MEDITASI DALAM MEWARNAI

Esquire (Indonesia) - - Mahb -

Sepertinya, demam mewarnai di kalangan masyarakat semakin mewabah. Bahkan, rak-rak best seller di banyak toko buku tak kurang menempatkan satu-dua buku mewarnai sebagai pengisinya. Buku mewarnai yang bukan untuk anak-anak mulai populer sejak 2014 lalu di benua Eropa. Adalah Millie Marotta, seorang ilustrator berkebangsaan Inggris, yang dapat dikatakan sebagai pionir tren ini. Dia memulainya dengan mengeluarkan seri buku mewarnai berjudul Animal Kingdom yang tidak terduga laris terjual mendekati satu juta buku di enam bulan pertama penjualannya. Di Indonesia, tren mewarnai bagi orang dewasa dimulai sekitar pertengahan 2015. Pelopor buku Indonesia berjudul My Imagination: Terapi Warna untuk Melepas Stres karya Arelita, dan hingga kini masih menjadi yang terfavorit. Namun, benarkah buku mewarnai ini mampu menjadi alat penghilang stres? Cathy Malchiodi, seorang terapis kenamaan dunia, mengungkapkan bahwa anggapan buku mewarnai sebagai bentuk nirwana psikologis lebih banyak diungkapkan oleh pencipta buku mewarnai itu sendiri, bukan oleh khalayak yang membelinya. Menurut Malchiody, terapi antistres melalui seni dilakukan melalui penciptaan karya, bukan mengisi karya orang lain layaknya buku mewarnai.

Meskipun begitu, terdapat pandangan lebih positif dari terapis seni lainnya, yakni Drena Fagen dari Steinhardt School, University of New York, Amerika Serikat. Drena menyebut bahwa buku mewarnai bersifat terapetik (menenangkan), dan hal tersebut berbeda dengan terapi antistres. “Saya rasa tidak perlu mengkritik kegiatan kreatif apa pun yang dapat membantu seseorang menemukan perasaan nyaman,” tukas Dera.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.