Bahagia Dari Belanja, Bahagia Karena Belanja

Menghindari berbelanja secara impulsif dengan mempertimbangkan motif .

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin - Teks: E. Febiola aryanti

Kita membeli benda yang kita pikir dapat mendatangkan kebahagiaan, hanya untuk menyadari bahwa kebahagiaan itu hanya sebentar. Lalu kita kembali kepada lingkaran yang sama: berbelanja, bahagia sebentar, menjadi tidak bahagia, dan membeli benda lain untuk mendapatkan kebahagiaan baru. Mungkin, ada sesuatu yang salah dengan cara kita membelanjakan uang, bukan hanya masalah berapa jumlah yang dibelanjakan atau berapa uang yang mampu dibelanjakan. Mungkin, kita perlu memikirkan mengapa kita berperilaku belanja tertentu dan bagaimana belanja bisa benar-benar memberikan kebahagiaan.

Saat seseorang berbelanja karena keinginan, kemudian dieksekusi dengan tidak terencana atau tergesa-gesa, maka besar kemungkinan bukan kepuasan yang didapatkan, melainkan penyesalan. Betapa banyak barang yang kita beli hanya untuk mendapatkan rasa menyesal. Beberapa barang tersebut masih berlabel harga, tersembunyi di dalam lemari, di pojok gudang, di dalam laci, bahkan di bagasi mobil. Kita terlalu takut untuk menghadapi kenyataan, rasa penyesalan karena belanja yang kurang bijak.

Belanja mempunyai tiga bagian besar kegiatan, yaitu motif, eksekusi dan pasca belanja. Motif berbelanja bisa karena keperluan atau keinginan. Eksekusi tindakan berbelanja bisa terencana atau tidak terencana (impulsif ), dan pada pasca belanja seseorang bisa merasakan kesenangan dan kepuasan atau penyesalan dan ketidakpuasan. Setiap pengalaman berbelanja akan membentuk perilaku belanja kita secara umum. Berlatih untuk mempunyai motif berbelanja yang benar, mengeksekusi kegiatan belanja dengan tepat dan kemudian menikmati sensasi pasca belanja yang memberikan kepuasan, akan mendorong perilaku berbelanja yang baik selanjutnya. Hal-hal inilah yang pada gilirannya akan mengubah perilaku belanja kita menuju ke arah yang lebih baik dan akan memberikan kita peluang yang lebih besar untuk merasakan kebahagiaan.

Kita ingin berbelanja yang menambah kebahagiaan dan bukan membuahkan penyesalan. Mengeluarkan uang secara psikologis menimbulkan perasaan “sakit”. Rasa “sakit” karena tindakan mengeluarkan uang untuk berbelanja, hanya akan bisa “diobati” dengan kesenangan dan kepuasan karena belanja yang dilakukan memenuhi keperluan dan kemudian tidak diikuti dengan penyesalan. Ini yang membuat belanja bisa menjadi hal

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.