“Saya Sekali dengan ide kamu.” “Saya bekerja di dunia .”

Esquire (Indonesia) - - Insight -

Kerap kali saya membaca atau mendengar penggunaan kata yang berasal dari bahasa asing seperti ini di tengah-tengah kalimat atau percakapan berbahasa indonesia. Terasa sungguh menggelitik. pertama, penggunaan bahasa inggrisnya tidak tepat. Jika diterjemahkan, kalimat itu akan bermakna “saya menarik sekali dengan ide kamu” dan “saya bekerja di dunia menghibur”. penggunaan bahasa asing dalam kalimat berbahasa indonesia sebenarnya wajar saja, terutama bila dalam bahasa kita sendiri tidak terdapat kata yang dianggap bisa mewakili maksud yang hendak disampaikan. Akan tetapi, jika di dalam bahasa indonesia terdapat kata yang bermakna sama, dan lawan bicara juga berbahasa indonesia, maka apa perlunya menggunakan bahasa asing? itulah persoalan yang kedua.

saya yakin bukan telinga saya saja yang “gatal” dengan kutipan di atas. reaksi yang paling umum adalah mengaitkan bahasa indonesia dengan identitas nasional indonesia, dengan nasionalisme. logikanya begini: jika memang mencintai indonesia, maka gunakanlah bahasa indonesia yang baik dan benar karena di situlah terkandung identitas kita sebagai bangsa indonesia. Jika memang cinta, tidak perlu mesin waktu untuk membayangkan mengapa bahasa indonesia masuk dalam teks sumpah pemuda 1928. Jika memang cinta, percayalah bahwa bukan tanpa alasan jika bahasa indonesia bahkan secara hukum diatur dalam undangundang Dasar 1945 pasal 36 sebagai “Bahasa Negara”. saya sendiri sungguh bangga dengan bahasa indonesia dan sedapat mungkin ingin menggunakannya secara baik dan benar. Namun, di sisi lain sebenarnya saya juga penasaran kenapa pada akhirnya bahasa yang sekarang disebut bahasa indonesia inilah yang menjadi identitas nasional kita? konon, bahasa Melayu (cikal bakal bahasa indonesia) sejak zaman kerajaan sriwijaya sudah digunakan di seantero Nusantara sebagai bahasa perdagangan. Dari sisi kepraktisan, pemilihan bahasa perdagangan tersebut sebagai bahasa persatuan memang masuk akal. Tapi, dari sudut pandang saya yang hidup di zaman ini dan tidak merasakan euforia awal masa kemerdekaan, atau hangatnya persaudaraan para pemuda Nusantara pada kongres pemuda 1928, tetap saja penjelasan sisi praktis bahasa Melayu itu belum bisa menjawab pertanyaan saya mengenai kenapa bahasa ini yang akhirnya dipilih.

Apa pun penyebabnya, saya percaya bila pemilihan bahasa sebagai identitas suatu bangsa adalah atas dasar kesepakatan kolektif orangorang yang membangun bangsa tersebut, sesuai dengan konteks zamannya. Maka bukankah sah-sah saja seandainya kini, misalnya, bangsa indonesia memutuskan bersama untuk meninggalkan bahasa indonesia dan menggantinya dengan bahasa lain sebagai identitas nasional? pasti sih tidak akan semudah itu; saya pribadi akan langsung menolaknya. Tapi jika dipikir-pikir, memang kenapa? Apa yang membuat bahasa indonesia harus terus kita pertahankan sebagai identitas nasional? sulit untuk menjawabnya dengan kepala dingin. Ada sebagian orang yang saat mendengar pertanyaan tersebut akan langsung mengambil sikap nasionalisme tingkat ekstrim. “Bahasa indonesia adalah ‘harga mati’!”, begitu reaksi yang sering kita dengar. sebagian orang lainnya akan merespons dengan berusaha menunjukkan keunggulan-keunggulan atau keindahan bahasa indonesia di atas bahasabahasa lain. Dasar argumennya adalah bahwa memang keunggulan inheren bahasa indonesialah yang menjadikannya layak sebagai identitas nasional.

saya tidak akan membahas bahasa indonesia dari sisi keunggulan yang dikandungnya. saya justru ingin melihatnya dengan cara yang lain, yaitu dengan kembali kepada dasar pemikiran bahwa pemilihan sebuah bahasa sebagai identitas nasional merupakan hasil kesepakatan kolektif para pendahulu kita yang berjuang demi mewujudkan kemerdekaan. identitas, saya analogikan seperti baju seragam, keduanya mirip dalam hal dipilih dan dipakai untuk membedakan diri para pemakainya dengan orang atau kelompok lain. untuk mencirikan siapakah “kami” dan di saat bersamaan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.