kenapa kita harus saling membenci atas nama Tuhan?

YANG PERLU DIGALI ADALAH PENGALAMAN SPRITUAL LINTAS AGAMA SEBAGAI LIFESTYLE MANUSIA MODERN. DI SITULAH PUSAT KEARIFAN

ABADI ITU BERADA.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.