STYLE RUNWAY

Reformasi Gaya Milan

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi -

Beberapa tahun lalu, pria Italia identik dengan tampilan elegan. Rambut yang tertata rapi, setelan bergaya neapolitan, dan dasi bersiluet ramping.

Beberapa tahun lalu, pria Italia identik dengan tampilan elegan. Rambut yang tertata rapi, setelan bergaya neapolitan, dan dasi bersiluet ramping. Setidaknya, begitulah yang digambarkan pada berbagai medium budaya populer, seperti film atau novel. Karakter berbusana seperti itu pula yang menginspirasi berbagai desainer dengan titik episentrum kreativitas di kota Milan. Belakangan, dengan semakin berkembangnya demokrasi dalam berpenampilan, bergeser pula gaya busana yang ditawarkan. Elegansi tidak hanya berkisar pada busana yang terkesan luks semata, atau logo dan motif ikonis yang melekat dengan jelas. Busana pada akhirnya menjadi medium berekspresi, dan kaum pria masa kini tak ragu lagi untuk tampil lebih berani. Dengan komando direktur kreatif yang baru, Alessandro Michele, pria Gucci kini tampak terkesan bergaya vintage dan romantis. Sematan simpul pita pada kemeja, celana bergaris pinggang lebih tinggi, dan motif floral menjadi beberapa karakter koleksi barunya. Desain Massimiliano Giornetti untuk Salvatore Ferragamo untuk di musim ini terinspirasi gaya busana serdadu dan nuansa budaya folk. Koleksinya tampak begitu eklektik, motif cetak fauna dikombinasikan lilitan syal tebal, jaket penuh patch dipadankan dengan celana katun dan sepatu kulit. Tren gaya militer juga diterjemahkan oleh label Etro dengan garis rancang lebih radikal. Tak ada yang menyangka bahwa bahan berpulas motif khasnya yang terkesan sophisticated bisa ditampilkan dalam jaket safari atau bomber. Di kubu lain, beberapa desainer menggarap nuansa elegan dalam format yang lebih inovatif. Desainer Stefano Pilatti misalnya terinspirasi dengan material ramah lingkungan Harris Tweed untuk koleksi Ermenegildo Zegna. Motif tenunan bahan ini kemudian diolah lagi dalam material kashmir dan sutra sehingga menciptakan kesan kilap yang terasa lebih luks. Label Missoni menggarap tampilan busana dengan gradasi palet warna yang cermat. Dari satu tampilan ke tampilan lain, dari luaran, kemeja, celana hingga aksesori, semuanya hadir dalam satu kesatuan yang memesona. Label Prada memperlihatkan inovasi dalam pengolahan material nylon, terlihat dari hasil akhirnya berupa jaket, mantel hingga setelan yang tampak rapi dan presisi pada tubuh. Obsesi terhadap budaya Sisilia berangsur-angsur ditinggalkan oleh duo Dolce & Gabbana, terlihat dari citra pria flamboyan yang kembali diusung lewat koleksi anyar mereka. Sweater kashmir, setelan penuh ornamentasi dan jaket bahan beledu adalah beberapa buktinya. Musim ini menjadi salah satu yang paling menarik berkat kebaruan yang ditawarkan berbagai desainer dan rumah mode. Bahkan label dengan ciri khas yang sudah mapan sekalipun tak ragu untuk berinovasi dalam memenuhi kebutuhan kaum pria yang semakin peduli dengan penampilan. Mode kembali menjanjikan alur tren yang dinamis.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.