BULAT BERJUMBAI DAN BERBINTIK

DARI DESSERT BERLANJUT KE MINUMAN

Esquire (Indonesia) - - Check-out Gastro -

Untuk mendapatkan pengalaman mengutak-atik menu yang unik, pasti selalu ada waktu beberapa menit untuk mengulik pengetahuan tentang kekayaan bahan yang ada di dunia ini. Pasalnya, jika ingin bicara soal buah pitaya atau buah naga yang jarang diolah ini tidak kalah lezatnya dengan buah eksotis lainnya.

Buah yang konon lahir di Amerika Tengah dan Selatan ini, dibudidayakan juga di Asia. Dagingnya terkenal mirip dengan daging buah kiwi karena tekstur dan kehadiran biji-biji halusnya. Pitaya memiliki warna daging yang menarik, yaitu putih, merah hingga magenta yang biasanya dipakai karena rasa dan warna natural yang dihasilkannya. Semua orang akan puas dengan isinya karena buah lonjong ini dapat mencapai berat dari 350 gr hingga 700 gr. Dagingnya tebal. Balutannya berupa kulit berwarna merah terang yang mengingkatkan kita pada jenis kaktus namun dengan jumbai-jumbai atau sisik naga di luarnya. Perkara manfaat buah naga, dia memiliki deretan daftar keuntungan yang dapat kita nikmati seperti kandungan lycopene yang fungsional sebagai antioksidan alami untuk melawan kanker dan penyakit jantung.

Selain menjadi tuan di berbagai label minuman botolan seperti Tropicana, buah naga menjadi bintang di berbagai hidangan olahan chef dapur mereka. Kita akan mendengarnya misalnya di dalam menu restoran di Pullman Jakarta Indonesia. “Sebenarnya, tidak ada rasa istimewa dari buah yang memiliki warna vibrant ini. Manis tidak, asam pun tidak. Namun, ini tantangannya. Saya meraciknya menjadi hidangan yang segar, dingin dan tidak berlebihan manisnya. Dan cara yang sempurna adalah sorbet,” ujar Chef Gerald A. Maridet, Executive Pastry Chef. “Sangat penting menjaga rasa aslinya, maka dari itu, saya tidak ingin memberi perasa manis layaknya es krim. Hanya butuh sentuhan air jeruk nipis untuk meningkatkan rasa dari buah eksotis ini,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, pitaya dapat diolah sebagai koktil. “Jika untuk koktil, saya sarankan untuk mencampurkannya dengan vodka atau gin untuk tidak menghilangkan cita rasa buah naga yang manis dan ringan. Saya buat gaya Martini fruity. Ini adalah permainan jus dan sirup yang tepat. Selain mengangkat rasa buahnya, ada karakter dari kayu manis dan jahe yang keluar dari koktil ini. Metode yang saya pakai adalah shake and double strain yaitu proses penyaringan demi membebaskan endapan buah yang sudah di hancurkan dari minuman tersebut,” ungkap Mixologist wanita dari Cork& Screw Pacific Place, Jakarta, bernama Kiki Renata.

“HIDUP TANPA CINTA ADALAH POHON TANPA BUNGA ATAU BUAH.” Kahlil Gibran, penyair.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.