Bujari

Esquire (Indonesia) - - Esquire 10 - Oleh: RICO MANGIRING PURBA

ngin bergulung-gulung lembut di rambutnya, seperti puyuh yang mungil ia berputar-putar dulu di dekat pipinya lalu rambat ke telinganya. Perempuan itu mendesah. Angin nakal itu berjingkat dari telinga dan berpindah ke rambutnya. Di rambut perempuan itu ia berayun-ayun berlagak seperti seorang gadis kecil di tepi sebuah telaga. Daun gemerisik di goyang reranting yang jadi tambatan tali ayunan mungil itu. Tepian telaga disapu ombak-ombak kecil dan waktu seakanakan binasa bersamanya. Matahari berhenti berjam-jam bersama jam di dinding yang usai usianya. Di beranda kamar nomor 1211 , hotel M, perempuan itu berdiri hanya mengenakan sebuah piyama. Di balik piyama itu bersembunyi satu dua bekas pagutan di sekitar payudaranya. Di kulit putihnya, merah bekas cupang jadi motif manis yang bisa melambungkan syahwat lelaki mana saja yang melihat. Satu di dekat puting kirinya, satu di dekat puting kanannya dan satu yang ada di antara dua payudara indahnya, adalah jembatan yang menghubungkan pagutan-pagutan itu. Sebelum bercinta ia sudah berpesan, jangan tinggalkan terlalu banyak cupangan. Malam ini, ia harus kembali ke suaminya.

Lelaki itu tengah mengisi bathub di dalam kamar mandi ketika perempuan itu menikmati sore yang berangin di langit Jakarta. Keringat masih membasahi ujung-ujung rambutnya setelah menuntaskan percintaan yang panjang sesiangan itu. Tapi kini, sambil memandang bayang dirinya di cermin besar di depan bathub, ia merencanakan sebuah percintaan lagi di dalam bathub kamar mandi dengan perempuan itu. Sesuatu yang akan menyempurnakan sore pikirnya. Menutup hari dan pertemuan terlarang di antara mereka sebelum kembali ke rumah tangga masingmasing dengan sesi bercinta yang banal, akan menyegel semuanya.

Ia putar kran air panas dan air dingin secara bersamaan. Ketika sudah terisi kirakira tiga perempatnya, kran air panas ia kecilkan. Ia perhatikan sebuah bekas gigitan di dada kirinya. Terbayang sebuah adegan yang baru saja usai. Ia tersenyum.

“Aku ingin kau berjanji kepadaku,” kata perempuan itu, ketika laki-laki itu memeluknya dari belakang dan menenggelamkan hidungnya ke dalam rambut hitam perempuan yang dipeluknya. “Setelah pertemuan ini, kau tak akan lagi menulis puisipuisi tentang kesedihan.”

Lelaki itu diam. Ia kecup punggung perempuan itu. Ia ingat hari-hari yang sudah lewat dengan jari jemari yang tiada henti mengetik puisi-puisi di ponsel pintarnya.

“Sebelum kau pergi nanti, aku ingin kau memotong dua bujarimu. ” katanya sambil melihat Monas di kejauhan. “Aku bilang apa kepada istriku?” “Itu urusanmu.” Ia kecup lagi punggung perempuan itu. Ia gigit lembut. Perempuan itu memejam. Ia tahu bahwa cintanya kepada perempuan itu teramat sangat. Jangankan sepasang jempol, sepuluh jari sekalipun akan ia berikan. Tapi masalahnya ia juga sudah berumah tangga. Jawaban masuk akal macam apa yang harus ia berikan

AJangankan sepasang jempol, sepuluh jari sekalipun akan ia berikan. Tapi masalahnya ia juga sudah berumah tangga.

kepada istrinya nanti setiba di rumah. Kalau ia buruh pabrik triplek yang mengoperasikan mesin barangkali masuk akal untuk kehilangan jari, kehilangan sepasang lenganpun masih masuk akal. Tapi ia bukanlah buruh pabrik triplek. Ia penulis. Meski pena dan kata-katanya bisa setajam singsu—istilah orang awam untuk chainsaw(gergaji mesin)—tapi masih tak cukup tajam untuk menghilangkan bujari miliknya sendiri. Tak akan mungkin juga ia sampaikan kepada istrinya bahwa mantan kekasihnya yang memintanya. Ia tak sejahat itu.

eduanya bertemu kembali setelah beberapa tahun saling berhenti berkomunikasi. Si lelaki ditinggal si perempuan yang dipaksa menikah oleh orangtuanya. Si perempuan, anak seorang pejabat kepolisian, yang sudah mewarisi bakat polisi dari generasi ke generasi. Kedua kakaknya, laki-laki, juga menjadi polisi. Bapak dari bapaknya polisi. Bapak dari bapak dari bapaknya juga polisi. Maka, ia sebagai anak polisi setidak-tidaknya mesti menikah dengan seseorang yang juga punya bakat polisi. Doktrin itu sudah ditanamkan jauh sebelum ia jadi janin. Maka sudah barang tentu haram hukumnya bagi ia punya suami yang hanya seorang penulis puisi.

“Mau makan apa kamu dari laki-laki yang cuma bisa mengkhayal?”

Tak seorangpun tahu kalau ia, putri satu-satunya di keluarga itu sebetulnya

K

juga menulis puisi. Kelas 5 SD, ia sudah menulis sebuah puisi dan diterbitkan sebuah majalah anak-anak. Ia tulis dengan nama pena. Kelas 1, 2 dan 3 SMP, ia juara lomba baca dan tulis puisi berturut-turut di sekolahnya. Kelas 2 SMA, ia mulai menulis ceritacerita pendek dan diterbitkan di surat kabar lokal. Kelas 3 SMA, sebuah buku kumpulan cerita pendeknya terbit untuk kali pertama. Juga dengan nama pena.

Untuk mendukung cita-cita bapaknya, ia ‘disarankan’ mengambil kuliah di fakultas hukum, meski di dadanya tumbuh angan-angan kuliah di kelas sastra. Tapi hidup hanyalah aliran air yang akan menemukan aliran barunya tiap kali dibendung. Di fakultas hukum itu, hasratnya pada puisi-puisi tak padam, di sana ia bergabung dengan sebuah unit kegiatan mahasiswa bidang seni. Di tempat itu juga ia bertemu lelaki itu. Lelaki yang sedang memagut punggungnya kini.

Pada hari pernikahan perempuan itu, si lelaki memberanikan diri untuk datang, sebagai mantan dari sang manten. Ia ngamplop sebuah puisi untuk pengantin. Sejak itu keduanya tak lagi berkomunikasi. Kabar si perempuan hanya ia dapat sesekali sebagai cerpen pada satu dua surat kabar minggu dengan nama pena yang ia kenal. Sementara kabar si lelaki selalu dibaca perempuan itu dalam puisi-puisi lirih di website pribadi si lelaki. Sudah ada seribu lebih puisi tentang kesedihan. Yang ditulis terus-menerus setiap hari.

Bukan hanya puisi-puisi yang ia baca pada website itu, tetapi juga komentarkomentar para teman dekatnya, pengagumnya, pembeli bukunya, bahkan satu dua orang yang baru saja patah hati dan berkomentar minta izin untuk copy paste puisinya.

Mereka baru bertemu lagi setelah cerpen kedua-duanya, yang dimuat sebuah surat kabar nasional, diumumkan sebagai cerpen terpilih bersama dengan belasan cerpen lain juga yang akan dibukukan. Satu cerpen pemenang juga akan dijadikan sampul buku tersebut. Untuk itu panitia meminta seluruh pengarangnya hadir pada momen pengumuman tersebut. Sebuah email pemberitahuan untuk hadir ke Jakarta masuk ke ponselnya.

Si perempuan, yang ikut suami polisinya bertugas di Sulawesi, minta izin dengan berbagai macam alasan. Tak ia beritahukan kalau ia adalah si pemilik nama pena yang diundang ke Jakarta oleh sebuah surat kabar nasional. Tak juga ia sampaikan kalau ia pemilik nama buku-buku cerita yang tersusun rapi di rak buku rumahnya. Suaminya hanya tahu kalau istrinya suka membaca. Itu saja. Dan suaminya tak terlalu suka membaca.

Keduanya tak tahu kalau akhirnya akan bertemu lagi pada pertemuan itu. Di dalam email, panitia juga tak menyebutkan nama-nama kandidat lainnya. Di tempat yang telah ditentukan oleh panitia, si perempuan telah tiba lebih dulu, si lelaki baru datang beberapa saat kemudian. Degup jantung di dada si perempuan serperti terdengar ke telinga si lelaki, pun sebaliknya begitu, ketika mata mereka saling bertemu. Keduanya sama-sama ragu; harus saling memeluk atau saling menyapa saja. Mereka duduk di baris yang sama, hanya diseling seorang penulis tua berambut gondrong yang tampaknya belum mau mati. Ketiganya saling bersalaman. Acara selesai setelah panitia mengumumkan pemenangnya adalah si penulis tua berambut gondrong yang belum mau mati. Namun, acara berlanjut bagi keduanya. Si lelaki dan si perempuan terlibat pembicaraan yang kaku dan ganjil. Mereka memilih menepi dari riuh para penulis-penulis lainnya yang temu kangen dalam kegiatan itu. Lelaki dan perempuan itu mengambil momen saling temu kangennya sendiri. Pembicaraan melumer setelah basa-basi diantara keduanya diakhiri dengan ajakan si lelaki kepada si perempuan untuk melanjutkan pembicaraan di hotelnya.

ehilangan satu bujari itu masih mungkin dan mudah untuk dicarikan alasan. Tapi, dua bujari diwaktu yang bersamaan, apakah itu tak terlalu mengerikan?” kata si lelaki sambil meringkuk memeluk si perempuan di dalam bathub sempit itu. “Mana yang lebih mengerikan, kehilangan dua bujari atau membaca sajak sedihmu setiap hari?”

Ia remas dada si perempuan itu gemas. Ia kecup punggung, pipi, tengkuk. Dan perempuan itupun takluk. Lewat negosiasi basah nan liat keduanya mencapai kata sepakat. Sebulan lagi keduanya janji bertemu. Mereka tinggalkan kamar hotel itu dengan wajah bahagia dan sebuah bujari yang tinggal didalamnya.

“K

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.