EKO NUGROHO

(SENIMAN, 39 th)

Esquire (Indonesia) - - What Ive Learned - TEKS: Dicky Zulkarnain Foto: ikmal awfar

Sebagai seniman, saya berusaha untuk berkolaborasi dengan banyak pihak dari berbagai latar belakang. Belakangan, saya bahkan berkolaborasi dengan label fashion, baik lokal maupun internasional. Saya selalu menyukai tantangan dari hal-hal baru. Kesenian ada di ranah yang sangat luas. Ketika seorang seniman di tempatkan di medan apapun, seharusnya dia tetap bisa berkarya dan memberikan kontribusi. Seorang seniman itu seharusnya memang bersikap cair. Karya seni saya merupakan medium berekspresi dan sarana kritik terhadap apa yang terjadi di sekitar kehidupan saya. Setiap karya selalu berawal dari kegelisahan saya dalam mengamati fenomena yang terjadi di Indonesia, dari politik, ekonomi, transisi politik, sampai masalah terorisme. Sejak kecil, saya suka animasi. Waktu saya SMA, saya banyak mengoleksi komik-komik underground dan yang lucu. Dari sanalah saya mendapatkan karakter gambar dan penggunaan warna hitam putih yang dominan. Perjalanan berkreasi saya berasal dari bahasa gambar. Diary saya bahkan isinya cuma gambar-gambar. Dalam berkreasi, saya tidak pernah memerhatikan kondisi dan kesukaan pasar. Saya bukanlah produsen yang biasa menghasilkan karya yang bersifat massal. Bagi saya, daya kreasi selalu bergantung pada beberapa faktor, misalnya suasana, mood, dan kreativitas. Karya seni bukanlah reklame, yang berisi pesan-pesan yang disampaikan secara vulgar. Saya selalu berdialog dengan masyarakat lewat permainan metafora, keindahan, fantasi, dan bahasa visual yang tersaji dalam karya-karya saya. Setiap penikmat seni punya kebebasan dalam menginterpretasikan setiap karya seni sesuai persepsinya. Itulah yang istimewa dari seni, selalu bersifat terbuka terhadap berbagai penafsiran. Untuk membangun mood saat berkarya, saya selalu mendengarkan musik. Biasanya, saya selalu membuat playlist khusus dalam MP3 player saya. Saya adalah generasi ‘90-an yang menggemari musik alternative, seperti musiknya Radiohead, Nirvana, Netral dan lainlain. Generasi muda kita seharusnya lebih cerdas. Mereka punya banyak akses terhadap informasi, sehingga mereka punya kemungkinan bereksplorasi lebih luas. Apalagi, kehidupan di negara kita sebenarnya bisa lebih banyak memberikan inspirasi. Saya optimis bahwa generasi muda akan memberikan kontribusi yang lebih baik terhadap ranah seni Indonesia. Komik Daging Tumbuh yang sebelumnya sempat vakum selama dua tahun, sudah diluncurkan lagi pertengahan tahun lalu. Saya sedang membentuk tim agar komik ini bisa terbit satu edisi setiap enam bulan sekali nantinya. Saya selalu berusaha semaksimal mungkin agar aktivitas di semua lini, baik yang pribadi maupun yang alternatif, bisa berjalan dengan baik. Saya punya program pendidikan seni untuk anak-anak usia 3-12 tahun. Ke depannya, saya ingin progr am ini bisa dikembangkan lebih baik lagi. Ini adalah salah satu impian yang ingin bisa segera saya realisasikan. Saya memilih tetap bermukim di Yogyakarta karena ingin bisa turut mengembangkan potensi orang-orang dari kampung halaman saya. Sampai sekarang ini, saya sudah membudidayakan masyarakat lewat toko bordir dan workshop patung, yang melibatkan warga di sekitar lingkungan studio.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.