DESTINATION: DRESDEN

MENIKMATI ARSITEKTUR BANGUNAN DAN INSTRUMEN TEKNIK LAWAS ALA JERMAN.

Esquire (Indonesia) - - Check-out Travel -

Nama Dresden mungkin belum sepopuler Berlin atau Frankfurt sebagai destinasi wisata di Jerman. Padahal, kota Dresden yang terletak di Jerman Timur ini memiliki peranan penting dalam sejarah. Sayangnya, sejarah kelam yang menyelimuti kota yang dialiri sungai Elbe ini: menjadi korban pengeboman ketika Perang Dunia ke II.

Namun di luar itu, Dresden adalah ibukota Saxony dan dulunya sebagai tempat tinggal Raja Saxony. Raja itu dikenal karena ketertarikannya dalam arsitektur, menghasilkan berbagai bangunan yang bernuansa baroque. Walaupun begitu, ada juga beberapa bangunan bersejarah di sana yang bergaya renaisans dan klasik serta modern dan posmodernisme.

Salah satu objek wisata di Dresden adalah Dresden Castle yang menjadi pusat dinasti semenjak abad ke XIV. Uniknya, bangunan ini memiliki campuran gaya arsitektur. Hal ini karena berbagai restorasi dan renovasi yang dialaminya.

Di seberang kastil, terletak Zwinger Palace yang bergaya rococco. Konon, tempat ini dulunya digunakan sebagai tempat pembantaian. Sesuai dengan arti kata kata zwinger yang berarti tempat pembunuhan yang terletak di antara benteng pertahanan luar dan dalam.

Sekarang lokasi ini dijadikan sebagai tempat wisata. Selain untuk mengamati keindahan arsitekturnya, pengunjung bisa masuk ke berbagai bangunan yang kini menjadi museum. Ada tiga museum yang ada di sini, yaitu Old Masters Picture Gallery, Dresden Porcelain Collection, dan Royal Cabinet of Mathematical and Physical Instrument.

Bagi yang tidak ingin mengeluarkan uang lebih untuk mengunjungi berbagai museum itu, bisa menikmati keindahan taman yang berada di balik gerbang utama. Duduk-duduk di samping air mancur sembari keindahan arsitektur kompleks bangunan ini.

Bagi yang rela mengeluarkan uang lebih dan ingin

mengunjungi museum, bisa membeli tiket, baik terusan maupun per museum. Tiket satuan seharga 10 euro. Sementara itu, untuk anak di bawah 17 tahun tidak dikenakan beaya.

Old Masters Picture Gallery bisa jadi akan memuaskan dahaga pencinta seni karena memiliki lebih dari 700 koleksi dari abad ke XV sampai XVIII seperti Raphael dan Rembrandt. Koleksi awal yang dimiliki sesungguhnya berjumlah lebih banyak lagi. Sayangnya, ketika perang dunia, banyak koleksi yang diambil oleh tentara Rusia.

Dresden Porcelain Collection memiliki lebih dari 20.000 koleksi dengan unggulannya porselen dari Tiongkok dan Jepang. Koleksi itu dikumpulkan oleh Augustus the Strong yang hidup di abad ke XVIII. Tak seperti koleksi lukisan yang banyak hilang, koleksi porselen banyak yang bisa diselamatkan ketika Perang Dunia.

Museum unggulan di Zwinger Palace bisa dibilang adalah Royal Cabinet of Mathematical and Physical Instrument. Museum ini seakan menjadi bukti bahwa bangsa Jerman memang sejak dulu unggul dalam bidang teknik. Koleksi yang dipamerkan di sini misalnya jam, teropong, dan model konstelasi tata surya. Penggemar jam tangan mewah bisa jadi akan mengalihkan ketertarikannya pada jam meja atau dinding setelah mengunjungi museum yang terletak di sebelah kanan gerbang

utama ini. Mungkin ini yang membedakan Jerman dengan negara tetangganya, Swiss, yang terkenal sebagai pusatnya perusahaan jam tangan ternama di dunia. Tak disangka, sebuah jam meja dengan mekanisme rumit telah ada sejak beberapa abad lalu. Bila beruntung, pengunjung bisa melihat mekanisme jam meja ini. Terkadang, bagian penutup luar jam memang dilepas untuk perawatan sehingga bisa dilihat.

Benda lain yang lebih sederhana juga ada di sini. Misalnya cermin yang berfungsi memfokuskan panas matahari sehingga bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit rematik. Sayangnya, benda-benda berukuran besar di museum ini kurang mendapatkan tempat yang pas. Berbeda dengan jam yang berukuran relatif kecil, benda-benda seperti teropong berukuran sangat besar. Apalagi koleksi selain jam ini diletakkan di lantai dua yang relatif lebih sempit. Apalagi, pengunjung tentunya ingin mencoba kemampuan benda teknik yang telah diciptakan berabad lalu. Hal yang tidak bisa didapatkan di museum ini. Entah karena keterbatasan tempat atau barang koleksi yang terlalu berharga. Tapi bukankah replika selalu bisa dibuat?

Koleksi ini diprakarsai oleh August Saxony di abad XVI. Awalnya beliau bermaksud membuat Chamber of Arts. Namun di dalamnya ternyata banyak koleksi yang berhubungan dengan dunia teknik. Pengumpulan ini dilakukan sendiri oleh August Saxony. Selain untuk mendokumentasikan keadaan wilayahnya, benda-benda teknik seperti jam astronomi adalah tolok ukur kekuasaan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.