Setelah menikmati tayangan di Youtube

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin -

yang menampilkan sosoknya diwawancara oleh beberapa media (terutama ketika dia diwawancara bersama rekan sesama Avenger Chris Hemsworth yang menurut saya cukup menyenangkan), saya sempat berpikir kami akan dapat bekerja sama untuk sesi pemotretan ini. Kami mungkin akan sesekali tertawa sepanjang sesi wawancara, kemudian mungkin bisa berteman. Namun, nyatanya dia hanya minta dua pil obat pereda sakit ketimbang teman baru dan lebih memedulikan kesehatannya untuk dapat menghadiri rapat dengan Sony yang akan berlangsung selama empat jam berikutnya.

Kami bertemu di sebuah rumah bergaya pertengahan abad ke-20 di perbukitan Hollywood Barat, Los Angeles, di pagi yang cerah di awal bulan Maret yang lalu. Rumah itu bukan kediaman Chris. Sinar matahari musim semi yang hangat menembus jendela tinggi menghadap patio dan kolam renang berwarna biru yang besar, yang dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Dari rumah tersebut, tulisan Hollywood di bukit terlihat dengan jelasnya. Saya baru kali ini bisa memandanginya sedekat ini. “Saya juga,” jawab Chris. Hal ini mengejutkan saya. Bagaimana bisa Chris yang sudah lama melintang di dunia perfilman Hollywood belum pernah memandangi simbol Hollywood yang dimimpikan jutaan orang sedekat ini?

Untuk beberapa jam, dekorasi ala 1950-an dengan beberapa furnitur dan lukisan ikonik yang mengisi ruang tersebut, menjadi suaka bagi Chris. Tirai diturunkan untuk meminimalisir silau (agar Chris tidak terlampau berkeringat) dan setiap orang berbicara dengan bisikbisik seolah-seolah bicara yang terlalu keras dapat menurunkan kondisi kesehatan sang bintang.

Tak bisa dipungkiri bahwa Chris telah sukses membangkitkan sosok Captain Amerika, pahlawan komik Marvel ke layar lebar. Aktor berusia 35 tahun ini setuju memerankan peran Cap ini pada tahun 2011 dalam trilogi pertama, Captain America: The First Avenger. Sementara para pecinta komik ini awalnya sempat bersikap skeptis terhadap tampilan Chris yang boyish, nyatanya ketika ditayangkan di bioskop midnight, penontonnya langsung membludak. Hal ini menandai Chris merupakan pilihan yang tepat. Pada tahun 2014, film keduanya, Captain America: The Winter Soldier, memerankan Cap sebagai sosok yang luhur dan mau berkorban.

“Tidak semua aktor memiliki sense of camera yang memukau seperti Chris,” ungkap Joe Russo, salah satu dari Russo bersaudara yang menyutradarai dua film Captain America terakhir, lewat email pada saya. “Secara teknis, dia adalah aktor yang berbakat dan dia menggunakan keterampilan tersebut untuk membawakan sebuah nuansa pada peran Captain America,” jelas Joe.

Pada minggu pertama bulan Mei 2016, film Captain America: Civil War diluncurkan. Ini merupakan alasannya berada di Hollywood Hills melakukan sesi pemotretan untuk publikasi di saat ia seharusnya terbaring di ranjang karena flu yang dideritanya. “Sungguh lucu, karena awalnya saya sangat gugup,” kenangnya ketika diminta untuk diwawancara oleh kami. Chris berbaring di sofa kala diwawancara dan kemudian dia lebih banyak bicara apa adanya. Atau mungkin karena obat flu telah memberikan dampaknya. “Saya gugup menerima tanggung jawab dan karakter yang harus saya mainkan, tapi ternyata semuanya baik-baik saja. Saya sungguh beruntung dengan memutuskan memerankan tokoh itu dan cukup takut mengetahui akhirnya.”

Chris masih harus menjalani dua film Avengers berikutnya yang akan mengambil waktu dua tahun mendatang, yaitu ketika kisah pahlawan Marvel lainnya, Iron Man, Hulk, Thor, Black Widow dan Cap bersinggungan. Ia sangat senang melanjutkan kiprahnya di semesta Marvel ini. “Apabila mereka ingin membuat film untuk seterusnya, saya akan tetap main,” paparnya. Sepertinya, Marvel akan melakukannya. Dalam kurang dari 20 tahun ini, dari sebelumnya hampir bangkrut di dunia bisnis majalah, Marvel menjadi perusahaan multimedia dengan keuntungan sebesar jutaan dolar Amerika. Orangorang mungkin telah berhenti membeli buku komik dan mengoleksi kartu, namun dunia perfilman telah membangkitkan karakter pahlawan ke dalam film yang mendominasi box office.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.