COVER STORY

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi - Emilia Clarke

Ramah tapi tangguh. Anak bungsu tapi seorang pembunuh. Bintang film tapi lebih suka berdiam diri di rumah.

Bertahun-tahun yang lalu, saat saya masih kuliah, saya Bekerja di sebuah kedai Ice cream Bernama george & davis yang Berada di daerah oxford. muridmurid dari teddies, salah satu sekolah swasta yang juga Berada di dekat situ, sering kali Berkunjung ke kedai. salah satunya adalah emilia Clarke. dia Berusia 28 tahun sekarang, dan Berhasil meraih ketenaran lewat perannya sebagai mother of dragons di serial epik Game of Thrones. dia juga memerankan karakter ibu dari john Connor di film Terminator terbaru. dan prestasinya yang paling anyar adalah gelar esquire’s sexiest woman alive.

Diwaktu makan siang di hari minggu itu, saya seharusnya membawa anak-anak ke Legoland. Tapi saya urung melakukannya—saya harus bertemu dengan Emilia untuk sebuah sesi wawancara Esquire. Taksi yang saya tumpangi kemudian berhenti di daerah Hampstead, kawasan pemukiman di London. Kaum cendekiawan dan penulis banyak yang pernah bermukim di sana. Tapi sekarang hanya bankir dan pengacara saja yang sanggup membayar beaya hidup di daerah situ—suara beraksen Amerika bahkan kerap terdengar di sana. Rumah Emilia merupakan bagian dari daerah “terrace” (istilah yang menunjukkan serangkaian rumah-rumah dengan gaya arsitektur serupa) bernuansa Georgian yang indah. Lengkap dengan halaman rumput, dinding bercat warna pastel dan jendela yang sangat besar. Rumahnya tidak terlalu jauh dari Hampstead Heath, kawasan sebesar 800 hektar yang terdiri dari perbukitan dan ladang. Bisa dibilang daerah ini merupakan area yang masih bernuansa pedesaan yang tidak begitu jauh dari London. Emilia berjalan keluar dari rumah menemui saya sambil meminta maaf karena pagar otomatis rumahnya tidak berfungsi. Dia berteriak memberikan instruksi agar saya bisa membuka pagar rumahnya itu. Dan dengan susah payah, akhirnya saya berhasil membukanya. Setelah pagar terbuka, saya bisa melihat sosoknya lebih jelas. Dia mengenakan jeans berwarna gelap, sepatu bot dan atasan kashmir berwarna biru langit. “Maaf kalau saya berteriak. Semalam saya baru nonton konser Metallica,” ujarnya memberitahu saya. Semua anggota band Metallica merupakan penggemar berat Game of Thrones (GOT). Mereka kemudian memberikan tiket konsernya ke beberapa pemain serial itu. Jika Anda adalah Emilia Clarke, peristiwa seperti itu bukan lagi hal yang aneh. Bulan lalu, dia baru saja melakukan tur promosi film Terminator Genisys (Dvd-nya akan keluar November ini) bersama Arnold Schwarzenegger di Korea. Minggu depan, dia akan menerima penghargaan Woman of The Year dari GQ. Dan hari ini, dia harus bergaul dengan seorang pria paruh baya asal Texas yang akan mengajaknya bermain Game of Phones—kuis dan pencarian harta karun bernuansa serial GOT yang diadakan oleh perusahaan networking bernama Thinking Bob. Acara ini bertujuan menjalin tali persahabatan di antara orang-orang baru di sebuah kota. Sesuatu yang menurut pengamatan saya tidak dibutuhkan oleh seseorang yang memiliki banyak teman seperti Emilia. Di Inggris, jika seseorang merasa gugup, dia akan membuat secangkir teh. Emilia menawarkan diri untuk membuatkan saya secangkir teh. Dia adalah seorang pencinta teh, fakta ini saya ketahui setelah dia membuka lemari dapurnya yang memperlihatkan beberapa kotak teh dengan berbagai macam varian rasa. “Kamu ingin teh yang seperti apa? Di keluarga saya, kami selalu beradu pendapat mengenai cara yang tepat untuk meracik teh. Saya sendiri lebih suka mencampur teh saya dengan susu,” tuturnya kepada saya. Ayah Emilia adalah seorang pekerja yang berasal dari daerah Wolverhampton, kota industrial di dekat Birmingham yang sempat mengalami masa depresi. Dia adalah seorang pekerja keras yang berusaha melakukan apa pun untuk membuat dirinya bisa keluar dari Wolverhampton. Dia kemudian menekuni profesi penata suara untuk berbagai pertunjukan teater musikal di London. Ibu

Emilia adalah seorang wanita yang pernah menempuh pendidikan sebagai seorang sekretaris, dan kemudian malah mendirikan bisnis sendiri. Tumbuh di keluarga yang suka bekerja keras seperti itu mau tidak mau turut mempengaruhi perkembangan pribadi Emilia. “Tapi mereka tidak mengizinkan saya bersekolah di boarding school. Padahal saya sangat menginginkannya. Kakak laki-laki saya (dua tahun lebih tua darinya, Red) diperbolehkan bersekolah di sana. Saya sangat mengagumi teman-temannya di sana.” “Apakah kamu juga sering bergaul dengan mereka?” “Tentu saja.” Emilia Clarke adalah seseorang yang ekspresif. Cerita yang mengalir dari mulutnya dituturkan dengan mimik wajah ataupun nada suara yang berubah-ubah dengan cepat. Kemampuan ini tampak pula dari penampilannya dalam film ataupun serial yang dibintanginya. Dari raut ekspresi sentimentil, wajahnya bisa dengan cepat langsung berubah menjadi lebih emosional, dan kemudian bahkan bisa terlihat lebih jenaka. Emilia juga dengan mudahnya bisa mengubah-ubah aksen bicaranya, dari logat asli Britania hingga cara bicara seorang Amerika tulen. Ketertarikannya pada dunia akting sudah bermula sejak dia masih berusia belia. Saat dia masih berusia tiga tahun, ibunya mengajak Emilia menyaksikan pertunjukan Show Boat (ayahnya kebetulan menjadi kru pada pertunjukan itu, Red) dan pada saat itulah dia merasa jatuh cinta pada seni pertunjukan. Sejak kecil, dia memang merupakan sosok yang mencintai perhatian. Dia menyukai berbagai permainan. Apalagi jika dia bisa memenangkannya. Walaupun sang ayah sempat menolak keputusan Emilia ketika pertama kali memutuskan untuk menekuni dunia seni peran, belakangan malah dia yang sangat mendukung putrinya itu.

Saya membawa beberapa perlengkapan menyamar: sebuah topi fedora berwarna coklat yang sudah tidak lagi saya kenakan sejak kuliah, syal bernuansa etnik yang berkilauan dan topi Oklahoma City Thunder (saya memang sudah bermukim lama di London, tapi asli berasal dari Austin, dan sangat mengidolakan Kevin Durant). Emilia kemudian langsung mengenakan topi itu dan kacamata berbingkai tebal milik istri saya. Bahkan dengan perlengkapan penayamaran itu dia masih terlihat sangat memesona. Saat berada di dalam taksi yang sedang melaju, Emilia bercerita sekilas masa lalunya. Dia bukanlah seorang mahasiswi favorit di sekolah drama tempat dia dulu belajar. Tapi dia adalah seseorang yang suka bekerja keras dan memberikan usaha terbaiknya. Setelah lulus, dia sempat membintangi beberapa episode dari serial Doctors (serial televisi Inggris yang memiliki masa tayang sangat panjang) dan bermain dalam beberapa film televisi di channel khusus program sci-fi yang dia sendiri pun bahkan belum pernah menyaksikannya. Pada masa itu, dia juga menjalani beberapa pekerjaan seperti pelayan restoran dan staf call center agar bisa bertahan hidup. “Dan kemudian suatu hari agen saya menelepon dan bertanya, ‘apakah kamu sudah mencoba audisi Game of Thrones?’” Saat itu, episode pilot dari serial tersebut sudah ditayangkan, dan tanggapan dari penonton masih kurang positif. Oleh karena itulah HBO hendak melakukan sedikit perubahan pada beberapa posisi pemerannya. Emilia kemudian mencoba untuk mengikuti audisi itu. “Agen saya bahkan sampai berusaha meyakinkan sang casting director, ‘Aku tahu kamu mencari sosok wanita yang tinggi dan berambut pirang untuk karakter ini. Saya tahu aktris ini memang pendek dan berambut coklat, tapi kamu harus bertemu dengannya.’” “Saya mendapat dua adegan untuk audisi itu, dan saya sama sekali tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkannya. Saya juga tidak sempat membaca sedikit pun bagian dari novel aslinya [karya George R. R. Martin]. Akhirnya, saya hanya bisa melakukan persiapan dengan bantuan Wikipedia dan memberikan akting terbaik saya.” Emilia kemudian mendapatkan salah satu peran utama, sebuah karakter dalam serial itu yang sampai sekarang masih tetap hidup. Julukan tokoh yang dia mainkan adalah Mother of Dragons. Peran itu menuntutnya untuk bisa menampilkan dua sisi kepribadian yang kontradiktif. Dia harus bisa tampil manis, namun suatu saat juga bisa menunjukkan ketangguhannya. Karakter ini sangat menentukan tapi juga emosional. Kontradiksi inilah yang membuat tokoh sang penakluk naga itu sangat atraktif. Crystal Palace bukanlah sebuah istana dalam makna secara harfiah, tapi lebih mengarah pada sebuah area di belakang stasiun kereta api London yang tidak begitu ramai. Saat kami sampai, sudah terlihat keramaian orang-orang yang sedang berkumpul dan pernakpernik hiasan yang mengisi ruangan. Di sudut ruangan terpajang bendera bertuliskan Game of Phones. Emilia sudah berada dalam posisi penyamaran, dia mengenakan kacamata hitam berbingkai tebal dan topi. Kami memutuskan untuk memanggilnya Lily. Orang-orang dibagi ke dalam beberapa tim. Beberapa orang di antara kami ada yang sengaja berdandan aneh menyerupai tokohtokoh yang ada di GOT. Ada yang bahkan menggunakan tas kantong belanja sebagai topeng yang menutupi wajah. Tiba-tiba terdengar suara seseorang bernada teatrikal memberikan petunjuk untuk pencarian harta karun yang pertama: “Pulau-pulau di sebelah timur...yang diperintah oleh Lord Anchovy, raja yang dikenal sangat jahat.” Kami kemudian harus menemukan petunjuk lain di sebuah telepon umum yang sudah rusak. Di situ terdapat kertas bertuliskan nama-nama binatang yang tidak dimengerti oleh sebagian besar dari kami. Ternyata hampir sebagian besar anggota dari tim kami tidak menonton GOT. Tapi kami tetap berusaha untuk bersikap baik satu sama lain dan berusaha untuk terus menikmati alur permainan. Perlahan-lahan, kami pun bisa saling mengenal. Ada seorang anggota tim yang merupakan direktur marketing dari perusahaan pelayaran. Ada juga wanita yang merupakan seorang penari klub. Dan anggota yang lain adalah lulusan Cambridge yang mencari nafkah sebagai seorang pengajar kursus tambahan bagi anak-anak. Dan kemudian ada Emilia Clarke, seorang aktris dari serial yang menjadi inspirasi permainan itu yang datang dengan penyamaran sempurna. Dia bahkan bicara dengan aksen Amerika yang terasa sangat meyakinkan. Meskipun tampil dengan penyamaran, Lily adalah Emilia yang sangat kompetitif dan berusaha sungguhsungguh untuk memenangkan permainan. Padahal dia baru saja

mengalami cedera pinggul saat kegiatan promosi film Terminator. Tidak terlihat sama sekali rasa kesakitan atau lemas akibat mengalami cedera itu. Dia berusaha ramah dengan siapa saja, dan benar-benar larut dalam permainan. Tiba-tiba, ketika satu tim kami berusaha menebak salah satu petunjuk, sang direktung marketing perusahaan pelayaran berbicara seputar serial GOT. Sesungguhnya dia bukanlah penonton setia serial itu, tapi dia sepertinya ingin mengutarakan apa saja yang dia temukan di tabloid dan koran mengenai serial GOT. Dia pernah membaca tentang cerita seorang ayah yang begitu bangga karena anak perempuannya berhasil mendapatkan peran di serial GOT. Tapi kebahagiaan itu langsung sirna setelah dia membaca skenario sang anak yang penuh dengan adegan bugil dan bercinta bahkan hingga pemerkosaan. “Tapi ini bukanlah sebuah film porno, ini serial HBO,” ujar seseorang di antara tim kami. Saya tentu tidak memahami apa yang ada di dalam pikiran Emilia—atau Lily—ketika mendengar cerita itu. Tapi saya juga pernah mendengar cerita itu. Ketika berada di dalam taksi menuju tempat ini, Emilia bercerita tentang episode-episode awal yang sangat sulit. Begitu banyak adegan bugil, bercinta dan pemerkosaan. Padahal saat itu usianya masih 23 tahun. “Saat waktu istirahat, saya biasanya langsung minum teh hangat untuk menenangkan diri. Sesekali bahkan saya sempat menangis. Tapi begitu saya mendapat giliran untuk pengambilan adegan lagi, saya harus bisa bersiap secepat mungkin.” “Pasti hubungan antara ayah dan anak itu akan jadi sangat aneh,” ujar Lily turut berkomentar. Siapa yang sangka, Emilia adalah sosok wanita yang suka bercanda.

Saat Kami PERGI meninggalkan lokasi permainan, Emilia memutuskan untuk tidak memberi tahu siapa dia sebenarnya kepada anggota tim yang lain. Jika dia memberitahukan kepada mereka pun sepertinya juga mereka tetap tidak akan sadar siapa sebenarnya seorang Emilia Clarke, begitu katanya pada saya. Tapi itu bukanlah sebuah masalah besar baginya. “Saya berusaha untuk tidak berubah dan tetap menjadi diri sendiri,” katanya pada saya kemudian ketika kami duduk menikmati suasana dan minuman di sebuah pub. Dia tidak ingin popularitas mengubah kehidupannya. Dia masih ingat betul masa-masa ketika bekerja di call center. Emilia juga masih bisa mengingat-ingat peringatan keras sang ayah ketika dia pertama kali memutuskan untuk menjadi seorang aktris. Dia adalah seorang yang menghargai berbagai pelajaran hidup yang pernah didapatkannya di masa lalu. Setengah wanita ramah, setengah karakter dominatriks. Setengah anak bungsu perempuan dalam keluarga, setengah sosok ratu yang seksi. Dia adalah seorang wanita cantik yang memesona, baik di depan kamera maupun ketika sedang berada dalam penyamaran. Inilah keseimbangan yang sangat indah dari sosok Emilia Clarke.

Foto cover: VINCENT PETERS Kalung, MONICA VINADER Gelang, BULGARI Cincin, CHANEL FINE JEWELRY

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.