Kami baru saja mendengar Kumpulan Keluhan

Esquire (Indonesia) - - Check-out -

dari para pengelola tempat-tempat berkelas di pusat niaga ini, sebuah lokasi yang menjadi penanda kemajuan ibu kota. Semua keluhan tersebut bermuara pada sesosok pria kaya raya yang mendadak muncul di tengah pergaulan sosialita negeri ini.

Si Tajir, julukan pria fenomenal tersebut. Berusia mendekati paruh baya, namun masih terlihat aktif layaknya pemuda. Wajahnya tidak tampan, namun tidak juga menggelikan untuk dilihat. Postur tubuhnya seperti pria Indonesia pada umumnya, namun dengan tingkat percaya diri yang tinggi. Beberapa waktu belakangan, dia sering tampil menebar pesona di berbagai momen bertemunya para khalayak pemegang tabungan platinum. Tidak diketahui dari mana asalnya, namun dia berhasil meyakinkan banyak orang bahwa dia kaya raya. Kami ulangi. Kaya raya.

Status kaya raya tersebut membuatnya merasa memiliki hak legitimasi untuk apapun yang dia kehendaki di pusat niaga ini. Seperti yang dikeluhkan oleh petugas pemandu parkir. Si Tajir dikabarkan tidak begitu yakin menitipkan mobilnya untuk diparkir oleh petugas. Alih-alih dia pun ikut duduk di dalam kabin mobil hingga benar-benar terparkir dengan sempurna di lokasi VIP. Setelah itu, dia meminta si petugas mengantarnya ke lobby dengan kawalan layaknya mega bintang.

Di restoran sushi terkenal dengan koki yang didatangkan langsung dari Negeri Matahari Terbit, Si Tajir kembali menjadi perbincangan. Dia tidak menaati aturan memakan sushi. Tanpa rasa bersalah dia menenggelamkan sushi ke wadah kecil berisi kecap asin. Sudah dapat ditebak, lidahnya terpapar rasa asin yang teramat sangat. Seketika dia pun memaki sang koki dan menyebut sushi buatannya tidak lebih dari nasi campur ikan mentah belaka.

Saat berbelanja di butik pakaian pria paling bonafide di ibukota, Si Tajir kembali berulah dan lagi-lagi berhasil berkilah. Para staf butik tidak dapat berbuat apa-apa karena pada akhirnya Si Tajir berbelanja dengan jumlah nominal rupiah yang cukup besar. Namun tetap saja rasa kesal masih terpendam di hati para staf butik tersebut. Pasalnya Si Tajir telah menodai sepuluh kemeja rancangan terkini dengan plak kuning yang berbau dari ketiaknya yang basah.

“Saya memang sering berlebih,” jawabnya santai menegurnya dengan segan.

Sebenarnya para pengelola tempat-tempat berkelas di pusat niaga ini tidak berniat memasukkan Si Tajir ke dalam daftar hitam, karena toh dia merupakan konsumen yang sangat potensial. Hal yang mereka keluhkan hanya satu, yakni sikap sewenang-wenangnya. Keluhan yang disampaikan pada kami merupakan bagian dari upaya mereka untuk menyadarkan Si Tajir bahwa sikapnya banyak melukai perasaan para pengelola tempat-tempat berkelas tersebut.

“Siang tadi, Si Tajir baru saja menandatangani pembelian saham mayoritas pusat niaga ini,” ujar kami takut-takut.

Para pengelola tempat-tempat berkelas tersebut saling pandang dan tertunduk lesu. mengeluarkan keringat ketika para staf butik

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.