Negara dan Ilmu Pengetahuan

MENILIK BUDAYA PENELITIAN DAN BERBAGAI KENDALA YANG DIHADAPI PENELITI DI TANAH AIR.

Esquire (Indonesia) - - INSIGHT - Teks: PRAKOSO BHAIRAWA PUTERA

Soekarno, Presiden pertama republik ini, begitu kuat menggarisbawahi peran penting dari ilmu pengetahuan. Keyakinan ini terbukti sukses, sayangnya bukan bagi bangsa Indonesia. Jepang dan Korea Selatan (Korsel) adalah bukti negara yang mampu menerjemahkan komitmen kebangsaan dari pimpinannya (layaknya Soekarno) untuk meletakkan ilmu pengetahuan sebagai dasar pembangunan negara. Kedua negara itu menjadikan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi sebagai fondasi dalam memutuskan arah dan tujuan. Kaum cerdik pandai yang tersebar di pusat-pusat penelitian dan perguruan tinggi dilibatkan secara aktif oleh negara untuk menjawab tantangan mendasar dan diminta secara khusus untuk berkontribusi menjawab isu-isu strategis sebagai akibat lahirnya pemikiran dan teknologi baru.

Akan tetapi, kita harus sadar juga, baik Jepang ataupun Korsel telah memiliki tingkat literasi ilmu pengetahuan yang tinggi pada 1945. Sehingga ketika hancur oleh Perang Dunia II, mereka mampu bangkit dan menjadi pusat kemajuan ilmu pengetahuan saat ini. Zuhal (2008) dalam bukunya Kekuatan Daya Saing Indonesia: Mempersiapkan Masyarakat Berbasis Pengetahuan, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan infrastruktur ilmu pengetahuan yang dimiliki, seperti tenaga kerja terdidik, prasarana penelitian dan pengembangan, pendidik dan peneliti yang bersemangat ilmiah, komitmen bangsa yang ingin berproduksi ( bukan konsumsi saja), dan tentunya dukungan modal yang memadai.

Pada 2014, Pusat penelitian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), LIPI, melakukan survei untuk mengukur tingkat ketertarikan, cara pandang, dan pemahaman masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Survei yang dilakukan di 10 kota di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makasar, Batam, Denpasar, Balikpapan, Yogyakarta, dan Ambon) menunjukkan hasil bahwa tiga besar pengertian iptek yang didefinisikan oleh masyarakat adalah sebagai berikut: iptek sebagai penemuan besar (76%); iptek berkaitan dengan perbaikan kehidupan manusia (62%); dan iptek merupakan alat untuk melakukan perubahan (46%). Survei kedua yang dilakukan setelah tahun 2008 memperlihatkan masyarakat Indonesia mempunyai harapan tinggi terhadap iptek. Data survei menyebutkan lebih dari 80% masyarakat berharap ilmu pengetahuan dan teknologi dapat memberikan harapan baru untuk generasi mendatang; dapat menemukan sumber energi yang dapat diperbaharui; dan dapat membuat membuat pekerjaan manusia menjadi lebih menarik. Dalam sebuah diskusi kecil dengan LT Handoko, salah seorang peneliti unggul di LIPI, terungkap bahwa pada tataran filosofis, tidak ada perbedaan pendapat atas pentingnya ilmu pengetahuan untuk mencapai tujuan dan solusi berbagai permasalahan bangsa. Tetapi pada tataran perumusan dan pelaksanaan kebijakan, banyak model pendekatan yang berbeda dan bahkan (seolah-olah) bertolak belakang satu sama lain. Berkaca pada sejarah ilmu pengetahuan Indonesia, hal ini bisa memunculkan kontradiksi antara ekspektasi publik yang berlebihan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.