Sekala Siskala

Esquire (Indonesia) - - Insight Seni -

Pertunjukan bermula senyap, panggung pun gelap. Taburan bunga rupa warna terhampar memenuhi ruang. Di sebuah sudut, Ayu Laksmi bertumpuh beralas bantal warna poleng. Di hadapannya, terdapat seikat bunga padma dan cawan air berlapis perak di atas dulang. Asap lalu mengepul dari dupa dan kemenyan yang menciptakan keheningan. Perlahan, sayup mantra memenuhi penjuru ruang. Begitulah Svara Semesta, komunitas seni bentukan Ayu Laksmi memulai pertunjukannya.

Ayu Laksmi dan Svara Semesta bukanlah komunitas yang biasa. Mereka memang tak setenar band Gigi, Noah ataupun Ungu yang seringkali kita lihat secara kontinu di televisi. Ayu Laksmi dan Svara Semesta terdiri dari 10 orang musisi yang berasal dari berbagai wilayah tanah air. Sebagian dari mereka memainkan alat musik tradisional berupa gamelan dan perkusi, sebagian lainnya memainkan instrumen modern.

Di dalam menyampaikan kisah melalui musik dan lagu, mereka berani menabrak barikade serta aturan yang berlaku secara umum. Komposer musik Fariz RM mengatakan bahwa Ayu Laksmi dengan karya-karyanya dalam Svara Semesta merupakan bentuk dari kejujuran, keluguan, kesederhanaan, dan penjelajahan tanpa batas yang justru bisa benar-benar mewakili imajinasi dan khayalan manusia yang memang tanpa batas.

Ayu Laksmi adalah penggagas dan konseptor dari karya-karya yang ada dalam Svara Semesta. Dia pun seorang multi talenta sebagai penyanyi, sutradara pertunjukan, pencipta lagu, penari juga aktris film, dan teater. Laksmi memang konsisten mengasah talenta dalam dunia seni suara yang telah disajikannya secara inovatif dalam sebuah seni pertunjukan. Bali tetap dipilih sebagai tempat berproses. Dia belajar secara autodidak dari literatur sampai diskografi musik. Mengenali, menghayati, dan mengalami adalah proses penempaan yang tak pernah usai.

Kini, dalam pergaulan kreatif musik dunia, Laksmi menjadi sosok yang kembali diperhitungkan. Bersama Komunitas Svara Semesta, dia berhasil membangun keseimbangan nuansa yang dinamis, khusyuk, riuh, kontemplatif, natural, bahkan seringkali berkesan magis dengan kata lain membuat bulu kuduk berdiri, banyak penonton berkomentar demikian seusai menyaksikan pertunjukan Ayu Laksmi dan Svara Semesta.

Panggung adalah perayaan cinta bagi siapapun dan apapun, mereka percaya, pertunjukan yang ditampilkan bukan hanya menjadi persembahan bagi yang tampak, tetapi juga bagi mereka yang tidak tampak. Maka, tidaklah mengherankan jika pemanggungan Ayu Laksmi selalu menjadi kolosal dengan memadukan unsur musik, tari, sastra dan teater, termasuk menghapus sekat antara performer dan penonton.

Penggemarnya bukan hanya orang dewasa tetapi juga lansia bahkan anak-anak. Beberapa penonton asing berpendapat, she’s just like a heroin, she is Bali atau she is an energy.”

Mereka telah disatukan cinta. Tanpa sekat, tanpa syarat, cinta pada manusia, cinta pada semesta alam, cinta pada Sang Pencipta. Sebab doa adalah yakin bahwa Tuhan ada di dalam diri, cinta adalah percaya bahwa Tuhan ada dalam diri orang lain, syukur adalah wujud rasa bahwa Tuhan ada di mana-mana. Bersama kelompok Svara Semesta, Ayu Laksmi terus melangkah. Dia menggemakan cinta melalui Svara Semesta, anak-anak yang lahir dari rahim seninya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.