EJAK KEMUNCULAN NABI ADAM, LAKI-LAKI SELALU (DI)ISTIMEWA(KAN). SELAIN DIPERCAYA SEBAGAI MANUSIA PERTAMA, LAKI-LAKI LAHIR DENGAN MENANGGUNG BEBAN BERAT UNTUK MENJADI YANG IDEAL, YANG MASKULIN. PERSOALAN INI PENTING UNTUK DIBAHAS KARENA IDENTITAS KELAKI-LAK

Esquire (Indonesia) - - Insight -

Tulisan ini akan membahas bagaimana maskulinitas itu ditantang oleh kenyataan sosial-ekonomi yang secara simbolik ‘mengkastrasi’ lelaki dari maskulinitasnya, sekaligus berargumen bahwa krisis gender dan kapitalisme menjadi salah satu faktor yeng menyebabkan kekerasan sosial politik yang terjadi akhir-akhir ini di banyak tempat di dunia, termasuk Indonesia.

Pos-maskulin adalah kondisi ketika idealisme maskulin yang dibentuk agama, negara dan budaya tak bisa diaplikasikan di kenyataan. Dia adalah konsekuensi logis dari pemberdayaan masyarakat dan demokrasi dalam sistem sosial-politik-ekonomi sebuah negara, ketika emansipasi perempuan diperlukan sebagai kekuatan ekonomi-sosial-politik, dan informasi terbuka lebar dalam membentuk identitas gender yang lebih cair baik di ranah seksualitas ataupun profesionalitas. Ekonom Ha-joon Chang mengatakan dalam bukunya, 23 Things They Don’t Tell You about Capitalism (2011), bahwa negara-negara yang memperbolehkan perempuan untuk jadi kekuatan ekonomi, secara langsung mengubah bentuk masyarakatnya. Ia memberi contoh dengan pemberdayaan ekonomi Amerika Serikat akibat penemuan mesin cuci dan masuknya perempuan ke pasar kerja di tahun 1960-an. depresi ini adalah dengan kekerasan. Di film Fight Club, misalnya, Jack (Edward Norton) menciptakan tokoh maskulin yang berlawanan dengan dirinya, Tyler Durden (Brad Pitt), dan memulai Fight Patriarki tradisional yang menunjukkan Club sebagai klab kejantanan yang perempuan murni ditempatkan di ranah perlahan menjadi gerakan terorisme. domestik, hanya mungkin dilakukan di Peneliti budaya dari UC San Diego, negara ekonomi rendah, atau negaranegara Lynn M. Ta, dalam artikelnya, “Hurt ekonomi konsumtif seperti Arab So Good: Fight Club, Masculine Violence Saudi yang pemasukan terbesarnya dari and The Crisis of Capitalism,”(2006) industri Haji dan minyak bumi serta memaparkan betapa kapitalisme telah tidak membutuhkan perempuan dalam “mengkastrasi” pria kulit putih Amerika ranah ekonomi—kecuali pekerja-pekerja dengan mengasingkan mereka dari migran seperti TKI. Sementara negara maskulinitasnya—keberdayaannya yang membutuhkan perempuan untuk sebagai manusia aktif dan kreatif. bekerja di industri dan memegang posisi Fight Club jadi contoh penting karena strategis, adalah negara-negara sekuler, di dunia nyata kita menemukan kejadiankejadian yang walaupun punya mayoritas umat serupa yang memperlihatkan beragama tapi tidak menjadikan agama hubungan kondisi pos-maskulin sebagai landasan pemerintahan dan dengan kekerasan. Di Amerika Serikat, ekonominya. muncul blog Return of Kings, oleh

Lelaki dengan krisis pos-maskulin Daryush “Roosh V” Valizadeh, yang biasanya hadir di negara industri dan mempromosikan seksisme dan kekerasan sekuler. Dalam konteks itu, laki-laki yang terhadap perempuan, serta menuntut tidak maskulin lebih dimungkinkan: agar dibuat UU supaya pria berhak seorang suami yang penghasilannya di memperkosa perempuan yang masuk bawah istri atau tidak bekerja,

pos-maskulin adalah kondisi seorang karyawan

ketika idealisme maskulin yang jomblo yang

Dibentuk agama, negara Dan merasa diperbudak pekerjaannya

budaya tak bisa Diaplikasikan dan hidupnya

Di kenyataan. tersudut, seorang lelaki homofobik yang diam-diam menyukai lelaki lain, buruh yang ke propertinya. Gerakan ini adalah memperkosa karena tidak mampu pendukung kandidat presiden Amerika mendapatkan perempuan secara santun Donald Trump yang terkenal dengan dan legal, dan banyak contoh lain yang komentar berkesan rasis dan seksis di memperlihatkan lelaki secara simbolik media massa. Ketika tulisan ini dibuat, merasa ‘dikastrasi’ dari peran sosialnya Trump sudah jadi capres tunggal dari sebagai lelaki maskulin—krisis posmaskulin partai Republican Amerika Serikat. adalah sebuah bentuk depresi. Di Cina, ada kegalauan besar

Reaksi termudah dalam menanggapi ketika melihat efek kapitalisme dan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.