SUPREMASI DI TANGAN ANAK BANGSA

REVOLUSI ERICK THOHIR DI INTER MILAN.

Esquire (Indonesia) - - Sepakbola - Teks: RANDY WIRAWAN

EMPAT MUSIM TANPA KOMPETISI LIGA CHAMPIONS jelas bukan hasil yang diharapkan oleh tim sebesar, Internazionale Milan. Kini, di bawah pimpinan pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir, La Beneamata berusaha bangkit.

Pada tahun 2010, Inter merupakan raja di Eropa. Bagaimana tidak? Di bawah asuhan pelatih bertangan dingin asal Portugal, Jose Mourinho, Javier Zanetti dan kawan-kawan. Memboyong tiga gelar sekaligus! Dimulai dari Coppa Italia dengan mengalahkan AS Roma 1-0, Lalu scudetto yang dipastikan di pekan terakhir lewat kemenangan atas Siena 1-0, dan terakhir mengalahkan Bayern Muenchen dengan skor 2-0 di partai puncak Liga Champions.

Namun setelah malam yang indah di Santiago Bernabeu tersebut, Inter mendapat kabar tidak mengenakkan, Mourinho memutuskan untuk mundur dan memilih hijrah ke Spanyol, membesut Real Madrid. Presiden Inter kala itu, Massimo Moratti pun bergerak cepat, Rafa Benitez dipilih untuk menjadi pelatih.

Meski berhasil membawa Inter meraih gelar Piala Super Italia dan Piala Dunia Antar Klub, umur Benitez di Inter tidak panjang, Ia dipecat pada Desember 2010 setelah berselisih paham dengan Moratti tentang kebijakan transfer. Leonardo pun ditunjuk sebagai pelatih berikutnya. Bisa dibilang, legenda hidup AC Milan tersebut merupakan pelatih tersukses pasca-mourinho. Inter dibawanya menjadi runner-up Serie A dan ia juga berhasil membawa Il Nerazzurri menjadi juara Coppa Italia.

Setelah era Leonardo, kursi kepelatihan Inter kembali berganti pada awal musim 2011/12 dan pergantian itu seolah menjadi awal keterpurukan tim pengoleksi tiga gelar Liga Champions tersebut. Dalam dua musim, Inter berganti pelatih sebanyak tiga kali. Dimulai dari Gian Piero Gasperini, Claudio Ranieri, dan Andrea Stramaccioni. Pergantian ini tidak banyak membantu Inter menaikkan performa, Inter finish di posisi 6 dan 9, masing-masing pada musim 2011/12 dan 2012/13.

Terpuruknya Inter membuat Massimo Moratti mulai

berpikir untuk menjual Inter. Setelah gagal mencapai kesepakatan dengan konsorsium asal China, pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir lewat konsorsium International Sports Capital HK Ltd sepakat dengan Moratti untuk pembelian 70% saham Inter dengan nilai 250 juta euro.

Thohir pun mulai melakukan perubahan di tubuh Inter. Pria yang juga pemilik klub Major League Soccer (MLS), DC United tersebut melakukan pembenahan terutama di sektor manajerial. Beberapa profesional seperti Michael Bolingbroke, Michael Williamson, Claire Lewis, dan Robert Faulkner direkrut. Masing-masing untuk mengisi posisi CEO, Direktur Finansial, Direktur Pemasaran, dan Direktur Komunikasi. Sementara itu, di posisi Direktur Olahraga, Marco Branca yang dianggap sebagai biang kegagalan di bursa transfer dipecat dan digantikan oleh Piero Ausilio.

Meskipun melakukan perombakan di sektor manajerial, Thohir tidak jor-joran di bursa transfer. Financial Fair Play (FFP) yang digalakan oleh UEFA memang membuat klub-klub di Eropa lebih berhati-hati dalam hal neraca keuangan. Singkatnya lewat FFP, UEFA ingin klub-klub tidak besar pasak daripada tiang sehingga diharapkan tidak terjadi lagi kebangkrutan yang dialami oleh klub seperti Fiorentina di tahun 2002 atau Leeds United di tahun 2007.

Akan tetapi, strategi hemat di bursa transfer Inter tidak berjalan efektif. Hal ini pun berimbas ke lapangan. Pada musim 2013/14, Inter hanya finish di posisi kelima di bawah asuhan Walter Mazzarri. Tidak kunjung membaiknya performa Inter di musim 2014/15 membuat Mazzarri dipecat dan digantikan oleh sosok yang pernah mengantarkan Inter merebut scudetto tiga kali, Roberto Mancini.

Dalam suatu konferensi pers di akhir musim lalu, wartawan di Italia sempat bertanya kepada Mancini: “Berapa pemain yang akan didatangkan Inter pada bursa transfer musim panas?” Sambil tertawa, Mancio menjawab: “Mungkin delapan atau sembilan pemain!”

Ternyata omongan Mancini bukan sekadar candaan, Inter benarbenar agresif di bursa transfer musim panas 2015. La Beneamata mendatangkan total sembilan pemain di berbagai posisi. Joao Miranda (Atletico Madrid), Martin Montoya (Barcelona), Alex Telles (Galatasaray) dan Jeison Murillo (Granada) di lini belakang. Geoffrey Kondogbia (AS Monaco) dan Felipe Melo (Galatasaray) di lini tengah, serta Adem Ljajic (AS Roma), Stevan Jovetic (Manchester City), dan Ivan Perisic (VFL Wolfsburg) di lini depan. Untuk mendatangkan sembilan pemain ini, Inter membayar 86,45 juta euro atau setara dengan 1,4 triliun rupiah!

Sembilan pemain yang didatangkan diproyeksikan untuk mengisi posisi utama, sehingga praktis pemain-pemain andalan Inter musim lalu seperti kapten tim, Andrea Ranocchia dan Yuto Nagatomo harus rela mengisi bangku cadangan. Bahkan dua pemain, Mateo Kovacic dan Anderson Hernanes dijual ke klub lain untuk memberikan tempat kepada deretan pemain anyar ini.

Pemasukan dari Liga Champions akan membuat Inter mampu menstabilkan keuangan sehingga klub bisa lebih tenang beroperasi di bursa transfer dan pemain bintang seperti Mauro Icardi dan Samir Handanovic tidak perlu dikorbankan untuk mendapat pemasukan.

Meskipun demikian, lolos ke Liga Champions jelas bukan perkara mudah. Serie A hanya mendapat jatah tiga wakil untuk berkompetisi memperebutkan trofi ‘Si Kuping Besar’. Jatah tiga tempat ini akan diperebutkan oleh tujuh tim. Juventus yang mendominasi Serie A dalam kurun waktu empat tahun terakhir menjadi favorit. Sementara itu AS Roma dengan komposisi skuad yang bagus akan menguntit si Nyonya Tua. Jangan remehkan juga tim-tim lainnya seperti AC Milan, Napoli, Fiorentina, dan Lazio yang komposisi skuatnya tahun ini akan lebih kuat dibandingkan tahun lalu.

Thohir sudah bekerja maksimal dalam merevolusi Inter baik dari segi manajerial klub maupun komposisi skuad. Kini menjadi tugas Mancini untuk memutar otak meramu tim yang di atas kertas sudah bagus. Tidak hanya sekedar membawa Inter lolos ke Liga Champion, suporter Inter di seluruh dunia tentu berharap Inter mampu meraih prestasi lebih lagi dengan merebut scudetto yang terakhir diraih lima tahun lalu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.