NAGA DALAM MULUT KARTIKA

Esquire (Indonesia) - - Esquire Cerpen - OLEH: TEGUH AFFANDI

Katanya, ular itu dititipkan mantan suaminya yang tentara sebelum berangkat perang ke Palestina. Saat berangkat tentu naga tersebut masih berwujud telur bulat. Kartika menerima telur itu sebagai bentuk bakti setia seorang istri saat suaminya berangkat memanggul senjata. Sekadar dititipi ular apa susahnya. Sebundar telur tentu tak sebanding beratnya dengan menjaga kesetiaan saat suami berangkat perang dengan tanggal akan pulang belum terang kapannya. Sedangkan bagi suaminya, telur naga itu akan menjadi wakil dirinya untuk menjaga Kartika dan memastikan apabila ada mulut-mulut jahil yang mencoba menggantikan kehadiran mulutnya di mulut Kartika(1). “Jagalah telur naga ini! Kalau menetas rawatlah seperti kamu merawatku. Aku pasti akan kembali,” pelukan terakhir terasa hangat lamat-lamat. Dada Kartika redup oleh kuyup air mata. Telur naga dirawatnya, seperti Kartika menumbuhkan rindu yang baru akan lunas saat suaminya mengetuk pintu rumahnya usai berperang di Palestina. Namun suaminya nyatanya tidak

pernah pulang, bahkan saat berkompi-kompi tentara ditarik mundur ke pangkalan. Bukan karena kepincut dengan gadis bermata zaitun meneduhkan. Suaminya gugur di tengah ledakan bom tangan bocah kecil yang menjihadkan nyawanya untuk berperang. Sekadar jasad kaku untuk dipeluk Kartika terakhir kalinya, dikunjungi pusaranya bila rindu, atau disirami bunga saat berziarah, Kartika pun tak memperolehnya. Suaminya hanya pulang sebagai nama dan sebuah piagam penghargaan, tentu selembar akta kematian. Lantas telur naga itu menetas, tumbuh besar dan menggeliat di dalam mulut Kartika. Setelah sekian tahun, naga itu membesar memenuhi mulut Kartika. Menjadikan langit-langit mulut dan ruang di bawah lidah Kartika sebagai hunian nyaman dan teduh. Bentuk ular naga hanya terlihat saat Kartika membuka mulut atau membalas kalimat. Bila Kartika menyantap daging atau kudapan berlemak, sudah bisa dipastikan potongan daging itu akan disantap rakus oleh naga. Itu pula yang membuat tubuh Kartika tak pernah bergelambir meski sesekali naga dalam mulutnya memaksa Kartika melahap berkilo-kilo daging merah steak. “Apa aku boleh menikah?” tanya Kartika kepada naga dalam mulutnya. Dari dalam mulut hanya ditanggapi sepi. Naga itu sedang lelap kekeyangan. Kartika mengembuskan napas. Selembar surat dilipat kembali. Itu adalah surat keempat puluh yang tidak pernah berani Kartika membalasnya. Nama pengirim dan alamanya selalu sama. Herucakra, mahasiswa yang belum juga tamat sarjana meski sudah masuk semester enam belas, yang kebetulan indekos di rumah Bu RW, tak lebih dari dua ratus meter dari rumah Kartika. Kartika pun menyukai keelokan tubuh Herucakra, mengagumi sebagai lelaki gagah dan rupawan. Bila di mulut Kartika teronggok naga, di mulut Herucakra tersimpan sekuntum bunga. Kalimat-kalimatnya memesona dan menggidikkan tengkuk wanita. Kalimatkalimatnya selembut pipi Herucakra, sulur-sulur vena transparan di kulitnya yang pualam. Pun Kartika tidak ada alasan untuk mendiamkan segala perkataan Herucakra. Namun Kartika masih belum berani. Ya, ini persoalan naga yang kini sudah mulai berani memberontak bila Kartika tak menuruti kemauannya. "DIK, apa kamu tidak malu jalan berdua denganku yang sudah janda,” Kartika memulai. Matanya menatap dalamnya kedung di wajah Herucakra. Herucakra merapatkan rangkulan ke bahu Kartika. Dengan tangan gemetar karena angin malam membawa serta hawa dingin, Herucakra membuka tas kecil, mengeluarkan pak rokok dan korek api. Disulutnya sebatang. Dan setelah diisap dua tiga kali, Herucakra seolah memperoleh kekuatan tambahan. Herucakra balik menatap janda di depannya. “Sebenarnya usiaku tak beda jauh denganmu,” Herucakra mengarahkan kecupan. Namun ditampik Kartika. Meski tak ada yang melihat, kelam malam, suara jangkrik, atau bahkan embusan napas bisa mengantarkan semua berita dan esok pagi berita buruk itu sudah tersebar bersama udara pagi. “Tapi aku masih ada,” saat mulut Kartika menganga itulah ekor naga dalam mulut Kartika menampar pipi Herucakra. Gerakannya begitu cepat. Mata manusia seperti Herucakra yang lebih banyak dihabiskan di depan laptop untuk main game sepak bola, tentu tak bisa menangkap apa gerangan yang menyabet dan menyakiti pipinya. Herucakra terhenyak lantas berdiri. Rokok dijepitan telunjuk dan jari tengah mencelat jauh. Nanar dan memegangi pipi menghalau rasa sakit. “Apa itu tadi?” Herucakra mengelus pipinya yang merah. Matanya masih belum bisa mengerti apa gerangan yang bergerak cepat dan menyakitinya. “Itulah ganjalanku selama ini. Ada naga dalam mulutku,” Kartika menunduk, berusaha menutupi rembah-rembih di matanya. “Naga? Bagaimana bisa?” “Ini titipan mantan suamiku. Dia ditugasi mantan suamiku untuk menjagaku.” Kartika menceritakan semua. Mulai dari kehadiran telur naga saat perpisahan dengan almarhum suami hingga naga yang selalu menolak saat Kartika dekat dengan lelaki lain. Herucakra mendengarkan terheranheran. “Lalu, bagaimana aku mengendalikan nagamu?(2)” tanya Herucakra. Kartika diam. Semuanya belum bisa dijawab. Sedang malam mulai turun bersama embun. Langkah satpam komplek mulai terdengar, memukulmukul tiang listrik penanda pergerakan jam. Herucakra berpamitan, sambil berpikir bagaimana menuntaskan semuanya terutama membunuh seekor naga yang berdiam dalam mulut Kartika.

“Bukankah kalau Herucakra-mu mencintaimu, pasti dia akan menerimamu bahkan dengan risiko ada aku dalam mulutmu.”

“AKU mendengarnya, Kartika!” suara naga itu menampik suara hati Kartika. Ketika diam-diam Kartika meraih sebilah pisau. “Aku bisa lebih dulu menyerang jantung hingga kamu mati bahkan sebelum kamu mengunus pisau itu ke tubuhku.” Kartika menitikkan air mata. “Aku harus bagaimana?” “Bukankah kalau Herucakra-mu mencintaimu, pasti dia akan menerimamu bahkan dengan risiko ada aku dalam mulutmu,” kalimat naga begitu menggetarkan. Nadanya mengejek dengan segala kekuatan sabetan ekornya. Membuat bayangan Kartika mendadak sendu dan kelam. Air mata Kartika semakin membanjir. Apakah aku harus terjebak pada kenang-kenangan almarhum suamiku dan tidak bisa mendapatkan lelaki baru? tanya Kartika pada sesuatu yang mendadak hampa dalam kapling dadanya. Aneka usaha Kartika untuk mengusir naga dalam mulut selalu berujung kegagalan. Sepertinya naga dalam mulutnya mewarisi kecerdasan suami pertama Kartika, hingga selalu mengelak bila diserang dengan pisau atau hendak digebuk dengan bilah bambu apus. “Aku adalah pengganti suamimu untuk menjagamu. Kalau Herucakra adalah lelaki bagimu, tentu aku akan pergi dengan sendirinya.” Kalimat itu tak sedikit pun mengindahkan perasaan Kartika. Sosok suaminya yang sudah menjadi belulang justru berubah menjadi kerak jahat dalam hidupnya. Bagaikan angin malam yang menyentuh dan mengigiti kulit, meninggalkan bekas gigitan yang bakal tak bisa lenyap. Kini naga dalam mulut Kartika akan menjadi penentu hidupnya, sendirian atau bertiga bersama lelaki pujaannya. “Sebaiknya kamu tidak usah berbicara. Aku takut naga dalam mulutmu berontak.” Herucakra mengambil sesuatu dari dalam saku celana. Selotip hitam dan gunting. Herucakra mengolor beberapa bagian selotip dan memotongnya. “Mohon maaf, bukan aku kejam, tapi ini demi kebaikan kita berdua,” Herucakra mengunci mulut Kartika dengan selotip. Mulut Kartika menggembung karena naga di dalam mulutnya memberontak ingin dikeluarkan. “Kartika, kamu tahu aku benar-benar mencintaimu. Apapun keadaanmu. Janda. Dan mungkin aku akan mencintai naga di dalam mulutmu pula. Pertama, aku tidak pernah menyangka janda semanis dirimu menyimpan naga dalam mulut dan itu menyeramkan. “Kartika, seharusnya saat masih kecil naga itu kamu bunuh atau usir dari mulutmu. Sekarang, naga itu tentu sudah merasa sangat nyaman dan susah diusir, kan? Ayumu itu loh, tidak bisa digantikan dengan apapun.” Herucakra mendaratkan kecupan tepat di pipi yang menggembung. Kartika menutup mata pasrah. “Aku tidak tega membunuh naga itu. Aku takut kematian naga akan berdampak buruk bagi nyawamu. Maka sudah kutimbang-timbang, seharusnya aku mulai mencintai nagamu pula. Meski aku tahu, naga dalam mulutmu kurang menyukaiku. Dan bisa saja, naga itu mencaplokku utuh-utuh.” “Aku terima keadaanmu, Herucakra.” Kalimat Kartika tidak terdengar jelas. “Kartika setelah menikah nanti mungkin kita akan seperti ini terus. Mulutmu akan terus terkunci untuk menjaga sabetan ekor naga ke mukaku. Mungkin dengan mengunci rapat mulutmu seperti ini, begitulah CATATAN: baktimu kepadaku nanti. Maukah kamu?” Kartika mengangguk. Di saksikan malam yang belum jatuh terlampau dalam ke kelam. Mereka menuntaskan segalanya dalam diam dan mulut Kartika masih saja terkunci isolatip. Mulut Kartika menggembung besar. Kartika tak mengacuhkan barisan protes naga dari dalam mulutnya. Kartika hanya menikmati sosok Herucakra yang mengemong begitu mesra. “Kartika, Kartika! Kamu sudah tertipu. Kalau kamu terus mengunci mulut, lalu bagaimana kamu akan menyuarakan keluhmu bila bunga dalam mulut Herucakra menyebarkan tajam onak atau bisa tanpa penawar? Apa? Kamu tidak tahu?” Suara naga dalam mulut Kartika tenggelam dalam lenguh kebahagian mereka berdua. Blora, 20 Agustus 2015 “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?” (2) Dari judul film “How To Train Your Dragon?”

(1) Terinspirasi dari judul cerpen Hamsad Rangkuti,

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.