EKSPOSISI SPIRIT MASA KINI, PERKEMBANGAN MODE MUTAKHIR, DAN POLITIK IDENTITAS.

Esquire (Indonesia) - - Style Runway -

Selama beberapa tahun belakangan, mode dianggap kaum pria tak hanya sebagai pernyataan gaya semata, tapi juga pernyataan politis. Kebebasan yang ditawarkan berbagai desainer dan label mode dalam wujud garis rancang nonkonvensional menjadi dorongan bagi kaum pria untuk mempertegas konsepsi “identitas”. Bersamaan dengan semakin berkembangnya teknologi dan media sosial, editor mode dan buyer kehilangan kuasanya dalam menentukan tren yang berlaku. Anda bisa mengenakan kemeja berbahan brokat, atau celana super pendek atau jumpsuit bergaya safari sekalipun tanpa terlihat “aneh”. Mode tak lagi dilekatkan dengan berbagai stigma. Di tahun 2016 ini, kaum pria bebas menjadi siapa saja dan mengekspresikan diri dalam berbagai gaya busana. Pekan Mode London masih menggaungkan semangat individualitas. Setidaknya, kesan seperti itulah yang ditawarkan berbagai desainer lewat lansiran busana bergaris rancang progresif. Label Alexander Mcqueen mengulik inspirasi pelaut dari era victoria, dengan hasil akhir berupa deretan busana dengan tailoring apik, inovasi motif dan material serta detail cutting yang unik. Berkibarnya tren gender-bending belakangan ini justru menjadi pemicu bagi desainer JW Anderson untuk meninggalkan konsep estetis demikian yang dulu menjadi karakter khasnya. Kini, dia menawarkan permainan proporsi dan teknik potong yang tampak terpengaruh nuansa japonisme. Koleksi anyar Burberry Prorsum menjadi bukti kematangan Christopher Bailey dalam menggarap detail busana dan padu padan tampilan. Kemeja brokat misalnya dikombinasikan dengan dasi ramping atau jaket bermotif bordir dipadankan dengan sweatpants.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.