Prinsip Manajemen Keuangan Keluarga

MENCARI STRATEGI YANG TEPAT DEMI MEWUJUDKAN TUJUAN BERSAMA.

Esquire (Indonesia) - - Ekonomi - Teks: ANNISSA SAGITA

UANG seringkali menjadi hal yang sensitif dalam topik perbincangan, namun tidak demikian seharusnya dalam keluarga. Bicara tentang keuangan keluarga berarti bicara tentang satu unit kesatuan masyarakat yang terkecil dan bagaimana cara untuk bertahan hidup dengan pemasukan yang ada untuk mencapai tujuan bersama.

Manajemen keuangan di keluarga dimulai dari keterbukaan antara suami-istri tentang kondisi keuangan masing-masing. Bahkan akan lebih baik lagi jika sebelum menikah pun calon suami-istri sudah saling jujur tentang keuangan, minimal mengetahui gaji pasangan. Apalagi jika ada kesulitan, seperti terjebak hutang. Jika sudah suami-istri wajib hukumnya bagi satu sama lain untuk mengetahui mengetahui mengenai kondisi keuangan yang ada. Jika manajemen keuangan personal saja dianggap sulit, maka tambahkan satu kepala lagi yang harus diajak kompromi untuk mengetahui seperti apa manajemen keuangan keluarga. Salah satu trik yang dapat diaplikasikan adalah menentukan tujuan bersama agar jika dalam praktek manajemen keuangan mengalami kesulitan, tujuan bersama dapat menjadi motivasi untuk tetap keep on track. Sebagai keluarga, maka diskusi perlu dilakukan antara suami-istri di masa awal pernikahan untuk menentukan tujuan bersama serta prioritasnya, contohnya seperti mencari tempat tinggal, apakah butuh down payment untuk rumah atau mengontrak, lalu soal usaha untuk mendapat momongan, pendidikan anak, liburan, dan lain sebagainya. Penentuan tujuan ini sekaligus juga menjadi penentuan target keuangan bersama. Sedangkan prioritas juga penting untuk didiskusikan agar suami-istri lebih terarah dalam pengaturan keuangan. Dalam prakteknya, diskusi prioritas ini menuntut kedua belah pihak untuk berkompromi demi tujuan bersama. Penentuan tujuan dan prioritas ini akan membawa ke langkah selanjutnya dalam manajemen keuangan keluarga, yaitu pembagian tugas dan peran. Budaya di Indonesia, sebagai kepala keluarga, suami

MASALAH YANG MUNCUL PADA UMUMNYA ADALAH KETIDAKTERBUKAAN ANTARA SUAMI ISTRI MENGENAI PENGATURAN KEUANGAN.

dituntut untuk menopang ekonomi keluarga. Suami mencari penghasilan, lalu diserahkan seluruhnya kepada istri untuk dikelola. Cara ini menuntut suami untuk mencari penghasilan yang cukup untuk keluarganya, dan juga menuntut istri untuk menguasai perencanaan keuangan, baik dalam mengatur pengeluaran maupun berinvestasi untuk masa akan datang. Dalam cara ini, terkadang suami tidak hanya menyerahkan uang saja, namun juga memiliki otoritas memberikan pengaturan keuangan kepada istri. Namun tidak semua keluarga menerapkan cara ini. Dewasa ini, sudah merupakan hal yang lumrah bila istri juga bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Meskipun demikian, masih terasa dominan pula pandangan masyarakat mengenai penghasilan yang dimiliki istri sifatnya hanya membantu dan keseluruhan penghasilan tetap menjadi hak istri untuk dibelanjakan. Penghasilan yang diterima, baik melalui satu pintu ataupun dua pintu secara garis besar memiliki cara pengelolaan yang terbagi menjadi tiga: pengelolaan oleh suami, pengelolaan oleh istri, dan pengelolaan bersama. Masingmasing cara ada plus-minusnya. Pengelolaan oleh suami dilakukan jika dia adalah pihak yang mengambil alih keuangan keluarga. Tidak selalu bahwa suami adalah satu-satunya penerima penghasilan, namun cara ini bisa diartikan bahwa istri bisa terima beres. Ketika istri meminta uang untuk kebutuhan rumah tangga, suami harus menyediakan. Pengelolaan oleh istri adalah yang paling umum, karena wanita sebagai pihak yang dianggap paling mengerti kebutuhan rumah tangga, mulai dari makan dan belanja bulanan produk rumah tangga serta kebutuhan anak. Istri juga dianggap sebagai pihak yang paling mengerti bagaimana mengatur uang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Keuntungan dari kedua cara itu adalah masing-masing individu memiliki peran yang jelas sehingga bisa berkonsentrasi dan fokus untuk memberikan yang terbaik. Namun kelemahan dari kedua cara ini adalah apabila pihak yang mengambil alih pengaturan keuangan tidak mengerti konsep perencanaan keuangan terutama manajemen resiko untuk perlindungan aset dan investasi untuk masa depan bukan hanya saat ini. Keuangan keluarga bisa terekspos kepada risiko keuangan yang mungkin terjadi. Selain itu, pihak yang tidak memegang keuangan bisa bersikap “terima beres” bahkan tutup mata terhadap keuangan keluarga karena menganggap semua masalah keuangan sudah dibereskan oleh pasangannya. Akibatnya, ketika ada masalah, bisa terjadi saling menyalahkan atau melempar tanggung jawab. Dalam pengelolaan bersama, suami-istri membagi peran untuk mengatur uang yang ada pada masing-masing individu. Misalnya, pembagian bahwa suami yang membayar cicilan rumah, listrik, sekolah anak, sedangkan istri membayar cicilan kendaraan, menabung untuk liburan, dan lain sebagainya. Keluarga dengan suami-istri yang masing-masing punya penghasilan bisa menerapkan cara ini. Kelebihannya adalah bahwa dengan kedua pihak masingmasing memegang pemasukan sendiri, ada rasa setara dan lebih menghormati pasangannya. Kekurangan cara ini adalah bisa terjadi ketidakpercayaan pada pasangan dan tidak jujur mengkomunikasikan berapa pemasukan yang diterima dan untuk apa saja penggunaannya. Pengelolaan keuangan tidak terbatas hanya pada mengatur pengeluaran dan menabung saja, tapi juga manajemen resiko dengan dana darurat dan memiliki asuransi yang cocok untuk melindungi keluarga dan aset-asetnya. Misalnya yang berkaitan dengan manajemen hutang atau cicilan dan berinvestasi untuk mencapai tujuan-tujuan di masa mendatang, seperti pendidikan anak, liburan, pensiun, dana ibadah, bahkan dana pernikahan anak dan lain sebagainya. Suami-istri sebagai satu tim diharapkan bisa berpikiran terbuka untuk menerima informasi seputar perencanaan keuangan yang mungkin baru bagi mereka, dan juga mampu bekerjasama membawa keluarga ke kondisi ekonomi yang baik dan mengarah pada tujuan bersama. Masalah yang muncul pada umumnya adalah ketidakterbukaan antara suamiistri, yaitu apabila salah satu atau keduanya menganggap uang adalah hal pribadi yang tidak boleh diutak-atik oleh siapapun. Kenyamanan juga dapat menjadi masalah, jika belum atau tidak ada komunikasi yang jelas mengenai pengaturan keuangan. Salah satu tandanya menganggap pasangan sudah mengelola keuangan secara menyeluruh, sehingga merasa tidak perlu berkomunikasi soal keuangan dan tujuan bersama. Masalah lain yang bisa muncul adalah faktor luar, misalnya keluarga besar. Jika salah satu pihak baik suami ataupun istri ada yang masih membiayai keluarga atau orangtua, ataupun ada kebiasaan keuangan di keluarga yang berbeda dengan di keluarga pasangan, sebaiknya bicarakan dengan pasangan seberapa besar porsi pos untuk keluarga ini. Tidak jarang pengeluaran ini menjadi ganjalan dan sumber pertengkaran antara suami-istri. Tidak ada benar dan salah dalam pengaturan keuangan dalam keluarga. Setiap keluarga, apalagi individu, masingmasing punya keunikan dan cara yang paling cocok mengatur keuangan. Yang harus diperhatikan adalah konsep dasar itu sendiri, bahwa manajemen keuangan keluarga yang sukses dimulai dari lancarnya komunikasi antara suami-istri.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.