RINALDY A. YUNARDI

Esquire (Indonesia) - - Mahb -

Saya baru saja berkesempatan memamerkan beberapa karya saya di ajang Fashion Nation, Senayan City. Pameran ini sekaligus memeringati 20 tahun saya berkarya dalam membuat ragam aksesori. Di situ saya juga sempat menjadi pembicara untuk beberapa sekolah fashion yang membahas mengenai fashion, khususnya aksesori.

Saya bukan orang yang memiliki latar belakang sekolah fashion, keluarga saya pun bukan tergolong dari kalangan yang terbilang fashionable. Saat lulus SMA, saya sempat bertemu dengan Kim Tong yang merupakan desainer baju pengantin di era 80-an. Ditawari sebagai tim marketing dalam menjual aksesori miliknya, saya jadi mengenal beragam tiara. Pada saat itu, saya hanya bertugas untuk menjual, belum membuat aksesori sendiri. Kira-kira dalam selang waktu setahun, saya memutuskan untuk keluar dan bekerja dengan kakak saya. Lalu, saya dengan tidak sengaja membuat ukiran yang menyerupai aksesori yang saya pelajari dari mendiang Kim Tong. Tidak disangka, hasil kreasi saya sangat disukai dan saya dipaksa memutuskan untuk menjadi desainer.

Tantangan untuk menjadi lebih baik lagi. Misalnya, kalau ada klien atau rekan saya yang ingin dibuatkan aksesori, saya harus dapat membayangkan keinginannya dan membuat itu terwujud. Dalam hal ini saya harus memiliki imajinasi yang luas. Yang terkadang menjadi hambatan adalah mencari material yang sesuai dengan konsep yang sudah dibuat.

Dari banyak hal. Termasuk beberapa permintaan klien. Kebetulan saya memang orang yang suka berimajinasi untuk menciptakan beberapa rancangan.

Kebanyakan aksesori yang saya buat memang untuk wanita, namun ada juga klien yang pernah meminta aksesori untuk pria.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.