Aneh

Esquire (Indonesia) - - Esquire Cerpen - Oleh: Humam S. Chudori

Cermin berukuran 100 cm x 150 cm yang menempel di dinding, di ruang tengah, pecah berkepingkeping setelah ditabrak Tardi yang main kejar-kejaran dengan kakaknya, Muladi. *** Memang. Dua orang anak saya itu kalau sudah bercanda tidak memikirkan akibatnya. Jika mereka main kejarkejaran, hampir dapat dipastikan, selalu mengorbankan sesuatu. Entah keramik atau barang pajangan lain di atas bufet. Tak sedikit keramik pajangan yang sudah pecah oleh mereka. Untungnya pajangan yang ada di atas bufet tidak semuanya terbuat dari keramik. Namun, setiap kali mereka saya larang main kejar-kejaran bapak tidak suka. Bapak pasti menegur saya. “Biar saja, namanya anak-anak. Dulu, waktu kecil kamu juga begitu.” “Tapi keramik sudah banyak yang …” “Keramik bisa beli lagi kalau pecah. Kalau banyak aturan, nanti anakmu tidak kreatif. Sebab mereka merasa tidak punya kebebasan,” potong Bapak, “Masa, kamu tidak …” “Masalahnya, Pak. ….” “Saya punya pengalaman, Maya,” potong bapak, untuk kedua kalinya, “Karena ibumu banyak bikin aturan. Akibatnya di antara kalian saja ada yang pede ada yang tidak.” Saya diam. Ini bukan masalah pede atau tidak. Tapi yang mereka lakukan bisa membahayakan. Bisa melukai kaki mereka jika pecahan keramik itu terinjak. Beginikah cara kakek mengekspresikan rasa sayang kepada cucu? Saya membatin. Untung saja selama ini mereka belum ada pajangan keramik yang pecah terinjak mereka saat main kejar-kejaran. *** Akhir-akhir ini saya takut kalau mereka menabrak cermin yang menempel di dinding. Tetapi, kekhawatiran saya dianggap bapak terlalu berlebihan. Memang. Saya dan Mas Joko sempat pisah tempat tinggal dengan orangtua. Setelah ibu meninggal kami serumah lagi dengan bapak. Di samping bapak tinggal sendiri. Kami pun belum punya rumah. Status rumah yang kami tempati sebelumnya masih kontrak. Belum dua tahun tinggal bersama bapak, saya sudah merasa tersiksa. Banyak hal dalam mendidik kedua anak saya – Muladi dan Tardi – kami berbeda prinsip. Ironisnya, jika Mas Joko saya lapori hal ini. Suami saya tidak mau komentar. Ketika saya minta Mas Joko pindah, agar kontrak rumah seperti sebelumnya. Ia tidak memberi jawaban. Ragu untuk mengambil keputusan. Sempat terpikir oleh saya Mas Joko tak mau pindah, lantaran kalau mengontrak berarti ada pengeluaran tambahan. Namun, saya tidak ingin mengemukakannya. Khawatir terjadi kesalahpahaman. *** Apa yang pernah saya khawatirkan akhirnya terjadi. Cermin itu pecah berkeping-keping setelah ditabrak Tardi saat main kejar-kejaran dengan Muladi. Punggung Tardi, anak laki-laki berusia sembilan tahun itu, tertancap pecahan

kaca. Karena saat itu ia terjatuh setelah menabrak cermin. Terpaksa ia harus mendapat lima jahitan. Sejak itu bapak sering melamun. Mungkin menyesal karena memberi kebebasan cucunya. Bisa jadi ia merasa bersalah tak pernah mendengar pendapat anaknya. Hingga cucunya jadi korban. Untungnya Tardi tidak dirawat di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan jika anak kami itu harus dirawat di rumah sakit. Sebab biaya ‘menginap’ di rumah sakit cukup mahal. *** Sebelum cermin itu pecah kesehatan bapak nyaris tak pernah terganggu. Ia tidak pernah mengeluh. Bahkan flu atau batuk, misalnya, bapak jarang mengalaminya. Ya, ketika terjadi perubahan cuaca biasanya banyak orang terserang flu. Tetapi, bapak tetap sehat walafiat. Namun, sejak cermin pecah ada saja yang dikeluhkan. Entah kepalanya pening, badannya pegal-pegal, mudah capek, napasnya sesak, jantungnya tibatiba berdebar-debar, dan keluhan lain yang menyangkut fisiknya. Dan, belakangan ini ia menjadi pendiam. Sejak saya kecil, bapak tak pernah meluapkan kemarahan. Namun, jika diajak bicara ia diam. Mematung. Ibu pernah mengatakan kepada kami – anak-anaknya – kalau bapak tak mau bicara. Tanda ia marah. Semua anaknya tahu. Saya yakin diamnya bapak akhirakhir ini karena ia marah. Namun, saya tidak tahu apa yang menyebabkan kekesalannya. Apakah marah terhadap kedua cucunya yang telah membuat cermin itu pecah. Ataukah jengkel terhadap dirinya sendiri karena membuat cucunya terluka. Mas Joko membeli cermin lagi. Ukurannya lebih kecil, 50 cm x 70 cm. Digantungkan di atas tembok satu setengah meter dari lantai. Posisinya doyong ke depan. Tidak menempel di tembok seperti cermin yang sudah pecah. Agar kedua anak kami tak akan menabraknya jika mereka main kejar-kejaran. Namun, bapak tak mau bercermin lagi. Dulu setiap pagi ia akan berkaca di cermin yang sudah pecah itu. Lalu mulutnya komat kamit, seperti berbicara dengan diri sendiri. Entah apa yang diucapkan bapak dengan suara lirih itu. *** Ketika kecil saya pernah beberapa kali memergoki bapak marah di depan cermin. Sambil telunjuknya menudingnuding cermin, ia berkata, “Darwin! Jangan mau dikalahkan penyakit. Bibit penyakit itu kecil, kamu besar. Kamu kuat, kamu bisa mengenyahkan bibit penyakit yang bersarang di tubuhmu.” “Hai penyakit, apa pun namanya. Tempatmu bukan di tubuh Darwin. Karena itu keluar dari tubuhnya. Sekarang!” katanya di lain waktu. “Tubuh Darwin bukan sarang penyakit, ngerti!” “Hai Darwin! Kenapa kamu biarkan saja bibit penyakit menghuni badanmu.” Demikian beberapa kalimat yang pernah diucapkan bapak jika berdiri di hadapan cermin yang masih saya ingat. Pertama kali bapak melakukan hal ini, tatkala ia sakit dan sudah berobat ke dokter tapi tak kunjung sembuh. Setelah dua kali ke dokter dan obatnya sudah habis, kesehatannya belum pulih. Tiba-tiba bapak setiap pagi akan berdiri di depan cermin dan berbuat seperti itu. Ibu tak pernah cerita penyakit apa yang diderita bapak ketika itu. Yang pasti, setelah bapak berbuat demikian kesehatannya berangsur-angsur pulih. Sejak itu bapak sering mengulanginya - berdiri di depan cermin sambil menudingnuding kaca dan bicara sendiri - jika tubuhnya terasa sakit. Seiring berjalannya waktu, bapak merubah kebiasaannya. Ia tidak pernah bicara dengan suara keras – seperti ketika saya masih kecil. Tetapi, suaranya menjadi lebih pelan. Lirih. Seperti komat-kamit setiap kali ia berdiri di depan

kaca cermin. Apalagi setelah Mas Rio – kakak sulung saya – menikah. *** Tidak sampai setengah tahun sejak cermin itu pecah, bapak meninggal. Ia tak mengalami sakit parah sebelumnya. Melainkan sering mengeluh tubuhnya mudah lelah, kepalanya acapkali mendadak terasa pening. Sayangnya, setiap kali kami mengajaknya ke dokter ia tak pernah mau. “Nanti juga hilang sendiri,” demikian alasannya. Itulah sebabnya kakak-kakak terkejut ketika saya mengabarkan kematian bapak. Mereka seperti tak percaya mendengar kabar yang saya sampaikan lewat telepon. *** Malam hari, usai tahlilan, setelah tetangga pada pulang. Kakak-kakak mempertanyakan penyebab kematian bapak. Lantaran tak ada kabar dari kami - saya dan Mas Joko - sebelumnya tentang kesehatan bapak. Saya jelaskan, bahwa bapak sudah tidak ada ketika saya bangunkan untuk shalat Subuh. “Itu sebabnya kami tak memberi kabar sebelumnya. Karena bapak memang tidak pernah sakit,” tambah Mas Joko. “Ngomong-ngomong cermin ….” “Pecah, mbak,” Mas Joko memotong mbak Rukmini, adik Mas Rio, “Anakanak tanpa sengaja memecahkannya, waktu mereka main kejar-kejaran.” Lalu Mas Joko menceritakan musibah yang dialami anak kami. Hingga Tardi mendapat jahitan di punggungnya. “Kenapa Kamu tidak cerita kalau anakmu …” “Soalnya Tardi tidak dirawat di rumah sakit,” saya memotong kalimat mbak Tari, kakak ipar saya, “Jadi, kami tak mengabarinya.” “Mungkin bapak merasa bersalah setelah cucunya mengalami musibah. Lalu ia stres,” kata Mas Bowo, suami mbak Rukmini. “Saya yakin bukan itu penyebabnya. Tetapi, karena cermin itu pecah. Bapak sehat selama ini berkat cermin itu. Kita semua tahu, kan? Bagaimana bapak menyugesti dirinya lewat cermin,” sanggah Mas Anton. Kalimat yang dilontarkan Mas Anton menjadi gayung bersambut. Lalu hampir semua kakak-kakak saya menuduh kami, saya dan Mas Joko, yang menjadi penyebab kematian bapak. Karena tak bisa mendidik anakanak. Hingga mengakibatkan pecahnya kaca cermin itu. “Sudah, sudah!” seru Mas Jiwo, “Kita ini cuma bisa menyalahkan. Mestinya kita terima kasih sama Maya dan Joko yang bersedia tinggal di sini. Coba kalau tak ada yang menunggui bapak. Mungkin kematian bapak terlambat diketahui. Orang bapak tidak sakit.” Hening. “Cermin tak ada hubungannya dengan kematian bapak. Memang sudah waktunya bapak meninggal,” tambah anak nomor dua dari bungsu itu, “Jadi, kematian bapak jangan dihubunghubungkan dengan cermin segala.” *** Saya tidak bisa membayangkan andaikata Mas Jiwo sudah pulang ketika semua kakak-kakak saya menyudutkan kami – saya dan Mas Joko. Sebab dari tujuh orang kakak saya hanya Mas Jiwo yang tidak mau menghubung-hubungkan kematian bapak dengan cermin yang pecah. Namun, pembicaraan anak-anak bapak tak urung membuat Mas Joko bertanya tentang hubungan cermin dengan bapak. Akhirnya saya menceritakan kebiasaan bapak, apabila sakit dan lama tak sembuh – meski sudah minum obat dari dokter, ketika anakanaknya belum ada yang menikah. “Pantas kalau begitu,” ujar Mas Joko, setelah mendengar penuturan saya. “Maksudnya, Mas?” “Kamu kan anaknya, Maya. Masa, tak paham,” jawab Mas Joko, “Nah, saya saja ngerti maksud mereka.” *** Sejak percakapan itu, suami saya akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan mertuanya. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, Mas Joko akan ‘berkomunikasi’ dengan cermin yang ada di hadapannya. “Hai Joko. Hari ini kamu harus sehat. Harus kuat. Kerja jangan malas. Ingat Joko, kamu punya keluarga,” kalimat ini akan selalu diucapkannya di depan cermin. *** “Mama tidak salah pilih suami?” tanya Muladi, suatu ketika, tanpa prolog sebelumnya. Betapa terkejutnya saya mendengar pertanyaan ini. “Maksud kamu apa Nak?” saya balik bertanya. Muladi diam. “Kenapa kamu tanya seperti itu, Nak?” saya mempertegas pertanyaan sebelumnya. “Papa itu orang aneh, Ma. Masa, tiap pagi cermin diajak bicara. Kalau bukan orang aneh mana mungkin papa melakukannya.” Mendengar pernyataan Muladi. Tiba-tiba saya merasa lucu. Tanpa sadar saya tertawa. Terkekeh-kekeh. “Benar-benar suami-istri yang aneh,” katanya. Setelah berkata demikian Muladi keluar rumah. Pergi. Entah kemana. Meninggalkan saya yang masih terpingkal-pingkal dengan penilaiannya terhadap kedua orangtuanya sendiri.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.