Alternative

Esquire (Indonesia) - - Cover Story -

Kini ayahnya mengidap demensia. Ibunya juga mengidap penyakit yang sama. Viggo ketakutan pada kemungkinan dia akan mengidap demensia suatu hari nanti. Dia sudah mulai memikirkan untuk mengambil tes genetik. Namun kemudian apa?

Kami mengemudi di jalan pedesaan yang indah dengan pertanian di kedua sisinya. Beberapa pertanian itu akhirakhir ini dimiliki oleh ayahnya. “Dia bilang dia bangkrut. Padahal tidak. Saya katakan padanya, ‘Kamu punya semua lahan ini. Juallah kalau kamu pikir kamu bangkrut.’ Dan dia benar melakukannya.” Menjual semuanya. Kemudian dia menelepon di suatu malam dan berkata, ‘Seseorang berada di lahan properti saya, saya akan menembak mereka.’ Saya katakan padanya, ‘Kamu tidak bisa menembak mereka, kan lahan itu bukan milik kamu lagi!’”

Di jalan ponselnya berbunyi lagi. Kali ini telepon dari kekasihnya di Spanyol. Viggo pernah menikah sekali dengan penyanyi punk-rock Exene Cervenka, ibu dari putranya yang kini berumur 28 tahun, Henry Blake Mortensen, seorang aktor dan musisi. Sejak tahun 2009 dia tinggal di Madrid bersama aktris Ariadna Gil. Mengapa Madrid? “Karena saya jatuh cinta dan dia tinggal di situ.” (Setelah lulus dari St. Lawrence University pada tahun 1980, tidak jauh dari Watertown, dia pindah ke Denmark dan tinggal di situ demi seorang wanita. Dia sepertinya mau berbuat banyak demi wanita dan puisinya yang dalam itu dipenuhi dengan kisah patah hati. Pernahkah mengalami patah hati? “Pernah, lumayan sering,” ungkapnya sambil mengembuskan rokoknya.)

Kami menuruni jalan penuh kerikil menuju rumah pertanian ayahnya. “Wah bagus,” tuturnya. Dia senang melihat bunga daffodil yang ditanamnya telah bermekaran. Terdapat sebuah bathtub tua di halaman (mereka harus menggantinya dengan bathtub baru). Saya tunggu di dalam mobil. Sekitar 15 menit kemudian, dia keluar. Dia tampak sedikit tergetar. Dia meminta maaf atas kunjungan menengok ayahnya yang agak lama. Kemudian dia berkata, “Ke mari. Saya tunjukkan sedikit sisi dari ayah saya. Dia menciptakan tempat ini untuk bercengkerama dengan teman-temannya.” Viggo membawa saya ke dalam sebuah gudang gandum berwarna merah dalam propertinya dan membuka pintu yang berderik.

Ya Tuhan. Terdapat banyak bulubulu hewan di mana-mana. Beruang dengan kepala di lantai. Rusa Amerika Utara di dinding. Tanduk di manamana. Kotoran rusa yang mengering. “Ya, inilah guanya,” katanya. Dan tiba-tiba kami berdua tertawa histeris sampai kesakitan.

Kami memutuskan untuk makan siang yang terlambat, di sebuah restoran di Lake Ontario. Dia memesan sandwich tuna. Dalam perjalanan, dia bercerita tentang “obsesinya” terhadap kematian.

“Saya sering berpikir tentang kematian setiap saat,” tuturnya ketika kami sama-sama menyalakan rokok, rokoknya menyalakan rokok saya. “Maksud saya, ketika saya masih kecil, beberapa kenangan pertama yang diingat ketika saya terbangun dan bergumam, ‘Oh, saya akan mati.’” Waktu masih anak-anak? “Saya rasa tinggal di pedesaan, saya mungkin akan mempelajarinya lebih awal. Pemikiran tentang kematian. Suatu waktu, saya menyadari bahwa semua hewan akan mati, artinya saya juga akan mati .... ”

Hal itu akan membuat seseorang tertekan. “Tidak, tidak membuat saya tertekan, justru membuat saya kesal! Saya pikir itu semua omong kosong. Sebenarnya kematian itu ide siapa?” Kami pun tertawa. Dia mengembuskan napas. “Saya masih memikirkan soal kematian ketika saya terbangun. Itu adalah hal pertama yang masuk ke dalam benak saya. Namun saya pikir hal itu justru yang membuat saya ingin mencoba banyak hal kan? Seperti menulis atau melukis atau apa pun itu. Untuk merekam apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Hal itu berjalan cepat sekali.” Hal tersebut menjelaskan diari bersampul kulit yang dibawanya kemana pun dia pergi. Dia ingin “merekam kehidupannya.”

Di sebuah restoran, dia mempertanyakan waktu. (Dia tidak mengenakan jam tangan). “Lebih baik saya antar Anda kembali,” ujarnya. Sekitar 90 menit kemudian, kami menghampiri gerbang keberangkatan di bandara. Saya mulai mengucapkan “Selamat tinggal.” Namun tidak, Viggo ikut dengan saya. Jauh sebelumnya saya katakan padanya bahwa saya lupa membawa surat izin mengemudi, sehingga saya mengalami drama di Bandara Laguardia. Dia mengikuti saya hanya untuk memastikan saya mendapatkan penerbangan saya. Dia pikir mungkin dia akan mengenal salah satu agen TSA, namun ketika kami sampai di pihak keamanan, dia tidak mengenali seorang pun. Mereka pun tidak mengenalinya.

Polisi TSA ingin tahu apa yang saya lakukan di Syracuse hanya selama delapan jam. Dia pikir saya pengedar obat-obatan terlarang. Di sini, Viggo mulai tertawa. Saya katakan pada polisi bahwa saya penulis dan harus mewawancarai seseorang. “Oh.” Dia memandangi Viggo dari atas sampai bawah. “Anda memangnya terkenal, ya?”

Di balik batas pengamanan, Viggo terlihat sangat senang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.