PROFIL

Tak hanya berkutat di musik, namun juga fokus pada pengembangan budaya Indonesia.

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi - Yovie Widianto The Mastermind

Tak hanya berkutat di musik, namun juga fokus pada pengembangan budaya Indonesia. |

Tak Terasa 3 dekade sudah Yovie Widianto berkarya di dunia musik. awalnya dikenal sebagai pentolan grup musik kahitna, kini dia juga dikenal dengan proyek sampingannya, grup musik Yovie and nuno. selain itu, pria 47 Tahun ini juga banyak menciptakan lagu serta menjadi produser untuk musisi lainnya. apa lagi Yang dia cari dalam hidup?

APA KESIBUKAN ANDA SAAT INI?

Masih manggung dengan band Yovie and Nuno. Sementara itu, jadwal manggung Kahitna sedang dikurangi demi mempersiapkan album baru dan konser 30 tahun pada Februari mendatang di JCC. Kegiatan pribadi saya salah satunya ada di Pusat Studi Indonesia Cerdas.

BISA DICERITAKAN LEBIH LANJUT TENTANG PROYEK PRIBADI ANDA?

Bekerja sama dengan Galeri Indonesia Kaya dan Bhakti Budaya Djarum Foundation, kami membuat acara Idenesia yang tayang di Metro TV, menceritakan budaya di seluruh provinsi Indonesia. Sudah tayang lebih dari 100 episode. Banyak orang bertanya, buat apa aktif di bidang budaya? Padahal kegiatan sudah banyak.

LALU, APA ALASAN ANDA?

Saya suka karena perbedaan di Indonesia sering dijadikan alasan untuk “bergesekan”. Padahal perbedaan itu jadi modal untuk sebuah keindahan. Pelangi tidak akan indah kalau warnanya hitam-putih saja. Banyak sentra budaya di Indonesia yang belum optimal tergarap oleh pemerintah. Perhatian masyarakat pun kurang. Untungnya ide saya ini mendapat dukungan dari berbagai institusi. Kami mencoba melihat keunggulan unsur budaya indonesia. Banyak seniman tradisional yang kemampuannya belum banyak diketahui.

JADI, YANG ANDA LAKUKAN ADALAH MENGEKSPOS MEREKA?

Bukan hanya itu. Secara pribadi, saya juga ingin memperkaya ilmu musik dengan keragaman di berbagai daerah. Mulai dari tangga nada sampai alat musik. Bila dikombinasikan dengan karya yang penuh “kekinian” dengan teknologi digital dan sebagainya, karya lokal itu tetap tidak kehilangan spirit aslinya. Saya sudah mencoba mengimplementasikan itu pada fashion show desainer Denny Wirawan beberapa saat lalu. Ternyata musik Indonesia tak kalah dari Katy Perry, misalnya. Urusan budaya tak hanya berhenti di pelestarian, tapi juga pengembangan. Bergerak progresif dengan aspek kekinian. Kalau tidak, akan ditinggalkan generasi muda.

BAGAIMANA ANDA MELIHAT PERAN PEMERINTAH DALAM ASPEK PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN BUDAYA?

Saya sudah cukup mengapresiasi pemerintah DKI yang mengembangkan budaya dengan membuat perkampungan budaya Betawi. Itu kemajuan yang sangat bagus. Harusnya, seluruh Indonesia ada pusat pengembangan budaya yang digarap serius, bukan dikelola ala kadarnya.

APA HARAPAN DARI AKTIVITAS ANDA DI DUNIA PENGEMBANGAN BUDAYA?

Semoga fans saya, maupun fans musisi lainnya seperti Kahitna, Glenn Fredly, Rossa, bisa melihat kalau para idolanya saja bisa peduli dan mencintai unsurunsur budaya lokal, kenapa fansnya tidak?

SELAMA ANDA BERKELILING INDONESIA UNTUK PROGRAM Idenesia, ISU PALING MENYEDIHKAN APA YANG ANDA TEMUI?

Kebiasaan masyarakat kita yang “luar negeri minded”. Sepertinya, apa pun yang dari Eropa atau Amerika itu keren, padahal banyak hal dari dalam negeri juga tidak kalah keren. Misalnya, musik multi-perkusi yang sangat rancak seperti seni kuntulan di Banyuwangi, Jawa Timur. Harga not kuntulan itu lebih tinggi daripada musik karnival Brazil. Saya mengerti lagu Brazil karena dari kecil saya sudah memainkan lagu latin-jazz bersama teman-teman di Indonesiana, band saya di awal karier. (Yovie menirukan ritme perkusi Brazil dan kuntulan) Kuntulan memiliki harga not yang luar biasa dengan kerapatan dan repetitif yang menarik.

PADAHAL KALAU DI LUAR NEGERI, ADA world music DAN new age YANG BISA DIJUAL...

Ya, kenapa musik tradisional di Indonesia tidak? Harus diakui, Indonesia masih memperjuangkan agar kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Sedangkan, tahu sendiri, urusan pelestarian seni budaya mungkin dianggap kebutuhan tersier ataupun kuarter.

ANDA ADALAH SEORANG PIANIS, PENCIPTA LAGU, PRODUSER, KOMPOSER, BAHKAN AKTIVIS KEBUDAYAAN. SEBENARNYA ANDA INGIN DIKENAL SEBAGAI APA?

Orang tua saya sebenarnya tidak ingin saya jadi musisi, melainkan ilmuwan. Hal ini karena semua saudara saya bermain musik. Lalu saya menjadi sarjana politik dari Universitas Padjajaran. Setelahnya, kecintaan saya terhadap musik, khususnya piano, tidak terbendung lagi. Saya berpikir bahwa dari musik harusnya saya bisa mencapai cita-cita saya yang lain. Akhirnya, jadilah saya komposer musik dengan perhatian pada pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan.

OMONG-OMONG SOAL ILMU PENGETAHUAN, APAKAH ANDA TAK INGIN MEMBUKA SEKOLAH PENDIDIKAN MUSIK SEPERTI MUSISI LAINNYA?

Saya baru saja membuka sekolah musik di Cibubur, Jakarta Timur. Sudah banyak kemitraan dari luar Jakarta yang ditawarkan pada saya.

KENAPA BARU SEKARANG MEMBUAT SEKOLAH MUSIK?

Karena saya sibuk dengan aktivitas di industri musik itu sendiri. Dulu, sudah ada perusahaan besar yang menawari pada saya untuk membuat sekolah musik sampai 100 di seluruh Indonesia. Tapi saya tidak mau hanya menjadi “lambang”. Saya harus turun tangan mengurus kurikulumnya.

APA YANG ANDA HARAPKAN DARI SEKOLAH MUSIK INI?

Mudah-mudahan bisa memunculkan talenta baru di industri musik Indonesia.

BEBERAPA TAHUN LALU, ANDA MELUNCURKAN ALBUM Yovie and HIS Friends, YANG MEMUNCULKAN KARYA ANDA DAN DINYANYIKAN BERBAGAI MUSISI. SEDIKIT MENGINGATKAN PADA KONSEP YANG PERNAH DIKELUARKAN DAVID FOSTER?

Memang saya terinspirasi oleh beliau yang bisa menghasilkan penyanyi dengan kualitas tertentu. Kalau melihat karya saya untuk Andien, Rio Febrian, Marcell, Raisa, dan RAN, akan terlihat “wilayah” saya. Memang saya membuat branding position tertentu.

ANDA LAHIR DI GENERASI YANG MENGANGGAP BAHWA MUSIK TIDAK BISA MENJADI SUMBER MATA PENCAHARIAN. MENURUT ANDA, APA YANG HARUS DIMILIKI MUSISI AGAR BISA BISA “HIDUP” DARI MUSIK?

Kemauan, tekad, kerja keras, dan tahu betul ingin menjadi seniman seperti apa. APA PANDANGAN ANDA MENGENAI DUNIA MUSIK

KOMERSIL DI INDONESIA?

Pada awal karier, musik saya dianggap rumit dengan chord yang “ke manamana”. Sampai ada produser yang berkomentar kalau lagu saya akan susah diikuti oleh pengamen. Saya tertawa saja. Saya buktikan dengan merilis lagu-lagu saya yang hanya menggunakan piano, seperti Suratku yang dinyanyikan Hedi Yunus atau Bila Ku Ingat dari Lingua. Akhirnya malah banyak produser yang meminta saya membuat lagu dengan hanya instrumen piano.

APA YANG MEMBUAT ANDA YAKIN UNTUK MENGELUARKAN IDEALISME ANDA DI DUNIA KOMERSIL?

Saya yakin bahwa kekuatan hati dan ketulusan dalam bermusik itu memiliki kekuatan untuk dindengar.

DARI MANA ANDA MENDAPATKAN INSPIRASI?

Ada orang yang bilang kalau lagu saya itu lucu, dari mulai menyatakan cinta, tunangan, menikah, sampai selingkuh, semua ada. Ada yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya atau teman maupun terinspirasi dari film seperti Sleepless in Seattle dan The Holiday. Pada akhirnya, pengalaman hidup saya tidak sebanyak lagu yang saya ciptakan.

Tak banyak yang bertahan menjadi musisi dengan popularitas yang stabil. yovie Widianto adalah salah satunya. keteguhan hantinya untuk berkarier di dunia musik Ternyata Tak hanya mengandalkan bakat seni semata

SUDAH BANYAK LAGU CINTA YANG ANDA CIPTAKAN. SEPERTINYA DI SETIAP PERNIKAHAN DI INDONESIA, PASTI LAGU ANDA DINYANYIKAN.

Mungkin saya harusnya menjadi musisi dengan royalti terbanyak karena itu, hahaha. Hanya bercanda. Kebahagiaan dari dinyanyikannya lagu saya tidak bisa diimbangi dengan royalti.

ADA LAGU LAIN YANG TIDAK BERTEMAKAN CINTA?

Sebenarnya ada, tentang kebakaran hutan atau konflik di Aceh. Ada lagu di luar tema cinta yang sampai memenangkan kategori komposisi terbaik di kejuaraan dunia di Taipei. Ketika itu umur saya masih 19 tahun. Tapi kan orang lebih banyak mendengar lagu Andai Dia Tahu, Cerita Cintaku, Peri Cintaku, dan sebagainya.

ANDAIKAN ANDA MEMAKSAKAN DIRI MERILIS BANYAK LAGU DI LUAR TEMA CINTA, APA YANG AKAN TERJADI?

Saya sudah pernah memaksakan hal itu. Tapi ternyata memang media atau cara berjuang itu beda-beda.

LAGU ANDA BANYAK DIDAUR ULANG OLEH BERBAGAI PENYANYI. APA PENDAPAT ANDA?

Mendaur ulang itu tantangannya besar dan berat. Banyak penyanyi baru yang mendaur ulang sampai terlalu “dipermak” karena ingin menunjukkan kalau dia mampu terlihat berbeda dari penyanyi aslinya. Nadanya meliuk-liuk sana-sini. Hasilnya, spirit lagu itu malah terlalu bergeser dan orang tak lagi mengenali lagunya. BAGAIMANA ANDA MELIHAT FENOMENA ITU

SEBAGAI SEORANG PRODUSER?

Bernyanyi itu harus tulus. Jangan mengada-ada.

APA YANG ANDA RASAKAN DENGAN PENCAPAIAN ANDA SELAMA INI?

Bukan bermaksud menyombong, tapi sering saya mendengar radio sembari mengubah-ubah saluran, itu sudah berapa kali lagu saya dinyanyikan. Itu semua pemberian Tuhan. Saya saja kadang sulit mempercayainya. Mudah-mudahan saya bisa terus membuat musik dengan baik.

PERTANYAAN TERAKHIR. ANDA BISA MENYANYI?

Saya sebenarnya baru saja merekam klip video di Melbourne untuk lagu Seribu Bulan Sejuta Malam yang saya nyanyikan. (Yovie tertawa malu-malu)

OH, JADI SEKARANG ANDA JUGA MENJADI PENYANYI?

Ya, sebenarnya ketika Tuhan memberikan bakat menulis lagu pada saya, maka saya harus berbagi rezeki dengan teman-teman sesama musisi. Kalau tidak, nanti saya serakah. David Foster juga biasa-biasa saja kualitas vokalnya ketika menyanyi. Jadi sepertinya kalau komposer tidak menjadi penyanyi, ya tidak apa-apa.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.