Konflik Agama dan Mati Lajang

MENELUSURI FAKTA FAKTA TERSEMBUNYI DARI KONFLIK BESAR YANG PERNAH TERJADI DI INDONESIA.

Esquire (Indonesia) - - Insight Budaya -

Sewaktu menelusuri sejarah dusun yang saya teliti di Seram Utara, ada satu cerita yang cukup membuat saya merinding. Cerita tentang gurita laut yang mengintai kampung setiap kali malam datang? Bukan. Cerita tentang iblis yang suka menyaru menjadi manusia, berkeliaran di sekitar desa, dan menipu para warga untuk menghisap tulang manusia? Juga bukan. Kisah ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari semua yang pernah saya dengar, yaitu tentang salah satu penduduk sekitar dusun pertama yang mati dengan status lajang.

Kisah para penduduk pertama yang datang ke dusun bernama Parigi ini sebenarnya cukup epik. La Tamba, sang penduduk pertama, memutuskan tinggal di belantara yang sebelumnya hanya dimukimi satwa liar dan melata demi mengubah nasib. Di Ambon, dia menjadi tukang panjat kelapa orang-orang Belanda. Tetapi di alam Seram Utara yang masih liar ini, dia mengelola lahan kopranya sendiri lewat kontrak bagi hasil dengan keluarga kerajaan setempat.

Tentu saja, risiko menjadi tuan atas diri sendiri tak kecil. Sekali waktu, buaya datang menyidak pekarangan La Tamba. Pada waktu yang lain, babi hutan. Dan untuk melengkapi tantangan yang dihadapi La Tamba, tradisi perburuan kepala masih dilakoni orang-orang gunung pada saat itu. Akan tetapi, La Tamba berhasil. Dia kemudian mengundang La Saidu, yang baru dibebaskan dari perbudakan di perkebunan kopra, untuk tinggal di tempat ini. Dia lantas mengundang lagi rekan perantau Buton lainnya, La Guama, yang juga mengundang anak-anaknya.

Para perantau Buton ini kemudian beranak pinak. Mereka mengambil istri dari saudara perempuan yang dibawa rekannya atau mengiming-imingi wanita yang dijumpainya di kota atau desa, yang kemudian menyesal karena ternyata dibawa hidup di antah-berantah. Mereka berangsur-angsur membeli lahan yang sebelumnya hanya dikontrak dan menjadikannya permukiman. Dan kini, jauh dari citra antah-berantah, dusun Parigi ditinggali lebih dari seribu jiwa, bahkan kemudian menjadi salah satu dusun dengan sumbangan pajak paling tinggi di Seram Utara.

Akan tetapi, selain orang-orang Buton yang beranak pinak dan anak pinaknya menjadi informan saya, katanya, pada awalnya hidup pula seseorang yang bernama Karel Bakarbesi. Dia berasal dari Ambon. “Orang Kristen,” tambah La Abu, cucu La Tamba. Apa yang dilakukan Karel di antah-berantah tersebut tak beda dengan apa yang dilakukan para perintis dari Buton. Dia sama-sama mengelola lahan kopra keluarga kerajaan dan memperoleh penghasilan dari bagi hasil. Dia, tampaknya, sama-sama merasa tak menjadi manusia seutuhnya di pulau asalnya dan mengambil keputusan yang entah berani atau nekat. Hanya saja, jalan nasibnya berbeda. Karel tidak pernah menikah. Karel tidak memiliki keturunan. Dia membujang sampai mati.

Para perantau Buton perintis, oleh keturunannya, kini dikisahkan memiliki pelbagai kesaktian tiada tara. Mereka bisa menarik pesawat-pesawat Jepang hingga jatuh. Mereka bisa mendayung perahu kopra dan mencapai Jawa cukup dalam semalam. Mereka bisa membekukan orang-orang gunung yang hendak

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.