Tidak hanya bom Sarinah, sejumlah peristiwa, baik politis atau tidak, di Indonesia tidak luput atas dagelan-isasi di media sosial.

Esquire (Indonesia) - - Insight Politik -

Vietnam termapankan sebagai aktivisme politik publik. Sementara itu, publik kota Paris mempunyai kesempatan berbeda yang memungkinkan ekspresi politik publik terakumulasi dalam waktu singkat untuk menjadi aktivisme. Lebih lanjut, aktivisme melawan teror Paris berkembang menuju upaya refleksi publik. Simaklah momen yang terjadi pada saat itu.

Alih-alih menanti berita aksi heroik agen negara dalam memburu teroris, penduduk Paris memutuskan untuk turun ke jalan. Menjadikan tubuhnya sebagai parade melawan rasa takut. Sorak sorai bergemuruh di jalanan saat museum dan pusat kebudayaan borjuis bagi turis kembali dibuka. Simbolisme yang lantang. Namun, satu hal yang menarik bagi saya pribadi adalah perkembangan dari aksi melawan takut.

Pada momen itu, para warga pinggiran Paris yang berasal dari kelas ekonomi rendah serta beragam agama kembali menegaskan kebersamaan di antara mereka. Muslim, Yahudi, Katolik, maupun para ateis dan agnostik saling berjabat tangan dan berpelukan. Aksi turun ke jalan bukan sekadar dijadikan ajang kerumunan untuk bersama-sama berteriak “Kami tidak takut!”, melainkan berkembang sebagai aktivisme yang menyampaikan pesan lebih luas. Teror telah gagal mengadu domba para penganut agama dan ideologis berbeda. Alih-alih malah menciptakan kebersamaan politis yang menggagalkan rasa takut mencengkram, sebagaimana keinginan pelaku teror.

Dengan kata lain, parade publik melawan takut di Paris mendorong dunia untuk merenungkan esensi permasalahan, dalam hal ini adalah terorisme. Jangan-jangan, esensi permasalahan bukanlah perbenturan ideologi agama, atau pertarungan peradaban Timur dan Barat. Peluk erat serta jabat tangan para umat berbeda agama di Paris menjadi bukti atasnya. Ruang bagi diskusi untuk memahami penyelesaian terorisme kembali terbuka.

Adapun hiruk-pikuk yang terjadi di media sosial Indonesia sepertinya hanya berakhir sebagai pengarsipan digital. Mohon maaf, saya tidak melihat upaya untuk mengagas aktivisme. Saya mencurigainya hanya sebagai wujud ekspresi banalitas pengguna media sosial di Indonesia. Tidak heran, inilah karakteristik penggunaan media sosial di Indonesia. Tidak hanya bom Sarinah, sejumlah peristiwa, baik politis atau tidak, di Indonesia tidak luput atas dagelan- isasi di media sosial. Canda telah menjadi kuasa di media sosial: modal simbolik bagi para pencipta atau buzzer- nya.

Seandainya kumpulan cerita jenaka mengenai bom Sarinah dapat disimpulkan sebagai kegagalan dalam berkembangnya aktivisme, saya menduga hal ini didasarkan atas khilafnya para pencipta untuk merujuk pada sejumlah skema perlawanan atas teror di negara ini. Sejarah Indonesia telah menjadi saksi atas segala rangkaian teror. Bukan saja oleh aksi teror yang dilakukan teroris, namun bahkan oleh negara itu sendiri. Sekiranya hal ini dapat menjadi rujukan untuk merangkai skema melawan teror di Indonesia. Upaya untuk menangkal teror adalah dengan membangun ruang untuk mendiskusikan penindasan. Suatu agama atau ideologi bukanlah rahim yang melahirkan teror. Sejatinya, terorisme berakar dari terjadinya penindasan, baik secara sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Sayangnya, kita sering melupakannya Bagaimana pun juga, mohon maaf, canda sekiranya dapat membuat kita tersenyum, tertawa terpingkal. Akan tetapi, senyum dan tawa tidak akan menyelesaikan aksi teror, maupun segala bentuk perampasan hak hidup manusia. Aktivisme sekiranya dapat menjadi ruang bagi harapan perdamaian di masa depan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.