Jelajah Rasa di Gondangdia & Cikini Raya

Bicara soal kenangan terhadap rasa sekaligus momen kebersamaan di masa lalu memang selalu menyenangkan.

Esquire (Indonesia) - - Insight -

Tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang mengingat kembali kenangan rasa di masa lalu dari suasananya, bersama dengan siapa kita menikmatinya, hingga perjalanan menuju ke lokasi tersebut, tawa yang bergema di ruangan tempat kita menikmati hidangan bersama anggota keluarga atau pun sosok tercinta, hingga pada tiap suapan rasa yang menjadikan hidangan monumental dalam ingatan kita. Bila saya berbicara mengenai kenangan hidangan di masa lalu, maka ada sebuah lokasi, tempat yang dikunjungi oleh kaum elit yang menghuni “Kota Taman” pertama di Indonesia, yaitu Menteng, berjalan dengan penuh keanggunan, menggunakan payung berenda bagi para nyonya, topi putih dan setelan tak Teks & foto: bernoda khas meneer Belanda, di bawah teduhnya pepohonan yang rimbun menghijaukan tiap sudut jalanan. Tempat tersebut adalah daerah Gondangdia Lama atau yang lebih akrab disebut dengan Godila dan juga Cikini Raya.

Gondangdia Lama dan Cikini memiliki sejarah yang cukup panjang, sama panjangnya seperti daerah Menteng itu sendiri yang pada abad ke-18 dan ke-19 masuk sebagai wilayah tempat tinggal terbaik di Weltevreden, Batavia. Posisinya sebagai daerah pemukiman, menjadikan salah satu hal utama yang dibutuhkan adalah adanya tempat makan yang dapat mengakomodir selera para warga. Selama lebih dari satu abad, wilayah ini menjadi salah satu pusat kuliner paling tua di kota Jakarta. Beberapa nama yang melegenda hingga saat ini masih dengan tegapnya berdiri untuk memuaskan lidah pengunjung dari generasi ke generasi. Di antaranya adalah Restoran Trio di jalan Gondangdia Lama (yang sekarang bernama jalan R.P. Soeroso) bersama Bakmi Gondangdia (yang sungguh disayangkan mengalami insiden terbakarnya seluruh restoran pada tanggal 4 Desember 2014 kemarin) dan tentunya, pasar yang telah menjadi pusat berdagang dan penjaja camilan dan jajanan selama hampir satu abad lamanya, Pasar Boplo. Mengenai nama Boplo sendiri, sejarahnya dapat ditarik kembali di awal abad ke-20, dimana sebuah perusahaan pengembang property asal Belanda, N.V. Bouwploug menempati gedung yang sekarang menjadi Masjid Cut Meutia. N.V. Bouwploug adalah pendiri gedung Bataviasche Kunstkring atau yang

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.