TRAVEL

MELIHAT KEHIDUPAN PERBATASAN DI MERAUKE.

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi - Izakod Bekai Izakod Kai

Tepat seminggu sebelumnya, masuk pesan singkat ke telepon seluler saya, meminta kesediaan untuk pergi ke Papua. Siapa bisa menolak?

Tepat seminggu sebelumnya, masuk pesan singkat ke telpon seluler saya, meminta kesediaan untuk pergi ke Papua. Siapa bisa menolak? Petualangan di pulau paling timur republik ini selalu menyenangkan, menantang, dan terkadang membuat jantung berdegup keras. Dibidik panah oleh suku Nduga di Mimika, berperahu menyusuri derasnya sungai Mamberamo, serta pulang membawa malaria Tropicana menjadi kenangan yang melekat dari pulau ini di kepala saya. Pramugari membangunkan saya, mengingatkan bahwa pesawat bersiap mendarat di bandara Mopah, Merauke. Perjalanan pesawat menuju kota ini memang dilakukan pada malam hari dari Jakarta, sehingga waktu sampai di Merauke adalah pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIT. Tersedia beberapa maskapai menuju kota yang ini. Ini adalah kabupaten keempat yang saya kunjungi di Papua setelah Timika, Jayapura, dan Mamberamo Raya. Seperti ritual saya di kota-kota sebelumnya yang baru saya kunjungi, tapakan pertama kaki di Merauke dilanjutkan dengan menempelkan telapak tangan ke tanah, sembari berdoa agar segala urusan saya di kota ini berjalan dengan lancar. Tampak di salah satu sudut bandara terpampang tulisan besar “izakod bekai izakod kai”. Ternyata tulisan itu adalah semboyan dari Merauke yang artinya “satu hati, satu tujuan”, bahasa yang diambil dari bahasa suku Marind, penduduk asli Merauke. Dari bandara, saya diantar ke hotel untuk beristirahat. Di wilayah kota terdapat banyak pilihan penginapan, dari kelas melati hingga hotel berbintang tiga. Namun di kota ini baru terdapat satu hotel berbintang tiga, Swissbell, yang merupakan bagian dari jaringan hotel internasional. Jika Anda bermaksud menginap di hotel ini, ada baiknya pemesanan dilakukan jauhjauh hari. Menjelang pukul 15.00, saya berangkat menuju wilayah Sota. Di sana terdapat tugu dan gerbang perbatasan dengan wilayah negara Papua Nugini. Merauke merupakan salah satu kota di timur Indonesia yang berbatasan darat dengan wilayah negara tersebut. Saya membayangkan gerbang perbatasan ini seperti yang saya temui di wilayah Atambua, perbatasan dengan Timor Leste. Sebuah tempat yang memadukan ranah umum seperti pasar dengan pos penjagaan serta gerbang besar antar dua negara. Sampai di lokasi, dugaan saya salah. Gerbang perbatasan di sini merupakan batas alam. Untuk masuk ke wilayah Papua Nugini dari pos penjagaan Indonesia, perlu berjalan kaki menembus hutan sekitar 500

meter. Baru setelah itu akan bertemu dengan pos penjagaan Papua Nugini. Tidak terdapat jalan aspal yang dapat dilalui kendaraan bermotor. Saya sangat tertarik untuk berjalan menyusuri hutan kearah Papua Nugini, namun karena sehabis hujan deras, pemandu saya menyarankan untuk tidak melakukannya. Mas Kampret, begitu biasa dia dipanggil, mengatakan sulit menyusuri hutan setelah hujan deras, karena tanahnya berlumpur dan kaki bisa masuk ke lumpur sampai sebatas dengkul. Seperti “gerbang-gerbang” perbatasan Indonesia yang lain, pos perbatasan Sota juga dijaga oleh TNI, di samping juga terdapat kantor imigrasi. Untuk menyeberang ke Papua Nugini, wisatawan dari luar Sota diwajibkan menggunakan paspor dan membayar visa. Namun untuk penduduk lokal, hanya memerlukan kartu pas lintas perbatasan. Beberapa toko cinderamata khas perbatasan berjejer rapi dengan bangunan yang masih tradisional, menggunakan kayu dan daun sebagai bahan bangunan. Mata saya tertuju pada satu bangunan menjulang setinggi 5 meter, yang di atasnya terdapat patung burung garuda. Tugu ini bernama Tugu Kembaran Sabang Merauke, yang menjadi penanda ujung timur Indonesia. Phinisi, nama yang membuat pendengarnya akan membayangkan sebuah kapal laut kebanggaan Indonesia, yang merupakan karya dari seniman-seniman pembuat kapal di wilayah Bulukumba, Sulawesi Selatan. Di Merauke, terdapat sebuah kampung yang dihuni oleh mayoritas Suku Bugis yang berprofesi sebagai pembuat kapal model Phinisi. Pemesan kapal ini berasal dari penjuru Indonesia Timur, seperti dari Kupang, Saumlaki, Timika, dan Labuan Bajo. Saya sempat berbincang dengan Pak Amir, seorang

mandor pembuatan kapal, tentang biaya dan waktu pembuatan kapal ini. Beliau menjelaskan bahwa kapal-kapal ini selesai antara 2 bulan sampai satu tahun tergantung ukuran kapalnya, dengan harga antara Rp 200 juta sampai 1 miliar. Kendalanya, lanjut Pak Amir, ketersediaan kayu sebagai bahan utamanya semakin sulit didapat. Nantinya kapal-kapal ini akan mengarungi lautan sebagai armada pengangkut barang, namun ada juga yang dipergunakan sebagai kapal penumpang dan wisata. Saya mengunjungi Kampung Kumbe pada keesokan harinya. Kampung ini dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam dengan jarak sekitar 80 Km dari Merauke. Namun jika ingin mempersingkat waktu, dapat menggunakan penyeberangan melintasi sungai Kumbe. Berhubung penyeberangan sungai tidak dapat mengangkut kendaraan roda empat, diputuskan untuk menggunakan jalur darat menuju Kumbe. Bukan pilihan yang salah, karena apa yang saya lihat dan temui di perjalanan bukanlah hal yang dapat ditemui di bagian lain di Indonesia, setidaknya dari pengalaman saya pribadi. Untuk mencapai Kumbe, saya harus menyusuri jalan trans Papua yang membelah Taman Nasional Wasur, sebuah kawasan peletarian alam yang menjadi habitat berbagai jenis hewan endemik Papua seperti walabi, burung cenderawasih, dan berbagai jenis kakatua. Walabi adalah sejenis kanguru, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Terkadang disebut sebagai kanguru tanah, dan dalam bahasa setempat disebut sahang. Dalam perjalanan kembali dari Kumbe ke Merauke pada malam harinya, kendaraan yang saya tumpangi menabrak mati seekor walabi, karena hampir sepanjang perjalanan tidak ada penerangan jalan. Mas Kampret tidak melihat ketika ada Walabi yang melintas di jalan. Mayat walabi tersebut kemudian dibawa oleh Mas Kampret. “Ini bisa dimasak, Mas. Tapi harus lama, soalnya bau prengus,” dia menjelaskan alasan mayat walabi tersebut diambil. Di satu lokasi pada saat perjalanan menuju Kumbe, saya berhenti karena penasaran dengan beberapa gundukan tanah setinggi hampir tiga meter dengan diameter sampai dua meter. Gundukan tanah ini ternyata rumah rayap. Dalam bahasa Marind, rumah rayap ini disebut dengan musamus. Di sebuah tanah lapang tepat di pinggir jalan, terdapat puluhan musamus dengan tinggi yang beragam, dari 30 cm sampai dengan 3 meter. Saya membayangkan tempat ini seperti komplek candi, namun penghuninya adalah koloni jutaan rayap. Saya mendekati salah satu musamus dan mencoba melihatnya lebih detail. Mas Kampret kemudian mengambil sepotong kayu dan coba membongkar sedikit bagian dari musamus tersebut. Tampak di bagian dalamnya ribuan rayap bergerak keluar masuk rongga-rongga yang ada di dalam sarang tersebut. Mas Kampret bercerita bahwa di wilayah Taman Nasional Wasur, tinggi dari musamus bisa mencapai 5 meter. Merauke identik dengan kuliner khasnya, yaitu daging rusa. Bahkan ada slogan yang menyebut Merauke kota Rusa. Hampir setiap restoran di kota ini menyediakan menu berbahan daging rusa. Konon, rusa bukanlah hewan dari Merauke, namun dibawa pada masa kolonial oleh Belanda, yang kemudian berkembang pesat di Merauke. Rusa dapat berkembang pesat karena kontur geografis Merauke yang landai dan subur serta tidak adanya binatang pemangsa, ya tentu selain manusia. Daging rusa pun menjadi salah satu oleholeh khas dari Merauke. Dendeng rusa, yang belum tentu dapat ditemui di kota lain di Indonesia, bisa menjadi pilihan utama buah tangan sekembalinya dari Merauke.

SUNGAI KUMBE

WALABI

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.