ONCE IN A LIFETIME

Pengalaman mereka yang tampil di serial realitas regional.

Esquire (Indonesia) - - Man At His Best -

Mereka menyebut dirinya sebagai weekend photographer; hanya menjalani fotografi sebagai hobi akhir pekan sementara di hari biasa mereka bekerja dan bersekolah. Tapi kini wajah mereka dikenal di seantero Asia sebagai seorang fotografer. Itulah yang terjadi pada Adhitiya Wibawa, Made Yudistira, dan Kennardi Sebastian, tiga orang peserta Indonesia yang turut ambil bagian dalam serial realitas Photo Face-off musim kedua. Serial yang mengambil lokasi di Bali ini menampilkan tantangan bagi fotografer amatir dalam mencari foto terbaik dalam waktu singkat dengan kamera baru yang belum pernah mereka operasikan sebelumnya.

Jangan bayangkan serial realitas yang penuh drama pertengkaran seperti yang jamak ditemukan. “Kami berusaha tampil secara natural saja di depan kamera TV. Tidak sempat memikirkan drama,” ujar Kennardi. Namun begitu, harus diakui kalau tampil di kamera TV membuat mereka kagok. Yudistira mengakui, kalau keberadaan mereka ketika shooting yang selalu diikuti oleh kamera TV menarik perhatian orang sekitar. Apalagi sebagai seorang fotografer, mereka biasa berada di belakang kamera foto.

Perjalanan mereka sampai bisa ikut bagian dalam serial realitas ini dimulai dari proses casting. “Saya sudah memenangi Canon Photo Marathon tahun lalu di Singapura. Lalu saya diajak mengikuti casting untuk Photo Face-off,” ujar Adhitiya yang telah memenangkan lebih dari 100 kontes fotografi di Indonesia. Selain memberikan portofolio hasil bidikan kamera, mereka juga diuji tampilannya di depan kamera dan kemampuan menceritakan sesuatu dalam bahasa Inggris.

Made menceritakan ketika biasanya ingin mengambil foto dengan low angle, dia bisa langsung saja jongkok. Sementara ketika shooting, dia harus “bercerita” ke kamera TV tentang alasannya melakukan sesuatu. Soal menarasikan hal yang dilakukan, ternyata menjadi salah satu hal yang menyulitkan bagi ketiga peserta ini. “Harus diingat, ini adalah untuk acara TV, jadi penonton ingin mengetahui apa yang kita pikirkan. Karena itu, harus mengkomunikasikan berbagai hal di depan kamera. Sudah mau membidik objek foto, harus menarasikan juga. Multitasking itu yang susah,” ujar Kennardi.

Shooting telah mereka lakukan dan acara ini sudah bisa disaksikan mulai akhir September lalu di History Channel. Kini mereka telah kembali ke rutinitas masing-masing dan mengakui kalau pengalaman berkompetisi ala Photo Face-off memberikan pengalaman menarik dan pembelajaran berharga bagi mereka.“kalau diberikan kesempatan kedua, semua orang pasti mau, tidak ada yang tidak mau,” ujar Kennardi. “Ini adalah pengalaman sekali seumur hidup,” ungkap Made. “Besok-besok sudah tidak bisa lagi ya, hahaha,” canda Adhitiya. Tertarik menjadi peserta serial realitas juga seperti mereka?

“SETIAP SAYA PERGI KE BIOSKOP, TERJADI KEAJAIBAN.

APAPUN TEMA FILMNYA.” Steven Spielberg, sutradara

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.