SISI LAIN NEGERI MATAHARI TERBIT

BERVAKANSI KE JEPANG MENYAMBANGI DAERAH TANPA KERAMAIAN KOTA.

Esquire (Indonesia) - - Check-out Travel - Teks: EDWIN SISWANTO

Jepang tak hanya Tokyo dengan Skytree Towernya yang tinggi menjulang. Banyak keindahan tak terperikan saat menjelajah daerah yang jauh dari pusat kota, seperti Pulau Sado dan kawasan Fujinomiya di bawah kaki Gunung Fuji.

Bagi saya, salah satu momen terbaik selama menjelajah Jepang adalah menikmati pemandangan gunung Fuji dari kaki gunung Fujinomiya. Memandanginya dari kejauhan, seakan tangan saya dapat meraih pucuk es yang bertengger manis di puncaknya.

Sensasi itulah yang saya rasakan saat bertandang sekaligus berziarah ke Taiseki-ji, komplek kuil Buddha Nichiren Shoshu yang terletak di perfektur Shizuoka, Fujinomiya. Di sana ada banyak kuil megah bersejarah, yang dibangun pada abad KE-XIII hasil sumbangan seorang bangsawan bernama Nanjo Tokimitsu.

Menginjakkan kaki di Taiseki-ji, Anda akan melihat kemegahan kuil Kyakuden yang dipenuhi lukisan bersejarah, Kuil Miedo, kuil utama Hoando, makam

Nichiren Daishonin, pagoda lima tingkat, dan Kuil Batu. Setiap kuil memiliki kepala kuilnya masing-masing, dan hampir setiap harinya diadakan ritual agama Buddha di Taiseki-ji.

Dari Fujinomiya, saya menyeberangi lautan menuju Pulau Sado (Sado ga-shima). Selama perjalanan dengan kapal laut, ratusan burung camar laut bersahabat menghampiri orang-orang yang sedang menikmati angin laut di kabin. Ternyata burung-burung itu menunggu para pengunjung menyuapi makanan. Tak terasa, serunya bermain dengan burung camar membuat perjalanan laut terasa sangat singkat.

Satu hal yang mengundang pertanyaan ketika saya tiba di Pulau Sado, tepatnya di daerah Niigata, adalah sebuah gunung besar berbentuk V. Ternyata, gunung tersebut menyimpan banyak emas yang telah dikeruk habis-habisan pada 1601. Peristiwa tersebut menjadi cikal bakal dibangunnya Gold Mine Museum. Ketika saya memasuki museum yang berisi diorama penggalian emas itu, saya

dapat melihat robot-robot yang menyerupai cara pekerja yang sedang menggali emas. Para pengunjung seakan ditarik ke zaman ratusan tahun lalu. Dioramanya begitu nyata, sampai kami dapat merasakan kehidupan para pekerja di masa itu.

Ditilik secara historis, Pulau Sado merupakan tempat pembuangan para kaisar dan tokoh masyarakat yang dianggap tidak memiliki pemikiran yang sama dengan para penguasa. Mereka yang dibuang antara lain Kaisar Juntoku (1197-1242), Nichiren (1222-1282) dan pemain peran Zeami Motokiyo (1363-1443). Insiden pembuangan itu memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap eksistensi Pulau Sado sehingga pulau itu berkembang menjadi destinasi artistik dengan banyak seni pertunjukan yang bersejarah.

Sampai saat ini, Pulau Sado masih memegang tradisi penyajian makanan. Banyaknya bangsawan dan penguasa yang bersentuhan dengan Pulau Sado di masa lalu, membuat budaya penyajian makan untuk para wisatawan pun tak pernah berubah. Di atas meja disiapkan lebih dari sepuluh menu dengan masing-masing porsi ada di piring terpisah (disebut sebagai Kaiseki).

Menurut saya, Fujinomiya dan Pulau Sado merupakan destinasi liburan yang sangat unik apabila Anda ingin melihat Jepang selain kehidupan hingar-bingarnya. Suasana yang sangat tenang, ritme penduduk yang santai (berbanding terbalik dengan suasana kota besar di Jepang yang penuh tekanan), membantu liburan ini menetralkan suasana hati kita yang sudah terlalu jenuh dengan wara-wiri perkotaan.

Kuil Hoando

Pemandangan alam

di Pulau Sado

Kuil Kyakuden

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.