SOAL BISNIS DAN GENGSI

Esquire (Indonesia) - - Reportase -

DI INDONESIA, KHUSUSNYA JAKARTA, keberadaan vape mulai naik daun sekitar 3 tahun lalu dan kebanyakan hanya dijual lewat forum jual beli online dengan kualitas terbatas. Hal itulah yang mendasari Dimas Simorangkir, pemilik toko Ministry of Vape Indonesia (MOVI), “Saya hanya ingin membuat para vaper (pengguna vape, Red) lebih mudah mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan.” Pada akhir 2013, dia dan sang istri pun mendirikan toko khusus menjual vape dan perlengkapannya di daerah Setiabudi dan Kebon Sirih, Jakarta.

Harga vape memang jauh lebih mahal dibandingkan rokok. Harga alat itu di atas 1 juta rupiah dengan cairan isi ulang seharga ratusan ribu rupiah. Bagi Arif, walaupun harga vape cenderung mahal, hal itu tidak membuatnya mengurungkan niat membelinya. “Tinggal beli sekali, bisa langsung merokok sampai puas. Selain itu tidak perlu repot mencari korek api,” ujarnya beralasan.

Harga yang relatif mahal itu pula yang membuat vape seakan identik dengan orang yang memiliki status sosial tinggi. “Menurut saya, sesuatu yang dianggap menjadi sebuah tren itu dimulai dari level tinggi alias kalangan atas dahulu. [Berbagai hal yang dilakukan oleh] orang dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi biasanya menjadi insiprasi bagi orang lain. Kebetulan saat ini harga vape masih terbilang lebih mahal jika dibandingkan rokok biasa. Jadi banyak orang yang menggunakan vape untuk menunjukkan status sosialnya,” ungkap Dimas.

Dimas pun juga melihatnya dari hukum ekonomi. “Barang yang diproduksi massal tentu akan menghasilkan barang dengan harga yang lebih terjangkau. Sementara itu, vape masih diproduksi terbatas dengan nilai keterampilan pembuat yang tinggi dan penggunaan material yang khusus dan terbatas. Tak heran bila harga jualnya cenderung tinggi,” tambahnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.