KURTUBI

(PAKAR ENERGI, 64)

Esquire (Indonesia) - - What I've Learned - TEKS: DICKY ZULKARNAIN FOTO: HARY SUBASTIAN

Waktu kecil, saya bercita-cita ingin menjadi dokter. Tapi saat sudah dewasa, saya malah kuliah di fakultas Ekonomi, dan jatuh cinta dengan ilmu Ekonomi. Menurut saya, kedua ilmu ini sama-sama bisa memberikan kontribusi terhadap kehidupan orang banyak. Saya memutuskan masuk pemerintahan karena memang mendapat kesempatan dari partai. Selain itu, juga terdorong karena situasi yang dialami Indonesia. Ini negara besar dengan banyak potensi dan sumber alam, tapi saya heran kenapa sedikit sekali orang yang menjadi ahli di bidang itu. Pengelolaan sumber daya alam, khususnya minyak dan gas, di Indonesia ini dilakukan dengan salah. Dari tahun 1999 sampai sekarang, saya kira-kira sudah menulis 400 artikel mengenai masalah ini di media massa. Tata kelola minyak dan gas yang salah ini bersumber dari Undang-undang Migas No. 22 tahun 2001. Peraturan yang ada sekarang ini, selain bertentangan dengan konstitusi juga menyebabkan banyak investor lari dari Indonesia. Proses investasi menjadi berbelit-belit dan terkesan birokratis. Yang paling salah adalah sistem kontrak Businessto-government, membuat negara sejajar dengan perusahaan minyak asing. Ini benar-benar merugikan negara. Sekarang ini, DPR masih mempelajari konsep rancangan undang-undang Migas baru yang disusun oleh anggota komisi pemeritahan sebelumnya. Salah satu pokok RUU itu adalah perubahan SKK Migas menjadi BUMN Migas yang baru di luar Pertamina. Saya menolak konsep ini, karena pada tahun ‘60-an Indonesia pernah punya tiga BUMN MIGAS, yaitu Pertamin, Pertamina dan Permigan. Pengalaman mengajarkan bahwa tiga perusahaan ini membuat sistem tidak efisien dan kinerjanya tumpang tindih, hingga kemudian akhirnya dimerger oleh menjadi Pertamina. Seharusnya, hanya ada satu perusahaan milik negara yang diberikan kuasa untuk mengelola sumber daya alam bersama investor dengan sistem Business-to-business. Perusahaan itu pun harus bisa terus dikontrol agar tidak terjadi korupsi di dalamnya. Misalnya dengan mengusung sistem lebih transparan, serta menjadi perusahaan terdaftar di BEJ sehingga masyarakat bisa mengamati laporan keuangannya secara rutin. Sesuai pengamatan saya pada rapat-rapat DPR atau dengan menteri ESDM, saya merasa peluang untuk merevisi UU MIGAS ini masih fifty-fifty. Setiap fraksi punya pendapat masingmasing berdasarkan kepentingannya, dan saya tidak punya hak untuk mengomentarinya. Tapi saya optimis, banyaknya publikasi mengenai kesalahan sistem selama beberapa tahun ini, banyak orang akan berpikir positif dan mendorong terjadinya perubahan. Turunnya harga minyak dunia sekarang ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menurunkan harga bahan bakar. Jika harga bahan bakar menurun, pertumbuhan perekonomian pun bisa meningkat. Kalau harga minyak semakin mahal, riset renewable energy semakin marak. Negara penghasil minyak terbesar seperti Saudi Arabia takut suatu saat negara lain akan meninggalkan minyak. Suka atau tidak suka, kita harus terus mengembangkan renewable energy karena suatu saat minyak dan gas habis. Dalam hal penanggulangan emisi karbon, Indonesia dinilai masih kurang. Pemerintah harusnya bisa membuat kebijakan dan program yang lebih konkret untuk penggunaan energi yang ramah lingkungan. Misalnya dengan mengoptimalkan bahan bakar gas untuk transportasi umum dan sektor rumah tangga. Teknologi pembangkit tenaga nuklir harus dibangun di Indonesia dalam kapasitas besar. Selain bisa mengurangi efek emisi, energi ini juga bisa menghemat penggunaan batu bara yang digunakan pembangkit listrik. Saya mendukung konsep carbon trading, tapi sistem ini baru akan berjalan efektif apabila negara-negara maju konsisten untuk mengeluarkan dana dan ada mekanisme jelas yang mengatur sistem ini. Indonesia punya potensi besar untuk sistem ini, karena Indonesia adalah negara tropis yang punya kawasan hutan yang luas. Kalau ada waktu luang, saya biasa melakukan renang dan jogging untuk menjaga kesehatan. Setiap minggu, saya selalu jogging di lintasan Car Free Day. Kalau ada dinas atau rapat kerja di luar kota, saya juga tidak pernah lupa untuk membawa celana renang. Impian yang ingin saya realisasikan sekarang ini sederhana saja, salah satunya tidak ada lagi pemadaman listrik di NTB yang menjadi daerah pemilihan saya. Saya juga ingin mendorong investasi di Indonesia, yaitu dengan menyediakan kapasitas sumber daya energi yang cukup.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.