INSIGHT SENI

MEMPOPULERKAN SENI INDONESIA DI MATA INTERNASIONAL

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi - Going International

Mobilitas telah menjadi hal yang dianggap wajar dalam kehidupan seharihari. Ada banyak perubahan yang membawa dampak besar terhadap aktivitas perpindahan manusia, tak terkecuali mereka yang bergerak dalam bidang kesenian. |

MOBILITAS telah menjadi hal yang dianggap wajar dalam kehidupan seharihari. Ada banyak perubahan yang membawa dampak besar terhadap aktivitas perpindahan manusia, tak terkecuali mereka yang bergerak dalam bidang kesenian. Jika kita memperhatikan kehidupan beberapa seniman yang kita kenal, mereka secara aktif malang melintang dalam dunia internasional. Berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain; sama gampangnya dengan berpindah ruang di sebuah kota. Banyak orang mengira kehidupan para seniman kelas dunia yang kosmopolitan ini adalah kehidupan yang glamor, tanpa mengerti bagaimana semua ini diraih dengan kerja keras dan perjuangan yang tak mudah.

Sebenarnya, pertanyaan yang tersirat adalah bagaimana seniman ini bisa menjadi internasional? Apakah pergi ke luar negeri dan melakukan pameran di beberapa galeri sudah berarti seorang seniman yang go international? Atau ada kriteria-kriteria lain yang menunjukkan seorang seniman sudah punya reputasi mendunia? Siapa saja sih seniman-seniman Indonesia yang sudah menjadi bagian dari seniman internasional itu? Dalam dunia seni rupa kontemporer, selalu ada perdebatan tentang pusat-pinggiran, Barat–timur, wacana dominan–alternatif, dan sebagainya. Hampir seluruh sejarah seni global didominasi oleh negara-negara Eropa dan Amerika hingga ‘80-an. Pada

Menjadi internasional Memang tidak harus selalu Mengirimkan karya dan seniman ke luar negeri, tetapi juga Membawa Masyarakat dunia untuk Melihat indonesia sebagai sebuah khazanah yang kaya dalam praktik seni rupa dunia.

1989, Centre Pompidou di Perancis menyelenggarakan sebuah pameran penting berjudul Magicien de La Terre yang untuk pertama kalinya. Pameran ini menampilkan karya-karya seni dari wilayah di luar Eropa dan Amerika dalam skala besar. Setelah itulah, seniman-seniman Asia yang pada saat itu didominasi oleh Tiongkok dan India mendapatkan kesempatan lebih luas untuk berpameran di Eropa dan wilayah lainnya. Pada tahun ini juga, waktu tonggak awal ketika seniman Indonesia mulai sering terlibat dalam pameran-pameran regional Asia Pasifik. Pameran pertama dari hal yang dimaksud berjudul Art Regional Exchange, bertempat di Perth, Australia, yang dipimpin oleh Jim Supangkat. Pameran skala besar seperti Asia Pacific Triennale di Brisbane dan Fukuoka Asian Art Triennale di Fukuoka, Jepang, menjadi ajang yang membawa nama-nama penting di seni rupa Indonesia seperti Heri Dono, Agus Suwage, Eko Nugroho, Jompet Kuswidananto, dan lain sebagainya. Dari sini, mereka kemudian melanglang buana ke berbagai belahan dunia yang lain, dan juga terlibat dalam peristiwa-peristiwa seni bersama seniman terkemuka lainnya. Menariknya, banyak di antara senimanseniman yang berhasil memasuki gelanggang internasional ini cara tertentu melakukan pembacaan baru terhadap praktik-praktik seni tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas seni Indonesia sendiri. Sebut saja Heri Dono, yang dikenal karena menggunakan bentuk dan komposisi wayang untuk lukisan kontemporernya. Atau Arahmaiani yang pada awal karirnya banyak meminjam bentuk-bentuk gerakan tubuh dari ritual tradisi sebagai bahasa seni performannya. Instalasi karya Jompet Kuswidananto merujuk pada figur-figur berseragam tradisional di lingkungan keraton Yogyakarta yang dikombinasikan dengan piranti teknologi moderen dan mesin kinetik sehingga dia terkesan lebih punya relasi dengan masa kini. Eko Nugroho banyak mengolah figur komikal yang terinspirasi dari kontekskonteks lokal penuh humor sehingga memberi nilai visual yang khas pada karya-karyanya. Belakangan ini, dia juga mengembangkan serangkaian seri berkaitan dengan tradisi seperti pertunjukan wayang kolaboratif dan karya-karyanya menggunakan teknik batik tulis. Apakah semua ini menunjukkan nilai ke “Indonesia-an”? Dalam hal ini, apakah tradisi merupakan sebentuk cara masuk menjadi bagian dari medan seni global? Apakah nilai unik Indonesia selalu terletak pada bentuk-bentuk yang berkaitan dengan tradisi semacam ini? Sebenarnya kecenderungan semacam ini sulit untuk dihindari karena pada kenyataannya, bentuk-bentuk yang unik inilah yang sering dianggap tidak bisa ditemukan pada seniseni barat. Sehingga tidak salah jika beberapa kurator juga gampang jatuh hati melihat bentuk yang “berbeda” dari apa yang ditemukan dalam khazanah visual mereka. Hanya melihat bentuk tanpa menautkannya dengan konteks inilah yang acap kali tampak eksotik sehingga rekontekstualisasi masa kini juga menjadi sesuatu yang penting, karena dengan begitu tradisi tak hanya berkaitan dengan romantisme dan nostalgia. Ada juga seniman yang berhasil melangkah ke medan internasional dengan karyakarya yang jauh dari bayangan soal eksotisme, seperti Tintin Wulia, Iswanto Hartono, Ruang Rupa, dan beberapa nama lain, terutama dari generasi yang lebih muda. Tintin Wulia adalah salah satu seniman yang secara aktif malang melintang dalam pameran seni internasional menggunakan medium-medium yang beragam mulai dari video, instalasi, proyek seni partisipatoris, dan instalasi interaktif. Dia kini menetap di Australia sembari tetap menjalankan proyek-proyeknya di berbagai belahan dunia. Tetapi, apakah melangkah ke wilayah internasional ini berarti harus selalu berkaitan dengan pergi keluar negeri? Bagaimana dengan mengundang masyarakat seni dunia datang ke Indonesia? Sekarang ini telah banyak peristiwa-peristiwa seni yang berhasil menarik perhatian masyarakat dunia untuk datang dan menikmati lingkup seni Indonesia yang mulai dikenal sebagai medan seni yang unik dan berbeda dengan dari yang biasa dilihat dalam sistem seni lain di Barat. Art Jog di Yogyakarta pada kisaran Juni atau Juli merupakan salah satu pameran seni terbesar yang berlangsung sejak 2008, dan menjadi highlight bagi masyarakat seni kota tersebut. Semenjak 2012, Art Jog telah mengukuhkan diri sebagai peristiwa seni internasional dengan mengundang seniman internasional bahkan yang sekaliber Yoko Ono. Lalu di November, tiap dua tahun sekali, berlangsung Jogja Biennale seri Ekuator, yang mempertemukan seniman-seniman Indonesia dengan seniman di negara khatulistiwa mulai dari India, Arab, dan Nigeria. Di Jakarta, Bazaar Art Jakarta juga semenjak 2014 mulai menyertakan galeri-galeri internasional dari berbagai negara. Lalu ada pula Jakarta Biennale yang berlangsung setiap November tahun ganjil, yang juga telah mengalami proses evolusi sehingga menjadi sebuah peristiwa seni yang lebih profesional dan membawa banyak gagasan segar bagi praktik kreatif. Menjadi internasional memang tidak harus selalu mengirimkan karya dan seniman ke luar negeri, tetapi juga membawa masyarakat dunia untuk melihat Indonesia sebagai sebuah khazanah yang kaya dalam praktik seni rupa dunia. Kita perlu bekerja keras untuk mewujudkan situasi di mana seni tidak saja mampu menjadi jembatan antara gagasan-gagasan segar para seniman dengan masyarakatnya, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas Indonesia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.