KACANG SEGALA CARA

DIPECAH, DIBELAH, DINIKMATI.

Esquire (Indonesia) - - Check-out Gastro -

Beberapa bulan sebelum menyambut hari Natal, kita akan sering mendengar biji bernama chestnut alias kastanye yang berasal dari buah berkulit tebal dan berduri tajam. Jika dibelah, isinya berbentuk biji berkulit tebal warna coklat mengkilap yang biasanya sangat kecil, hanya sekitar 5 gram. Ada juga jenis kastanye dari Jepang bernama kuri yang berukuran lebih besar, beratnya bisa mencapai 40 gram. Di dalam kulit kuri, terdapat daging tebal. Memikat, seakan-akan membuat siapa saja tidak kuasa untuk mengambil camilan ini terusmenerus berkat rasa manis dan aroma asapnya setelah dipanggang. Menyantap kastanye, sama saja dengan menikmati kacang. Untungnya, dia rendah kalori dan lemak. Mungkin tidak banyak orang yang kenal dengan perjalanan sejarah kastanye. Dia sudah dikenal sekitar 2.000 tahun yang lalu di daerah pegunungan Mediterania. Lalu menjamur menjadi makanan pokok di Eropa Selatan, Turki, dan Asia Barat Daya. Pesonanya membuat orang dulu ingin mengolahnya sebagai campuran kue, sup, dan saus. Di Prancis, misalnya, kastanye kerap direkomendasikan sebagai Marron Glace, manisan yang melibatkan 16 jenis proses dari teknik masak Prancis dan disajikan saat Natal dan Tahun Baru. Karena rasa manis yang unik, Head Pastry Chef Potato Head Garage SCBD, Jakarta, Yoko Kato, tertantang mengolah kastanye dalam menu pencuci mulut walapun di Jepang hanya lebih terkenal sebagai cemilan atau dihidangkan dengan nasi. “Saya membuatnya berlapis di wadah kecil sebagai pencuci mulut. Lapisan dasarnya berupa yoghurt polos, lalu chestnut sponge cake, pasta kastanye, saus blackcurrant, dan paling atas whipped cream. Pada campuran pasta kastanye, saya hanya menambahkan sedikit gula halus karena rasa biji atau kacang ini sudah manis. Saya pun tidak ingin menghilangkan rasa unik kacangnya,” ujarnya. Fendi Soetrisno, Public Relations & Marketing Manager dari Iseya Robatayaki, Sampoerna Strategic Square, Jakarta memberikan tip. “Pilih kacang yang berat. Itu menentukan rasanya. Jika enteng, berati kopong atau daging kacangnya sudah tidak segar bahkan rasanya bisa pahit,” jelasnya. Pada menu musiman Isseya Robatayaki, bernama Yaki Prawn with Sea Urchin, Fendi menambahkan, “Tantangan chef kami adalah tetap memberi kekayaan pada rasa udangnya di antara saus kastanye. Kacangnya digunakan dengan cara diblender lalu dimasukkan pada Goma dressing, sejenis saus wijen. Ini memberi keseimbangan pada bahan yang satu dan lainnya”.

“SAYA BENCI TV. SAYA MEMBENCINYA SEPERTI KACANG. TAPI, SAYA TIDAK BISA BERHENTI MAKAN KACANG.” –Orson Welles, aktor–

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.