TANTANGAN DARI SEKTOR KELAPA SAWIT

KOMODITAS MENGUNTUNGKAN YANG DIKAITKAN DENGAN MASALAH PELESTARIAN LINGKUNGAN.

Esquire (Indonesia) - - Ekonomi - NUGROHO PRATOMO TEKS:

DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA SAAT INI, salah satu sektor yang mampu memberikan kontribusi cukup signifikan adalah kelapa sawit. Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Sektor perkebunan kelapa sawit secara umum menghasilkan produk yang dikenal dengan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO). Indonesia saat ini merupakan produsen terbesar CPO di dunia. Sebagai salah satu komoditas penting dalam perekonomian Indonesia, kelapa sawit mulai ditanam bersamaan dengan pembukaan perkebunan di luar Jawa seusai masa tanam paksa berakhir yang dikenal dengan Era Liberal pada 1870-an. Seiring berjalannya waktu, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus mengalami peningkatan. Apalagi semenjak dikeluarkannya UU PMA pada 1967. Pada tahun itu, lahan yang ditanami kelapa sawit di seluruh Indonesia baru sekitar 106.000 hektar. Jumlah luas lahan kemudian meningkat menjadi 2,5 juta hektar pada 1997. Hal ini menunjukan bahwa laju pertumbuhan perkebunan sawit selama 30 tahun mencapai 10,6% setiap tahunnya. Selama periode yang sama, dari sisi produksi menunjukan bahwa laju pertumbuhan produksi CPO Indonesia mencapai 12,4% per tahun. Pada 1967, produksi CPO Indonesia baru sebesar 167 ribu ton. Sementara pada 1997, jumlah produksinya telah mencapai 2,5 juta ton.

Setelah terjadinya krisis, keberadaan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan Indonesia masih terus berlangsung. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, laju pertumbuhan perkebunan kelapa sawit selama tahun 2004-2014 mencapai 7,67%. Sedangkan produksinya meningkat rata-rata sebesar 11,09% per tahunnya. Data statistik perkebunan Ditjen Perkebunan menyebutkan bahwa luas perkebunan kelapa sawit Indonesia di tahun 2014 mencapai 10,9 juta hektar, dengan produksi CPO mencapai 29,3 juta ton. Tingkat produksi tersebut juga diikuti oleh jumlah ekspor CPO. Volume ekspor komoditas kelapa sawit sampai dengan bulan September 2014 mencapai 15,96 juta ton dengan nilai sebesar 12,75 juta US$. Hal ini mengalami kenaikan sebesar 7,59% jika

SAAT INI, SALAH SATU PERSOALAN YANG ADA DALAM INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA ADALAH DEFORESTASI.

dibandingkan dengan volume ekspor sampai dengan September 2013 sebesar 14,831 juta ton.

Selain sebagai komoditas ekspor, sebenarnya kelapa sawit merupakan bahan baku dari berbagai produk baik makanan maupun non makanan. Pada industri hulu perkebunan kelapa sawit menghasilkan berbagai produk primer berupa minyak kelapa sawit dan minyak inti kelapa sawit. Dari kedua jenis produk tersebut kemudian dikembangkan menjadi bermacammacam produk industri hilir. Keduanya merupakan ester asam lemak dan gliserol yang disebut trigliserida. Trigliserida dari minyak kelapa sawit banyak mengandung asam palmitat, linoeleat, stearat, dan gliserol. Sedangkan trigliserida dari minyak inti sawit mengandung asam laurat, miristat, stearat, gliserol, dan sedikit palmitat. Baik minyak kelapa sawit maupun inti sawit merupakan sumber energi pangan, seperti minyak goreng, margarine, shortening, dan vanaspati serta sumber karbon di dalam industri oleokimia. Penggunaan ini terkait dengan sifat senyawa karbon minyak nabati yang relatif lebih mudah terurai di alam dibandingkan dengan senyawa turunan yang berasal dari minyak bumi. Produk pangan yang dihasilkan antara lain adalah kue, roti, biskuit, cokelat, kembang gula, dan es krim, tepung susu nabati (filled milk), dan coffe whitener (coffe mate) serta mie siap saji (mi instan). Dalam industri farmasi penggunaannya terutama pada produk vitamin A dan E. Sedangkan untuk produk-produk non makanan diantaranya adalah sabun, cream lotion, shampo, “sabun metalik” untuk minyak pelumas dan campuran cat, pelumas dan pelindung karat permukaan lembaran baja pada industri baja canai dingin (cold rolling mill), bahan pengapung (floatation agent) yang digunakan untuk memisahkan biji tembaga atau cobalt dari baja, industri karoseri, serta industri tinta cetak, lilin, dan crayon. Sementara minyak inti sawit (palm kernel oil) digunakan sebagai input dalam beberapa industri seperti sabun, kosmetik serta pakan ternak (Pahan, 2007). Pada perkembangannya, minyak kelapa sawit saat ini juga dimanfaatkan sebagai campuran untuk bahan bakar minyak solar atau yang dikenal dengan biosolar.

Meskipun demikian, keberadaan sektor kelapa sawit sebagai salah satu komoditas unggulan bukannya tanpa masalah. Berbagai persoalan dan isu muncul khususnya terkait dengan keberadaan perkebunan kelapa sawit. Berbagai permasalahan dan isu yang muncul mulai dari persoalan lingkungan hingga sosial. Berbagai persoalan ini mau tidak mau pada akhirnya memang “mengganggu” keberadaan kelapa sawit sebagai salah satu produk unggulan Indonesia. Saat ini, salah satu persoalan yang ada dalam industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah deforestasi. Karena komoditas kelapa sawit sangat menjanjikan, semakin banyak orang yang tertarik membuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Persoalan dalam sektor perkebunan kelapa sawit hal tersebut harus disikapi secara hati-hati. Salah satunya dengan bagaimana cara kita memandang minyak kelapa sawit dalam konteks persaingan perdagangan global. Dalam konteks itu, minyak kelapa sawit memiliki sejumlah pesaing yang menjadi subtitusi produk minyak kelapa sawit, misalnya minyak zaitun dan minyak bunga matahari. Persoalan inilah yang seharusnya menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah ditengah kondisi perekonomian global yang tengah mengalami krisis. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin Indonesia nantinya akan kembali kehilangan salah satu sektor unggulan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.