Profil pemimpin dan Strategi meraup massa

KETIKA SANG BIG MAN BERKUASA.

Esquire (Indonesia) - - Politik - Teks: SIPIN PUTRA

MENURUT ANDA, apa persamaan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Nazriel Irham (Ariel)? Ya, tentunya keduanya samasama menonjol dan menjadi pemimpin atau pentolan dari komunitasnya (SBY pada Partai Demokrat dan Ariel pada grup band Noah). SBY merupakan tokoh penting dari berdirinya partai Demokrat di Indonesia. Demikian juga Ariel yang menjadi pemimpin Band Noah yang sekarang menjadi salah satu band papan atas tanah air. Profil seorang pemimpin sebuah partai atau band ternyata dapat dilihat dari tampilan fisiknya yang “lebih”. Tubuh yang gagah dan wajah yang rupawan dapat menjadi strategi para pemimpin atau pesohor untuk meraup massa dan mendapatkan simpati masyarakat luas. Tulisan ini membahas salah satu budaya politik yang pernah ada dalam sejarah peradaban bangsa. Budaya politik merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat pengetahuan, nilai-nilai, keyakinan, norma, dan aktivitas politik dari suatu masyarakat. Sejarah memperlihatkan bahwa budaya politik juga mengalami perkembangan

sejalan dengan perubahan masyarakat yang semakin kompleks. Keberagaman nilai budaya merupakan faktor utama yang menyebabkan semakin beragam konsep budaya politik itu sendiri. Budaya politik yang ada di Indonesia juga mengalami perkembangan. Hal ini dipengaruhi oleh pemerintahan dan tingkat kematangan demokrasi di negara kita. Masing-masing pemimpin mempunyai gaya dan profil sendiri dalam mengatur negara Indonesia. Oleh karena itu, tidak salah jika kemudian kita mengenal sang proklamator, Soekarno, sebagai presiden dengan jiwa nasionalisme yang tinggi. Beliau mempunyai aura dan wibawa yang luar biasa di mata masyarakat bahkan pemimpin negara-negara lain. Selain itu Bung Karno juga dikenal sebagai orator yang ulung. Sementara itu, presiden selanjutnya, Soeharto, mempunyai profil yang berbeda, beliau dikenal sebagai bapak pembangunan. Gaya kepemimpinan yang sedikit otoriter membuat negara kita terasa “tenang-tenang” saja selama 32 tahun. Maka muncullah istilah “enak jamanku tho?” sebagai salah satu wujud kegamangan hidup masyarakat yang serba sulit kini. Dalam perkembangannya, budaya politik yang dipakai seorang pemimpin negara telah mengalami perubahan yang disebabkan budaya dari luar. Globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dipungkiri mampu masuk dalam lini kehidupan sehari-hari masyarakat bahkan di pelosok Indonesia. Yang unik, ternyata profil seorang pemimpin dan strategi mereka dalam meraup massa hampir tidak mengalami perubahan. Sejarah menunjukkan bahwa profil atau sosok seorang pemimpin di mata masyarakat sangat penting terutama saat masyarakat melihat dalam pandangan pertama. Hal ini dijelaskan dalam teori sistem “Big Man” yang dijabarkan Ted Lewellen dalam bukunya, Political Anthropology, An Introduction. Dijelaskan bahwa pada era preindustrial political system, calon pemimpin sebuah masyarakat atau komunitas pasti dicari yang berbadan besar, menonjol di antara yang lain, tampang menawan, serta postur tubuh sempurna (setidaknya enak dipandang mata) bila dibandingkan dengan calon lainnya. Hal ini menandakan first sight (pandangan pertama) yang menentukan seseorang layak menjadi pemimpin atau juara dalam sebuah kompetisi adalah dari segi fisik. Sejarah telah menunjukkan bahwa pemimpin sebuah band (kelompok) pasti terlihat menonjol dibanding anggota lainnya. Begitu pun juga pentolan dari sebuah grup band (musik) umumnya adalah anggota yang paling menawan, mempunyai aura, dan menonjol dibanding anggota lainnya. Seperti kita ketahui, jika kita mengenal grup band Noah maka yang langsung teringat adalah sosok sang vokalis, Ariel, sebagai pentolannya. Demikian juga kepala suku di pedalaman, yang profilnya pasti bertubuh sempurna, tegap, menonjol dibanding anggota suku tersebut. Profil seorang pemimpin atau pemenang dalam sebuah kompetisi pastinya terlihat lebih menarik dan menonjol dibanding yang lainnya. Hal ini tampak dalam pemilihan kontes kecantikan maupun adu bakat menyanyi yang sering diadakan di TV Indonesia. Mau tidak mau ataupun secara sadar kita akan menilai dari pandangan pertama secara fisik terlebih dahulu. Perilaku ini sudah membudaya dan menjadi pertimbangan bagi kita dalam mengambil keputusan untuk bekerja sama atau mengajak seseorang dalam sebuah kegiatan. Karena sudah menjadi bagian dari budaya politik, maka perilaku ini berada di alam bawah sadar sehingga perilaku ini tidak tergantung pada tingkat pendidikan seseorang atau gaya hidupnya. Lewellen menjelaskan bahwa perkembangan masyarakat berawal dari sebuah band (kelompok) yang sederhana kemudian meningkat menjadi lebih kompleks. Awalnya sebuah kelompok yang kemudian berkembang menjadi komunitas cenderung menggunakan kekerabatan mereka dalam kehidupan sosial politik mereka. Pada anggota kelompok yang masih sedikit dan bersifat egaliter, pemimpin yang ditunjuk adalah individu yang paling “menonjol” di antara individu lainnya. Proses regenerasi pemimpin pun akhirnya digantikan oleh anak-anak mereka yang juga tumbuh besar mempunyai fisik lebih menawan bila dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Dalam cerita dongeng ataupun sejarah, tampak dijelaskan seorang raja selalu digambarkan tegap, gagah, menawan sehingga terlihat lebih cocok untuk menjadi pemimpin. Begitu pun juga ketika band kemudian berkembang menjadi community-tribes dan kemudian menjadi sebuah states. Bila pada awalnya band masih bersifat egalitarian, maka selanjutnya berkembang menjadi stratified. Maka seorang pemimpin mempunyai posisi dan stratifikasi tertinggi dalam sebuah komunitas atau bangsa. Tidak salah jika kemudian secara genetika, pemimpin yang “menawan” ini pun melestarikan kepemimpinannya dengan menggunakan tali kekerabatan. Bahkan mereka pun kawin dengan orang-orang yang berada dalam satu level sehingga genetika pemimpin akan tetap terwarisi pada anak cucu mereka. Tidak salah kemudian kita sebagai masyarakat akan berdecak kagum melihat perkawinan putra mahkota atau anak raja, salah satunya karena fisik mereka yang nyaris “sempurna”, kemudian kelahiran bayi-bayi mereka juga “sempurna” dan akan mendapatkan kemudahan dalam berkompetisi menjadi pemimpin menggantikan orang tuanya. Selain unsur fisik, unsur penting lainnya dari profil seorang pemimpin adalah kemampuan dan gaya bicara yang akhirnya mampu menghipnotis masyarakat untuk memilihnya. Sebagai bahan informasi, Partai Demokrat yang menghentak pada pemilu 2004 lalu tidak terlepas dari profil seorang SBY. Secara fisik, dia memang nyaris sempurna: berbadan tegap serta memiliki gaya bicara dan gerak tangan yang meyakinkan. Profil SBY mampu menghipnotis warga Indonesia yang akhirnya mengantarkan beliau menjadi presiden selama 2 periode. Profilnya yang berbeda dengan calon lainnya (pada waktu itu Ibu Megawati) dijadikan oleh tim suksesnya sebagai strategi dalam meraup massa sehingga pada waktu itu mampu menarik simpati masyarakat Indonesia sejak pandangan pertama. Urusan kinerja? Itu urusan belakangan.

Secara tidak Sadar mata kita melihat pertama kali calon pemimpin kita dari fisiknya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.