For the love of Food

MENYOAL HUBUNGAN KASUS KECANDUAN MAKANAN TERHADAP EFISIENSI GAYA HIDUP.

Esquire (Indonesia) - - Kesehatan - Teks: JANSEN ONGKO

KECANDUAN berhubungan dengan sistem penghargaan (rewarding system) di mana manusia menyukai kondisi yang dapat menciptakan rasa senang atau bahagia. Senyawa yang memicu rasa senang adalah dopamin yang diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan sistem tersebut. Obatobatan dan jenis makanan tertentu menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak membedakan sumber stimulusnya. Apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, kondisi ini akan mempengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sendiri sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan. Makanan yang dapat menyebabkan kecanduan adalah semua makanan yang termasuk kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat (hyperpalatable food) dan menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar. Makanan pada kategori ini juga biasanya telah melalui proses pembuatan yang berlebih dan mengandung kadar gula, garam, atau lemak yang tinggi. Penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan terus mengembangkan kombinasi aneka rasa, tekstur, dan aroma yang dapat meningkatkan cita rasa dan daya simpan makanan. Penambahan bahan tambahan pangan seperti penguat rasa, perisa, dan pewarna adalah contoh paling mudah. Rasa renyah keripik, es krim atau keju yang mudah meleleh di mulut, kombinasi rasa

Stres atau tekanan baik karena pekerjaan, keluarga, atau apapun penyebabnya memicu Selera makan menjadi tinggi karena ingin cepat merasa nyaman kembali.

yang kontras, aroma yang menggugah selera, warna-warni kue, dan tekstur roti yang lembut juga merupakan beberapa buah karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan. Kecanduan makanan dapat disebabkan juga oleh efek samping dari obat-obatan, kondisi tubuh yang tidak sehat, obesitas, ketidakseimbangan hormonal, atau turunan. Sebagian besar orang yang mengalami obesitas seringkali mengalami leptin resistance yang dimana respons sinyal rasa kenyangnya tidak bekerja dengan baik. Makanan yang tinggi akan gula atau berkadar Glycemic Index (GI) rendah menyebabkan fluktuasi insulin sehingga rasa lapar menjadi semakin sering terasa (false starving) akibat gula darah yang cepat kembali ke titik rendah. Somatoype endomorph adalah kondisi ketika seseorang gampang gemuk karena memiliki genetik turunan yang mengakibatkan tubuh lebih mudah mengubah makanan menjadi lemak. Orang yang mengalami hypothyroid, baik karena bawaan lahir atau karena gaya hidup yang buruk, memiliki metabolisme yang rendah dari rata-rata orang normal. Menunda makan terlalu lama di saat lapar juga dapat menyebabkan hormon ghrelin yang berfungsi sebagai pengatur rasa lapar menjadi tinggi sehingga makan secara berlebihan lebih rentan terjadi. Tubuh yang sedang sakit membuat sebagian besar orang memiliki keinginan untuk makan lebih banyak karena ingin cepat sembuh. Stres atau tekanan, baik karena pekerjaan, keluarga, atau apapun penyebabnya dapat memicu selera makan menjadi tinggi karena ingin cepat merasa nyaman kembali. Ada anggapan bahwa terlalu lama atau terlalu sering menjalani diet ketat menyebabkan tak perlu lagi diet dan sudah boleh bebas makan apa saja. Pergaulan atau bersosialisasi juga dapat memicu kecanduan makan dengan cara yang berbeda-beda. Salah satu contoh paling populer adalah karena orang tua memiliki pola makan yang kurang baik maka kebiasaan tersebut berpotensi menurun ke keluarga mereka. Tekanan dari teman atau keluarga untuk menemani mereka saat makan di luar. Kurangnya atau tidak ada dukungan dari pihak keluarga untuk berhenti menjalani pola makan yang kurang baik. Acara-acara tertentu yang dimana makanan disajikan dalam jumlah besar atau terpaksa harus ikut makan. Keinginan untuk merasa sama di saat bersosialisasi dengan mengkonsumsi apa yang dikonsumsi oleh teman. Orang yang mengalami kecanduan makanan cenderung memiliki kebiasaan yang merugikan dan seringkali tanpa mereka sadari. Efek sampingnya meliputi gangguan secara emosional, fisik, dan sosial seperti kegemukan, depresi, sakit jantung, stroke, kepercayaan diri yang rendah, dan rentan terkena penyakit kronis lainnya. Bagi yang belum mengalami kecanduan makanan secara akut, beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya adalah: Memenuhi kebutuhan istirahat dengan tidur berkualitas dan cukup. Riset membuktikan bahwa tidur berkolerasi negatif dengan kecanduan makanan. Kekurangan tidur membuat tubuh lemas sehingga kita akan mencari makanan atau makan lebih banyak dengan harapan memberikan tambahan tenaga. Oleh karena itu, kurang tidur juga membuat keinginan makan makanan yang manis semakin meningkat. Cara lain yang efektif untuk mengatasi ketika kita sedang menginginkan suatu makanan adalah dengan mengolahnya sendiri menggunakan bahan-bahan yang lebih baik. Kita juga bisa mencari alternatif makanan dengan rasa yang hampir sama tetapi lebih baik dari segi kandungan nutrisi. Melakukan aktivitas makan tetapi pikiran ke mana-mana dapat menyebabkan kecanduan makanan jika dilakukan terlalu sering. Mencoba untuk menyediakan waktu dan seluruh perhatian saat mengkonsumsi suatu makanan dapat membantu memperbaiki sinyal rasa kenyang perut ke otak. Riset juga menunjukkan dengan makan penuh kesadaran, sample terbukti bisa makan lebih sedikit daripada sambil melakukan aktivitas lain. Memang betul belum tentu teman atau keluarga yang dipercaya atau kita ajak bicara bisa memahami kondisi yang sedang dialami. Akan tetapi, dengan berbagi dan berbicara saja terbukti dapat memberikan kesembuhan bahkan dari gangguan psikologis yang berat seperti yang dilakukan oleh psikolog. Hal ini tentu saja layak untuk dicoba karena kita tidak akan mengetahui hasilnya tanpa menjalaninya. Melakukan konsultasi kepada psikolog yang memiliki latar belakang dan pengalaman juga bisa menjadi solusinya. Para ahli ini tentunya mengetahui bagaimana dan apa solusi untuk mengatasi kecanduan makanan. Berkonsultasi dengan praktisi kesehatan yang memahami nutrisi juga dapat membantu. Praktisi yang memahami makanan dan minuman apa saja yang dapat menyebabkan efek kecanduan akan sangat membantu jika mereka bisa membuatkan suatu panduan yang bisa diikuti guna mengatasi permasalahan. Beberapa terapi yang mungkin membantu dalam mengatasi kecanduan makan seperti akupuntur, aromaterapi, refleksi, pijat, dan yang lainnya walaupun tidak dilatar belakangi oleh riset yang kuat tidak ada salahnya untuk dicoba. Terapi alternatif memang tidak bedasar kuat tetapi tidak sedikit yang sembuh menggunakannya. Beberapa hal utama yang harus diperhatikan dalam melakukan terapi alternatif adalah jika dirasakan dapat berbahaya untuk tubuh maka sebaiknya dihindari karena biasanya tidak setimpal antara manfaat dengan risiko yang dikorbankan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.