MEREDUPNYA CERITA

AJAKAN MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA BERCERITA UNTUK GENERASI MENDATANG.

Esquire (Indonesia) - - Budaya - Teks: YOGI ISHABIB

SUKU MAYA PERNAH MANGALAMI PUNCAK PERADABAN DAN PENGETAHUAN, terutama dalam bidang kartografi. Kesempurnaan itu menuntut kerja keras dan ketelitian dalam setiap proses pembuatan peta agar sesuai dengan aslinya. Seiring dengan perkembangan dan perjalanan waktu, Dewan Juru Peta ingin membuat sebuah megaproyek ; membuat peta kota kerajaan yang sama persis skala, luas, dan bentuknya. Tentu megaproyek ini mensyaratkan satu hal ; membangun kota baru. Para tetua suku resah dengan rencana proyek tak masuk akal ini, membangun kota baru yang luasnya sama dengan kota kerajaan hanya untuk peta. Para tetua menghadap raja dengan menawarkan cara lain yang lebih tua tapi tetap mutakhir, yaitu dengan bercerita. Mereka melakukan perjalanan ke sudut-sudut kota yang sering luput dari perhatian kerajaan, mengunjungi pekerja-pekerja pembuat piramida, mengikuti dan mengamati pergerakan matahari bersama ahli penanggalan, ikut bercocok tanam dengan petani, hingga ikut aksi protes suku-suku atau keluarga yang anggotanya dijadikan kurban persembahan. Mereka mengumpulkan hasil perjalanan dalam cerita-cerita yang tak pernah habis disampaikan kepada raja, hingga raja tahu kondisi kerajaan yang selama ini tak pernah diceritakan oleh pembantu-pembantu manisnya. Akhirnya, raja membatalkan proyek gila soal peta itu.

Saya tidak sedang mengagungkan cerita sebagai satu-satunya tolak ukur moral dalam membangun peradaban dibanding hal-hal eksak yang memiliki cita-cita pencerahan dan memudahkan kehidupan manusia. Baik cerita maupun peta yang pernah dibuat oleh kerajaan di masa kejayaannya itu sama-sama abadi. Konon di gurun-gurun kawasan barat Amerika Selatan, serpihan dan remah-remah peta itu masih bisa ditemukan. Serpihan peta besar itu katanya digunakan untuk berlindung bagi binatang buas atau orang-orang yang melintasi gurun. Cerita itu juga abadi dalam petilasan-petilasan adat dan tradisi lisan yang terus diturunkan hingga kini.

Ketika Orde Baru tumbang, kesempatan untuk meluapkan cerita yang sebelumnya beredar secara sembunyi-sembunyi kembali menyeruak. Tapi ada permasalahan besar yang tetap menghantui, cerita-cerita itu gentayangan mencari penulis dan pembaca. Tradisi bercerita, baik lisan dan tulisan, hampir lumpuh setelah terlalu lama dilenakan oleh rezim. Jika ada cerita yang beredar pun, dia lebih banyak berisi tentang desasdesus, gosip, dan komedi murah seperti yang ditampilkan oleh media populer saat itu (sebenarnya, saat ini juga).

Cerita dicerabut dari akarnya. Ia hanya kata yang dilontarkan tanpa peduli dengan sekitarnya. Ia bukan, meminjam istilah J.L Austin, tindak ilokusioner, di mana kata yang dilontarkan adalah tindakan dan perbuatan. Bentuk cerita yang sering kita jumpai adalah lontaran kata-kata sublim yang mengalihkan cerita itu dari forma yang paling awal, yaitu kehidupan. Cerita dibuat mendakik, mengawang, tanpa pijakan yang membuat cerita kehilangan kekuatannya. Tindakan itu bisa menjadi justifikasi untuk menjauhkan cerita dari kekuasaan, tapi ketika dia tak menunjukkan keberpihakannya, dia rawan jatuh untuk meneguhkan status quo dan menjadi bagian dari rezim.

Begitu pula yang terjadi dengan posisi cerita di dalam dunia pendidikan kita. Cerita sebagai bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia lebih banyak berkutat kepada kaidah-kaidah yang baku (baca : kaku) daripada menjadi pendorong bagi siswa untuk memulai cerita dari kehidupan dan lingkungan terdekatnya. Alih-alih diberikan kesempatan sebagai mahluk yang bercerita, konstruksi yang dijejalkan melalui kaidahkaidah bahasa dan moral sepihak membuat siswa bagai orang asing, awam, dan subordinat. Hal itu yang membuat cerita hanya dipandang sebagai aktivitas remeh temeh di dunia pendidikan kita, sementara yang lain secara delusif menganggap bahwa cerita adalah aktivitas elite sastra, eksklusif, dan susah dipahami. Intinya tetap sama, cerita bukan bagian penting di dunia pendidikan kita.

Pendidikan kita masih sibuk dengan urusan baik-buruk atau benar-salah melalui kaidah moral sepihak yang membuat cerita bukan menjadi jembatan kehidupan dan konteks zaman yang dihadapi ‘si baik’ dan ‘si buruk’. Untuk mengetahui latar sejarah sebuah cerita perlu cerita-cerita lain melalui kajian maupun penelitian yang lebih mendalam dan hati-hati. Hal yang memang rumit dan butuh konsistensi, yang oleh karenanya pendidikan di Indonesia seringkali mengambil jalan paling mudah, harus ada kambing hitam yang disalahkan atau dikutuk keberadaannya. Akan mudah melacak cerita yang sering direproduksi di negara kita perihal kemunculan sosok antagonis macam Arok, Siti Djenar, Semaoen, Beureuh, dan banyak lainnya yang dibenci, dikutuk, dan disalahkan tanpa henti. Kebencian yang terus didengungkan tanpa melihat manusia utuh secara moral seperti kata Octavio Paz dalam The Labyrinth of Solitude bahwa “human being are a mixture, that good and evil a subtly blended in their souls”. Cerita tidak dipahami oleh pendidikan kita sebagai cara untuk mengudar kemungkinan, lingkungan, dan kehidupan yang nantinya membentuk peradaban. Pendidikan melalui institusinya lebih sering menggunakan cerita sebagai kuburan yang digali agar hidup terselamatkan melalui ‘kebenaran’ tunggal.

Meredupnya budaya bercerita karena keterpisahan yang terlampau jauh antara bercerita sebagai tindakan dan perbuatan dengan bercerita sekedar bercerita seharusnya mulai diretas. Menyatukan tindakan dan perbuatan melalui kata-kata yang dilontarkan ketika bercerita adalah salah satu kekuatan untuk membentuk peradaban. Peradaban yang dimulai dari cerita dan dilanjutkan oleh tindakan dengan menjadi manusia yang tak abai terhadap lingkungan sekitarnya. Menjadi manusia yang, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, adil sejak dalam pikiran.

Sudah saatnya kita merebut kembali cerita dari praktik kotor yang menggunakannya sebagai pemanis perselingkuhan antara pengetahuan, modal, dan kuasa. Mendekatkan diri dengan lingkungan sekitar akan memberikan stimulus bagi kepekaan moral sederhana dengan melihat aku dan pengalaman kehidupan di luar aku, bukan aku sebagai satu-satunya kebenaran. Pengalaman atas kepekaan itu membuat cerita mendapatkan kekuatannya kembali. Cerita yang tak terlena dengan haru biru dan glorifikasi sejarah yang berlebihan sementara narasi “pembangunan-isme” terus menggilas, menggusur, bahkan melenyapkan kehidupan. Cerita yang selalu menjumpai dirinya dalam cerita-cerita lain sebagai usaha penundaan kebenaran tunggal agar tak lekas hinggap dalam formalitas mapan yang dibingkai atas nama inventarisasi budaya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.