SEBUAH PEMBUKTIAN

Lama “menghilang”, kini dia hadir dengan novel dan penghargaan baru.

Esquire (Indonesia) - - Profil - TEKS: AYU DEWANTI FOTO: SIANNY WIDYASARI

NAMA ANDREA HIRATA KEMBALI MUNCUL KE PERMUKAAN TAHUN INI BERKAT PELUNCURAN NOVEL KE DELAPANNYA BERTAJUK AYAH, ANUGERAH DOKTOR HONORIS CAUSA DARI UNIVERSITY OF WARWICK, INGGRIS, SERTA DIRESMIKANNYA MUSEUM KATA ANDREA HIRATA. WALAU NAMANYA TELAH NAIK DAUN BERKAT BERKAT TETRALOGI LASKAR PELANGI, TERNYATA MASIH BANYAK YANG MERAGUKAN EKSISTENSINYA. KEHADIRAN ANDREA MEMANG CENDERUNG “MENDADAK” DI DUNIA SASTRA INDONESIA. ADA YANG MEMUJA, ADA PULA YANG MENCIBIR. DIA MEMANG TIDAK DATANG DARI KALANGAN SASTRA, MELAINKAN DUNIA EKONOMI. JUSTRU DIA BARU MENDAPAT KESEMPATAN BELAJAR SASTRA DI UNIVERSITY OF IOWA, AS, SETELAH NOVEL KETUJUHNYA DILUNCURKAN.

SETELAH 5 TAHUN BERDIRI, MUSEUM KATA AKHIRNYA DIRESMIKAN JUGA OLEH MENTERI PARIWISATA. PERASAAN ANDA?

Saya senang. Apalagi saya kenal orang yang meresmikannya. Pak Arief (Yahya, Menteri Pariwisata, Red) itu bos saya dulu di Telkom.

JADI PADA AKHIRNYA DIRESMIKAN KARENA BELIAU KENAL ANDA?

Tidak dong.

SEJAK KAPAN ANDA BERGABUNG DENGAN AGEN PENERBITAN KATHLEEN ANDERSON LITERARY MANAGEMENT?

Sejak 2010.

Saya kira tidak begitu.

KARENA BERGABUNG BUKU ANDA BISA SAMPAI DITERJEMAHKAN KE 34 NEGARA?

Betul sekali. Saya ingin bercerita sedikit tentang ini (Andrea memperlihatkan artikel tulisan wartawan Indonesia tentang investigasi keberadaan buku Andrea di luar negeri). Selama ini informasi tentang buku saya di luar negeri hanya dari mulut saya.

JADI SEAKAN TIDAK ADA PEMBENARAN?

Ya.

KARENA ITULAH DI MUSEUM KATA, ANDA MEMAMERKAN COVER BUKU ANDA YANG TELAH DITERJEMAHKAN DILUNCURKAN DI LUAR NEGERI?

Bukan karena itu. Ya namanya museum sastra, masak saya memajang foto Tukul. Kan tidak cocok.

APA ALASAN ANDA MENDIRIKAN MUSEUM?

Saya memang sudah berniat bahwa dalam berkarya, tidak ingin memikirkan diri sendiri. Saya suka dunia pendidikan, sastra, dan seni. Lalu mau membuat apa yang bisa mempertemukan itu semua? Saya buatlah museum sastra yang di dalamnya juga ada kelas gratis bagi masyarakat sekitar. Sekarang ada kelas musik dan bahasa Inggris, waktu belajarnya di luar jam sekolah formal. Komitmen saya sejak awal adalah mengalokasikan 70 persen royalti untuk amal.

DARI MANA IDE MUSEUM ITU?

Ketika di AS, saya berkesempatan mengunjungi Museum Mark Twain. Saya berpikir, masak dari 260 juta penduduk Indonesia, tidak ada museum sastra?

MUSEUM ITU TADINYA RUMAH ANDA?

Bukan. Tapi rumah saya hanya berjarak beberapa rumah di seberangnya.

NOVEL TERBARU ANDA, AYAH, KONON BUTUH PROSES PEMBUATAN SELAMA 6 TAHUN?

Buku terakhir saya sebenarnya Laskar Pelangi Song Book, 4 tahun lalu. Ide novel Ayah memang sudah dari 6 tahun lalu. Namun selama itu saya sibuk proses penerjemahan Laskar Pelangi ke 34 bahasa. Bekerja sama dengan 1 editor saja sudah pusing. Selain itu riset untuk Ayah juga cukup memakan waktu. Alhamdulillah, setelah 2 jam diluncurkan pada 29 Mei lalu, penerbit Ayah, Bentang, langsung memutuskan cetak ulang. Sekarang sudah ada 10 sutradara dan produser yang menghubungi saya untuk meminta izin mengangkat novel itu ke film. Belum ada yang deal.

SECARA SINGKAT, APA ISI NOVEL

AYAH?

Dari kedelapan buku saya, semuanya memiliki nilai budaya, keluarga, dan

pendidikan. Ini adalah novel pertama saya yang tidak dibuat dari sudut pandang tokoh Ikal.

APAKAH ANDA MENGANGGAP GAYA MENULIS ANDA ADALAH STORY TELLING?

Sudah 10 tahun saya belajar gaya story telling. semakin saya tidak tahu.

NOVEL INI DIANGKAT DARI KISAH NYATA?

JADI ANDA TIDAK MEMBUAT OUTLINE TERLEBIH DAHULU?

Semakin saya belajar,

Saya selalu mengatakan dan meminta penerbit [untuk menulis di cover buku], bahwa semua buku saya adalah novel [yang berarti ceritanya fiksi]. Tapi memang terinspirasi dari kisah nyata. Misalnya, tokoh Maryamah di novel Padang Bulan itu adalah tetangga saya.

JADI SEMUA TOKOH DI DALAM NOVEL ANDA ITU NYATA?

Umumnya nyata. Tapi namanya novel, ya ada cerita kecil yang dibesar-besarkan, dan begitupun sebaliknya.

APAKAH BISA DIBILANG PEMBUATAN AYAH CUKUP LAMA KARENA TOKOH UTAMANYA BUKAN TERINSPIRASI DARI CERITA ANDA?

Tidak. Apakah tokoh utamanya saya atau bukan, itu tidak bersangkutan dengan waktu. Selain karena proses penerjemahan, saya juga harus menghadiri peluncuran buku saya dari mulai Arab sampai Bulgaria.

BAGAIMANA RITUAL MENULIS ANDA?

Saya senang menulis di pagi hari, sekitar 4 jam. Saya mengalokasikan 90 persen waktu saya untuk riset. Hanya 10 persen untuk menulis. Kebanyakan novel saya diselesaikan dalam hitungan minggu. Novel Sang Pemimpi bahkan 10 hari. Ada orang yang ketika duduk dan menulis, dia baru memikirkan tentang apa yang akan dilakukan tokohnya. Saya tidak. Semua sudah ada di otak.

Kalau kita sudah memahami kisah itu dan tahu apa yang ingin kita sampaikan, ya mengalir saja.

DARI 8 BUKU ANDA, ADA 7 BUKU YANG TOKOH UTAMANYA TERINSPIRASI DARI ANDA SENDIRI. APAKAH INI BERARTI ANDA NYAMAN “MEMBUKA” DIRI UNTUK ORANG LAIN?

Itulah mengapa saya selalu menekankan kalau ini adalah novel. Kebijakan pembaca diharapkan.

TAPI BAGAIMANAPUN MEREKA PASTI AKAN MERASA BISA MENILAI ANDA SECARA PRIBADI

Ya, tidak akan terhindari.

ANDA NYAMAN DENGAN HAL ITU?

Saya nyaman. Karena dalam pengertian saya, pembaca yang bijak akan tahu bahwa ini novel. Misalnya diceritakan kalau ayah saya buta huruf. Padahal ayah saya bisa membaca, walau memang lebih lancar membaca huruf arab gundul daripada huruf latin.

ANDA MEMINTA IZIN PADA ORANG-ORANG DI DUNIA NYATA YANG MENJADI INSPIRASI TOKOH-TOKOH DALAM NOVEL ANDA?

Tidak. Karena mereka tahu kalau ini novel. Dan mereka tahu kalau saya orang Melayu.

DAN ORANG MELAYU ADALAH SEORANG YANG...

KAN?

Story teller. Ketika berbicara di sebuah acara, kadang orang bilang kalau saya seperti berdongeng. Memang budaya orang Melayu seperti itu. Makanya kami bisa berjam-jam di warung kopi, karena memang tukang bercerita. ANDA TIDAK PERNAH MENCOBA MENJADI SEORANG STORY TELLER? MAKSUDNYA MENJADI PENCERITA

Sudah, tapi tidak laku.

Hehehe.

SEBELUM MENJADI PENULIS NOVEL, ANDA MEMANG SUKA MEMBACA NOVEL?

Ya, hanya tidak terlalu sering. Sekarang saya mendidik diri saya untuk rajin membaca demi memperluas pemahaman tentang menulis novel. Saya disarankan oleh agen penerbitan saya. Tapi memang harus hati-hati dalam membaca novel. Kadang kita bisa terpengaruh.

MASIH BERKECIMPUNG DI DUNIA EKONOMI?

Saya sering baca jurnal ekonomi. Saya terakhir “berilmu-ilmu” ekonomi ketika bekerja di Telkom.

SEJAK KAPAN ANDA BERHENTI DARI TELKOM?

Sejak 3 tahun lalu, sekarang sudah penulis penuh waktu.

APA YANG MEMBUAT ANDA MEMUTUSKAN HAL ITU?

Lebih enak menjadi penulis.

APA DESKRIPSI KERJA ANDA DI SANA?

Mengajar ilmu keuangan di pusat pendidikan Telkom.

MERASA RINDU DENGAN DUNIA EKONOMI?

Oh ya tentu saja, karena latar belakang pendidikan saya itu.

APA YANG MEMBEDAKAN DUNIA SASTRA DAN EKONOMI?

Saya memiliki minat besar terhadap matematika, bahkan sampai sekarang. Apa yang membedakan? Ekonomi di otak kiri. Sastra di otak kanan. Itu perbedaan paling fundamental. Kalau saya rindu dunia ekonomi, saya sudah cukup senang dengan melihat komentar di berita TV tentang krisis ekonomi.

BISA DIBILANG, ANDREA BERPENGARUH BESAR TERHADAP “KESADARAN” MASYARAKAT AKAN BELITUNG. DALAM LASKAR PELANGI, ANDREA MEMPERLIHATKAN SITUASI PENDIDIKAN DI SANA YANG JAUH DARI LAYAK. IRONIS, PADAHAL PULAU ITU HANYA BERJARAK 1 JAM DARI JAKARTA. NAMUN KINI MENDADAK BELITUNG, KHUSUSNYA BELITUNG TIMUR (BELTIM), DAERAH ASAL ANDREA, SEMAKIN

HARUM NAMANYA.

KALAU BERBICARA TENTANG BELTIM, HAL YANG NAIK DAUN BUKANLAH TENTANG PARIWISATANYA, MELAINKAN TOKOH YANG BERASAL DARI SANA. SEPERTI BASUKI TJAHAJA PURNAMA ALIAS AHOK, YUSRIL IHZA MAHENDRA, DAN ANDA. PAMORNYA KALAH DARI BELITUNG UTAMA ATAU BIASA DISEBUT BELITUNG SAJA. PENDAPAT ANDA?

Pertanyaan ini keren banget. Jadi begini, Indonesia itu masih mengagungkan landscape tourism (pariwisata yang mengandalkan keindahan pemandangan fisik, Red), baik dari sisi pengambil kebijakan maupun turis itu sendiri. Kalau datang ke tempat wisata, yang ada di benak kita adalah tempat yang indah.

DARI SEGI PEMANDANGAN ALAM, APAKAH BELTIM INDAH?

Tidak. Kalah [dari Belitung]. Mana ada tempat di Beltim yang seindah Pantai Tanjung Tinggi atau Pulau Lengkuas di Belitung? Ada sejarah geologinya mengapa Belitung lebih indah. Sejarah geologi itu dinarasikan di Museum Kata. Saya bekerja sama dengan Universitas Akita, Jepang dan Tenik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB).

JADI APA YANG HARUS DILAKUKAN BELTIM DALAM HAL PARIWISATA AGAR TIDAK KALAH DARI BELITUNG?

Latar belakang ilmu saya adalah teori ekonomi. [Dari situ saya bisa melihat situasinya.] Jangka waktu turis ke Belitung itu paling lama 3 hari 2 malam. Untuk menarik mereka ke Beltim itu susah. Salah satu penariknya, ya, wisata Laskar Pelangi (novel dan film Laskar Pelangi berlatar belakang Beltim, Red). Ironisnya, Beltim masih mengalokasikan mungkin miliaran rupiah untuk landscape tourism. Itu tidak nyambung dengan perilaku dan motivasi turis ke sana. Turis tidak akan ke sana untuk landscape tourism.

SECARA KONKRET, BAGAIMANA CARA MEMAJUKAN PARIWISATA BELTIM MENURUT ANDA?

Saya sudah pernah menulis artikel tentang 7 manifesto pariwisata dan kebudayaan Beltim. Pernah juga saya mempresentasikan tentang intelligent tourism di Ikatan Alumni ITB. Ada 4 menteri datang di sana. Contoh intelligent tourism itu misalnya adalah kunjungan ke tempat shooting film, writer’s festival, atau writer’s residential program. Persis seperti yang dilakukan Ubud sejak dulu. Tapi sepertinya tidak ada yang peduli [dengan pemikiran saya]. Untuk membuktikan teori itu, saya membuat museum sastra. Dan dia adalah tempat wisata tertinggi di Beltim. Setahun dikunjung 300.000 orang. SAYA SEMPAT BERBICARA DENGAN BUPATI BELTIM, BASURI TJAHAJA PURNAMA.

Uh-huh! (suara Andrea meninggi) BELUM SEMPAT MEMILIKI IDE TENTANG MEMBUAT LOKASI SEMACAM TAMAN WISATA LASKAR PELANGI. TETAPI ANDA MENOLAKNYA.

Karena idenya tidak benar. Beliau ingin membuat sesuatu yang tidak sejalan dengan semangat laskar Pelangi. Justru malah membuat taman bermain yang sifatnya hiburan dibandingkan pendidikan. Saya bilang pada beliau, silahkan buat saja, tapi jangan bawa nama Laskar Pelangi.

TAPI BUKANKAH TAMAN SEPERTI ITU KAN AKAN MENGHASILKAN UANG LEBIH BANYAK UNTUK BELTIM?

Ah! Hahaha! Materialistik sekali. Semakin “tidak Laskar Pelangi”.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.