TIP BERKUNJUNG KE YORDANIAPALESTINA-ISRAEL

Esquire (Indonesia) - - Travel -

• Persiapkan fisik dan mental karena medan yang kita datangi tidak mudah, udara yang ekstrem dan tanah yang tandus adalah contohnya. • Untuk urusan visa, gunakan jasa biro travel untuk mengurus visa Israel ketimbang harus mengurus sendiri di Singapura. • Sebaiknya minta biro travel minimal untuk menjemput kita dari bandara ke hotel, penginapan selama di Amman dan penjemputan dari Allenby Brigde menuju hotel. Karena taksi atau bus tidak didapat semudah di negara lain. • Persiapkan dana yang lebih banyak karena di Yordania, biaya lebih tinggi dibanding Palestina. • karena dollar receh di sini bisa digunakan. • Di Amman, tukar uang dolar ke mata uang JOD di dekat hotel. Karena di bandara kena fee 7 JOD sekali tukar. • karena harganya lebih murah untuk membeli sesuatu. Begitu juga ketika di Palestina, tukar uang kita ke mata uang Israel, karena untuk membeli souvenir akan dapat harga lebih murah jika kita membayar dalam mata uang lokal. • Jika berniat membeli souvenir, belilah di Palestina, karena harga souvenir di Amman sedikit lebih tinggi dibanding di Palestina. • Persiapkan pakaian sesuai dengan musimnya. • Waktu yang tepat ke Amman ataupun ke Palestina adalah sekitar pertengahan bulan Maret pertengahan karena udaranya lebih hangat dibanding antara bulan Desember-februari. wilayah Tembok Ratapan, sekitar 10-15 meter dari tembok tersebut. Kami juga mengunjungi Gereja Nativity di dalam Kota Betlehem yang dipercaya oleh tiga agama (Kristen, Yahudi dan Armenia) sebagai tempat kelahiran Yesus. Di sini, kami juga bisa melihat lantai asli gereja saat awal pembangunan.

Tak terasa sudah tiga malam kami menelusuri tanah suci Palestina. Pada hari keempat, kami meninggalkan Negara Palestina dan melanjutkan perjalanan ke Mesir. Maka kami memilih melewati jalur Taba. Dari Yerusalem menuju Taba memakan waktu tujuh jam. Hanya ada padang pasir di sekeliling perjalanan kami. Kami juga menyempatkan diri berenang di Laut Mati. Kami mencoba merasakan sensasi mengapung di air. Laut Mati mengandung 30 persen garam, sehingga sangat asin dan tidak ada makhluk hidup yang bisa hidup di dalamnya. Di situ rupanya kami tidak boleh menyelam, kami hanya diizinkan untuk terlentang, karena jangan sampai air garam itu masuk ke mata. Rasanya pedih sekali.

Setelah puas berenang, kami melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Taba-israel yang berbatasan dengan Mesir. Dalam perjalanan kami sempat melihat papan penunjuk tempat Kota Sodom dan Gomorah. Proses imigrasi dari Taba bagian Israel dan masuk menuju Mesir relatif aman. Meski sempat ada drama, paspor salah satu teman saya ditahan karena ada stempel dalam paspornya. Setiap masuk-keluar Israel saat di imigrasi, ingatkan lagi untuk tidak menstampel di bagian dalam paspor, karena biasanya stampel diberikan di kertas terpisah.

Rasanya terlalu singkat perjalanan kami. Masih banyak tempat yang sesungguhnya bisa dijelajahi. Kami masih ingin bersenda gurau dengan anak-anak di sekitar Masjid Al-aqsa. Melihat mereka tersenyum lepas dan bercanda. Mendengarkan lantunan bacaan ayat suci Alquran dengan suara merdu yang membuat kita terhanyut dan tak terasa bulir air keluar dari mata kami. Kami masih berharap suatu hari nanti dapat lebih lama lagi mengunjungi Palestina.

Ketakutan dari sebagian teman saat sebelum ke Palestina nyatanya tidak terbukti. Kami tidak melihat hal-hal yang membahayakan keselamatan kami. Jadi, saya simpulkan berlibur ke Palestina masih aman, seru dan wajib hukumnya bagi Anda, petualang sejati.

Gereja Navity

Area Masjid nabi Musa.

Tembok Ratapan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.