OSCAR MOTULOH

(FOTOGRAFER, 56)

Esquire (Indonesia) - - What I've Learned - TEKS: Dicky Zulkarnain FOTO: hanafi

Saya jadi wartawan karena memang tidak ada pilihan. Dulu, sudah melamar ke beberapa tempat tapi tidak diterima. Orangtua malah ingin saya jadi diplomat. Tapi saya berpikir jadi diplomat itu kok rasanya repot banget, harus selalu berpenampilan rapi pakai jas dan dasi. Dua tahun jadi wartawan di kantor berita Antara, saya ditawari mengepalai biro foto karena waktu itu banyak pegawainya yang pensiun. Padahal, saya nggak punya pengalaman sama sekali di bidang fotografi. Mungkin pimpinan saya waktu itu memilih saya karena rambut saya gondrong dan suka pakai jeans belel. Dari kecil, Bapak saya suka mengajak nonton film dan kadang-kadang membelikan beberapa komik melayu. Mungkin dari situlah saya jadi menyukai segala sesuatu yang berbau visual. Saya belajar fotografi secara otodidak, bertanya-tanya pada fotografer senior dan banyak membaca buku fotografi. Kalau seorang fotografer memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang jurnalistik, biasanya dia akan mudah dalam menguasai persoalan dan bahkan mengembangkan cerita dari sudut pandang yang lain. Itulah sebabnya fotografer di Antara harus menjalani pendidikan sebagai wartawan dulu, baru setelahnya diperbolehkan memotret. Tidak ada karya yang orisinil. Pasti selalu ada karya atau eksistensi orang lain yang bisa mempengaruhi seseorang dalam berkarya. Setiap karya fotografi jurnalistik yang baik itu harus bisa memperlihatkan momentum yang ditangkap dari titik yang tepat. Harus ada unsur drama juga dari foto itu, agar bisa menarik perhatian orang untuk mengamatinya. Fotografer yang baik juga harus bisa mengembangkan karakter khasnya dalam setiap karya yang dihasilkan. Misalkan dia akan menampilkan karyanya di sebuah medium tertentu seperti majalah atau koran, dia juga harus bisa mencermati karakteristik medium itu. Sang fotografer juga harus bisa mengekspresikan keberpihakannya secara subjektif dari peristiwa yang dibidiknya, sehingga hasil karya itu memiliki kemampuan bercerita yang kuat. Pada masa sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, jurnalistik adalah dunia yang angkuh. Sekarang ini, kehadiran citizen journalism mau tidak mau membuat pers harus bisa lebih membuka diri. Citizen journalism bisa menyampaikan berita lebih cepat dari pers, meskipun akurasinya masih dipertanyakan. Pers sekarang ini juga harus lebih kreatif lagi dalam menyampaikan berita dari sudut pandang lain. Saya pernah merasakan masa transisi dari peralihan kamera analog ke digital. Waktu itu, memang banyak yang bersikap defensif dan lebih pro ke analog. Tapi pada akhirnya, kamera digital memang lebih praktis dan sangat membantu dalam memenuhi tuntutan kecepatan hasil akhir. Walaupun saya termasuk gagap teknologi, mau tidak mau harus tetap mempelajari kamera digital. Saya pernah punya proyek pribadi berupa pameran bertema trilogi kematian. Saya melihat kematian sebagai bagian dari kehidupan yang menjadi misteri. Mungkin dengan mengungkapkan tema seperti itu, orang-orang yang mengamatinya akan menghargai kehidupan dengan lebih baik. Salah satu amanat dari reformasi yang berhasil dijalankan adalah kebebasan pers. Kita beruntung bisa memilikinya karena beberapa negara tetangga kita bahkan pers-nya sangat dikontrol oleh pemerintah atau penguasa. Partai politik atau pemerintah beberapa kali juga sempat ingin membuat peraturan yang berusaha mengekang pers. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga kebebasan pers ini dengan baik. Kebanggaan di dunia jurnalistik ini umurnya pendek. Tidak ada kesempatan untuk berpuas diri atas sebuah karya. Seorang jurnalis harus bisa menghasilkan foto atau tulisan yang lebih baik lagi setelahnya. Saya nggak cuma mengamati referensi yang berbau serius saja. Saya juga suka mengoleksi buku fotografi fashion dari Helmut Newton, Mario Testino sampai Nobuyoshi Araki. Mengapresiasi karya-karya mereka yang berbeda justru semakin merangsang saya untuk berkarya. Saya nggak pernah punya impian atau cita-cita. Menikmati apa yang terjadi besok lebih seru daripada merencanakan segala sesuatunya terlebih dahulu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.